BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu kegiatan usaha (bisnis) yang dijalankan
suatu perusahaan tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik
dan manajemen. Tujuan tersebut diantaranya, untuk mencapai keuntungan yang
optimal atas usaha yang dijalankan, untuk mempertahankan kelangsungan hidup
perusahaan, untuk tetap mampu menghasilkan berbagai jenis barang/jasa, dan
untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dalam mencapai tujuan
tersebut, perusahaan membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya dan modal
yang telah ditanamkan tersebut diharapkan mendatangkan hasil yang optimal,
sehingga mampu memberikan tambahan modal (investasi baru) untuk memakmurkan
pemilik dan seluruh karyawannya.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai, manajemen
perusahaan harus mampu membuat perencanaan yang tepat dan akurat. Kemudian,
pelaksanaan di lapangan, harus dilakukan secara baik dan benar sesuai dengan
rencana yang telah disusun. Di samping itu, manajemen juga harus mampu
mengawasi dan mengendalikan kegiatan usaha yang dijalankannya apabila terjadi
penyimpangan. Kemudian, agar usaha yang dijalankan dapat dipantau
perkembangannya, setiap perusahaan harus mampu membuat catatan, pembukuan, dan
laporan terhadap semua kegiatan usahanya. Catatan, pembukuan, dan laporan
dibuat dalam suatu periode tertentu.
Pemilik dan manajemen harus mengetahui berapa
uang yang keluar dan masuk ke perusahaan dalam suatu periode tertentu. Uang
yang keluar harus dirinci penggunaannya, serta masing-masing jumlahnya.
Demikian pula dengan jenis pendapatan yang diperolehnya. Catatan keuangan
selama periode tertentu dibuat dalam bentuk laporan keuangan. Pembuatan laporan
keuangan dibuat sesuai dengan kaidah-kaidah keuangan yang berlaku agar mampu
menunjukkan kondisi dan posisi keuangan yang sesungguhnya. Laporan keuangan juga
harus dibuat sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga mudah dibaca, dipahami,
dan dimengerti oleh berbagai pihak yang berkepentingan terutama pihak pemilik
usaha dan manajemen.
Karena laporan keuangan sangat diperlukan dalam
menjalankan usaha, maka dibutuhkan seseorang yang dipercaya dalam perusahaannya
yang memiliki kemampuan dalam mengolah angka – angka menjadi hasil yang
diharapkan atau sekarang lebih dikenal dengan nama Akuntansi. Akuntansi adalah
media komunikasi, oleh karena itu sering disebut sebagai “Bahasa Dunia Usaha” (Bussiness
Language).
Kondisi
keuangan perusahaan dapat diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang
bersangkutan yang terdiri dari neraca, laporan perhitungan Rugi Laba serta
laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisis terhadap pos-pos
neraca akan dapat diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya. Sedangkan
analisis terhadap laporan Rugi Laba akan dapat memberikan gambaran tentang
hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.
Dewasa ini peran akuntansi sebagai alat pembantu
dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin besar dalam membantu
melancarkan kinerja perusahaan. Apalagi yang berhubungan langsung dengan
Laporan Keuangan suatu perusahaan yang memperoleh laba sesuai dengan harapan
atau lebih dari yang diharapkan. Karena perkembangan bidang perekonomian
tersebutlah yang menyebabkan peran akuntansi semakin meningkat, dan peningkatan
bidang-bidang tersebut menuntut adanya akuntansi yang dapat memberikan informasi keuangan yang
dibutuhkan dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi atau dikenal dengan
akuntansi keuangan.
Agar kita lebih mengetahui tentang akuntansi
keuangan, maka kita harus mempelajari dahulu apa saja konsep dasar dari
akuntansi keuangan. Dimana, terdiri dari asumsi-asumsi dan prinsip-prinsio
akuntansi keuangan. Prinsip akuntansi yang berlaku diterapkan melalui berbagai
metode dan prosedur. Lalu dilanjutkan dengan mempelajari laporan keuangan.
Karena akuntansi keuangan digunakan untuk menyiapkan informasi akuntansi untuk
orang di luar organisasi dan perusahaan atau yang tidak terlibat di dalam
menjalankan perusahaan tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam makalah ini
adalah sebagai berikut:
- Bagiamana hubungan antara tujuan laporan keuangan, asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, dan laporan keuangan ?
- Bagaimana cara penyusunan laporan keuangan ?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan uraian
dan rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah adalah untuk :
- Mengetahui hubungan antara tujuan laporan keuangan, asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, serta laporan keuangan.
- Mengetahui cara penyusunan laporan keuangan.
1.4 Metodelogi Penulisan
Dalam
menyusun makalah ini, digunakan metode telaah pustaka atau literature.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pelaporan Keuangan dan Laporan Keuangan
Pelaporan
keuangan meliputi laporan keuangan dan cara-cara lain untuk melaporkan
informasi. Dengan demikian, pelaporan keuangan mempunyai pengertian yang lebih
luas dari laporan keuangan. Apabila laporan keuangan terdiri dari neraca,
laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan perubahan posisi
keuangan, maka dalam pelaporan keuangan termasuk juga prospektus, peramalan
oleh manajemen dan lain sebagainya. Laporan keuangan merupakan unsur utama
pelaporan keuangan. Maka, tujuan laporan keuangan akan sama dengan tujuan
pelaporan keuangan.
2.2 Tujuan Laporan Keuangan
Di
dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) nomor satu dinyatakan
bahwa pelaporan keuangan harus menyajikan informasi sebagai berikut :
a. Memberikan
informasi keuangan suatu perusahaan pada
periode tertentu kepada pemakai laporan keuangan dalam membuat keputusan untuk investasi, pemberian
kredit dan keputusan lainnya.
b. Dapat
membantu pemakai laporan keuangan untuk menaksir jumlah, waktu, dan
ketidakpastian dari penerimaan uang di masa yang akan datang yang berasal dari
dividen atau bunga dan dari penerimaan uang yang berasal dari penjualan,
pelunasan, atau jatuh temponya surat-surat berharga atau pinjaman-pinjaman.
c. Menunjukkan
sumber-sumber ekonomi dari suatu perusahaan, klaim atas sumber-sumber tersebut,
dan pengaruh dari transaksi-transaksi, kejadian dan keadaan yang mempengaruhi sumber-sumber
ekonomi dan klaim atas sumber-sumber tersebut.
2.3 Tujuan Umum dan Tujuan Kualitatif
Dalam
Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984, tujuan akuntansi keuangan dan laporan
keuangan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu: tujuan umum dan tujuan kualitatif.
A. Tujuan
Umum
Tujuan umum laporan
keuagan dapat dinyatakan sebagai berikut:
1) Untuk
memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber-sumber
ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
2) Untuk
memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam
sumber-sumber ekonomi netto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang
timbul dari aktivitas-aktivitas usaha dalam rangka memperoleh laba.
3) Untuk
memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam
mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4) Untuk
memberikan informasi penting lainnya mengenai aktivitas pembelanjaan dan
penanaman.
5) Untuk
memberikan informasi lain, seperti informasi mengenai kebijaksanaan akuntansi
yang digunakan perusahaan.
B. Tujuan
Kualitatif
Tujuan informasi
keuangan terdiri dari :
1) Relevan
Relevansi suatu
informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Bila informasi tidak
relevan untuk keperluan para pengambil keputusan, informasi tersebut tidak ada
gunanya. Suatu informasi memenuhi tujuan relevansi bila menggunakan
metode-metode pengukuran dan pelaporan akuntansi keuangan yang akan membantu
para pemakai laporan keuangan dalam pengambilan
keputusan yang memerlukan penggunaan data akuntansi keuangan.
2) Dapat
Dimengerti
Informasi
harus dapat dimengerti oleh pemakainya dan dinyatakan dengan istilah yang
sesuai dengan batas pengertian para pemakai laporan.
3) Daya
uji
Suatu informasi
keuangan harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen
dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
4) Netral
Informasi harus
diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak bergantung pada kebutuhan dan
keinginan pihak-pihak tertentu.
5) Tepat
waktu
Informasi harus
disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu
dalam pengambilan keputusan ekonomi dan menghindari tertundanya pengambilan
keputusan tersebut.
6) Daya
banding
Informasi dalam laporan
keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan
periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan
perusahaan-perusahaan lainnya pada periode yang sama.
7) Lengkap
Informasi akuntansi keuangan harus
memenuhi keenam tujuan kualitatif di atas yang dapat juga diartikan sebagai
pemenuhan stadar pengungkapan yang memadai dalam pelaporan keuangan.
2.4 Asumsi dan Konsep Dasar
Di
dalam menyusun prinsip akuntansi, digunakan asumsi-asumsi dan konsep-konsep
dasar tertentu.
2.4.1 Asumsi
Ada
beberapa asumsi dasar yang mendasari strtuktur akuntansi, yaitu :
a) Kesatuan
usaha khusus (separate entity/economic entity)
Dalam hal ini, perusahaan dipandang
sebagai unit usaha yang berdiri sendiri, terpisah dari pemiliknya. Sehingga,
transaksi- transaksi perusahaan dipisahkan dari transaksi- transaksi pemilik
dan semua pencatatan serta laporam dibuat untuk perusahaan tanpa menggabungkan
transaksi pemilik perusahaan.
b) Kontinuitas
Usaha (Going Corner/Continuity)
Dalam hal ini,
suatu perusahaan diharapkan tidak akan terjadi likuiditas di masa yang
akan datang. Sehingga akan tersedia cukup waktu bagi suatu perusahaan untuk
menyelesaikan usaha, kontrak, dan perjanjian.
c) Penggunaan
Unit Moneter dalam Pencatatan
Beberapa transaksi yang terjadi pada perusahaan
dapat dicatat dengan unit moneter. Unit moneter yang digunakan adalah mata uang
dari negara dimana perusahaan itu berdiri. Dalam pencatatan transaksinya,
menggunakan ukuran mata uang pada saat terjadinya suatu transaksi atau disebut
pencatatan yang didasarkan pada biaya historis.
d) Periode
Waktu (Time-Period/Periodecity)
Kegiatan perusahaaan berjalan terus dari periode
yang satu ke periode yang lain dengan volume dan laba yang berbeda.
Laporan-laporan keuangan ini harus dibuat tepat pada waktunya, agar berguna
bagi manajemen dan kreditur. Oleh karena itu perlu dilakukan alokasi ke periode-periode
untuk transaksi- transaksi yang mempengaruhi beberapa periode dengan
taksiran-taksiran.
2.4.2 Konsep Dasar
Konsep
dasar yang mendasari penyusunan prinsip akuntansi, yaitu :
a)
Prinsip Biaya Historis (Historical Cost
Principle)
Prinsip
ini menggunakan harga perolehan dalam pencatatan aktiva, utang, modal, dan
biaya. Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang
disetujui oleh kedua belah pihak yaitu antara pihak perusahaan dan pihak
ekstern.
b)
Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue
Recognition Principle)
Pendapatan adalah aliran masuk aktiva yang timbul
dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama
periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan
adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan
dengan pihak yang terkait.
Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya
penjualan barang atau jasa yaitu pada saat ada kepastian mengenai besarnya
pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima.
c)
Prinsip Mempertemukan (Matching
Principle)
Prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya
dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut berguna untuk menentukan
besarnya penghasilan bersih setiap periode. Penerapan prinsip ini juga
mengalami beberapa kesulitan, yaitu dalam hal biaya-biaya yang tidak mempunyai
hubungan yang jelas dengan pendapatan, seperti biaya administrasi dan umum.
Sedangkan, biaya produksi seperti biaya bahan baku, upah langsung dan biaya
produksi tidak langsung mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan.
d)
Prinsip Konsistensi (Consistency
Principle)
Dalam membandingkan laporan keuangan tiap tahunnya
dapat digunakan metode dan prosedur-prosedur yang harus diterapkan secara
konsisten dari tahun ke tahun. Konsistensi tidak dimaksudkan sebagai larangan penggantian metode karena
masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai.
e)
Prinsip Pengungkapan Lengkap (Full
Disclousure Principle)
Yaitu menyajikan informasi yang lengkap dalam
laporan keuangan. Karena informasi yang disajikan merupakan ringkasan dari
transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari
rekening-rekening tertentu.
2.5 Keterbatasan Laporan Keuangan
Laporan
keuangan yang dihasilkan mempunyai beberapa keterbatasan, yaitu :
a)
Cukup Berarti (Materiality)
Dalam
pembuatan batasan terhadap istilah “cukup berarti”, suatu laporan, fakta, atau
elemen dianggap sifatnya akan mempengaruhi atau menyebabkan timbulnya perbedaan
dalam pengambilan suatu keputusan. Apabila laporan, fakta, atau elemen tidak
mempengaruhi atau menyebabkan timbulnya perbedaan dalam pengambilan keputusan,
maka jumlahnya tidak cukup berarti.
Ada
dua aspek yang dapat digunakan untuk dapat menentukan cukup berarti atau
tidaknya laporan keuangan, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.
b)
Konservatif
Konservatif
merupakan sikap yang diambil oleh akuntan dalam menghadapi beberapa alternatif
dalam penyusunan laporan keuangan. Apabila lebih dari satu alternative
tersedia, maka sikap konservatif ini lebih cenderung memilih alternative yang
akan membuat aktiva dan pendapatan lebih rendah. Disamping memilih jumlah yang
rendah, sikap konservatif ini juga mengatur kenaikan nilai aktiva dan laba yang
diharapkan.
c)
Sifat khusus suatu industri
Industri
yang mempunyai sifat-sifat khusus memerlukan prinsip akuntansi yang berbeda
dengan industri lainnya. Hal ini, dikarenakan adanya peraturan dari pemerintah
terhadap industri khusus yang mengakibatkan adanya prinsip-prinsip akuntansi
tertentu.
2.6 Pengertian Laporan Keuangan
Laporan
keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan transaksi-transaksi
keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini
dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas
yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan dan untuk memenuhi
tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan.
2.6.1 Susunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan yang
disusun oleh manajemen terdiri dari neraca, laporan rugi laba, laporan
perubahan modal, dan laporan perubahan posisi keuangan.
2.6.1.1 Neraca
Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan
keuangan suatu unit usaha pada periode tertentu. Keadaan keuangan ini
ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut dengan aktiva dan
jumlah kewajiban perusahaan yang disebut dengan pasiva. Di dalam neraca, jumlah
aktiva dan pasiva akan sama besar, dimana pasiva terdiri dari dua golongan
kewajiban yaitu kewajiban kepada pihak luar yang disebut utang dan kewajiban
terhadap pemilik perusahaan yang disebut dengan modal. Bila disusun dalam
bentuk persamaan, maka akan tampak seperti di bawah ini:
Aktiva =
Utang + Modal
Dalam pengertian aktiva, selain barang-barang dan
hak-hak yang dimiliki, di dalamnya termasuk juga biaya-biaya yang belum
dibebankan dalam periode yang bersangkutan, tetapi akan dibebankan pada periode
yang akan datang. Oleh karena itu, di dalam judul aktiva akan termasuk juga
pos-pos kas, tagihan-tagihan, surat-surat berharga (merupakan sumber uang) dan
pengeluaran-pengeluaran yang akan memberi manfaat di masa yang akan datang,
sehingga pembebanannya juga ditunda seperti aktiva tetap, hak paten dan
persekot-persekot biaya.
Utang merupakan milik kreditur yang ditanamkan dalam
perusahaan dan jumlahnya merupakan kewajiban perusahaan yang harus dilunasi.
Cara pelunasan utang ini bisa dibayar dengan uang, barang dan jasa.
Modal
menunjukkan jumlah yang ditanamkan para pemilik dalam perusahaan. Jumlah ini
timbul dari setoran para pemilik dan perubahan-perubahan nilai aktiva-aktiva
yang terjadi karena hasil usaha perusahaan. Elemen-elemen dalam neraca
dikelompokkan dengan tujuan untuk memudahkan analisa. Biasanya aktiva dan utang
akan dikelompokkan dalam kelompok lancar (jangka pendek) dan tidak lancar (tetap).
A.
Penggolongan Aktiva, Utang, dan Modal
Susunan aktiva dan pasiva di dalam neraca adalah
sebagai berikut :
Harta-harta
/ aktiva terdiri dari aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap
berwujud, aktiva tetap tidak berwujud, aktiva / harta lainnya. Utang-utang
terdiri dari utang lancar, pendapatan yang diterima di muka, utang-utang jangka
panjang, utang-utang lain. Modal terdiri dari modal saham yang disetor,
agio/disagio saham, cadangan-cadangan, laba tidak dibagi. Masing-masing
golongan diatas akan diuraikan sebagai berikut:
I.
Aktiva adalah manfaat ekonomis di masa yang
akan datang yang diharapkan akan diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil
dari transaksi-transaksi di masa lalu. Aktiva dibagi menjadi 4 yaitu:
a. Aktiva
lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva lain atau sumber-sumber yang
direalisasi selama siklus usaha perusahaan yang normal (1 tahun).
Di dalam neraca,
aktiva lancar akan disusun dalam urut-urutan likuiditas. Elemen-elemen yang
termasuk dalam golongan aktiva lancar, ialah :kas, surat-surat berharga
(investasi jangka pendek), piutang dagang dan piutang wesel, piutang pegawai,
piutang angsuran, persediaan barang dagangan, biaya-biaya dibayar di muka yang
jangka waktunya tidak lebih dari 1 tahun.
b.
Investasi jangka panjang merupakan
aktiva tidak lancar yang di dalamnya termasuk beberapa macam investasi yang
bisa berbentuk obligasi, penyisihan dana, dan investasi jangka panjang.
Elemen-elemen yang masuk dalam investasi jangka panjang, ialah: Investasi
jangka pnjang dalam surat-surat berharga, investasi dalam bentuk uang muka
jangka panjang, investasi dalam bentuk aktiva tetap berwujud, penyisihan dana untuk tujuan jangka panjang, Cash
surrender value dari polis asuransi jiwa.
c. Aktiva
Tetap Berwujud
Aktiva
tetap berwuwjud merupakan aktiva-aktiva yang dapat digunakan lebih dari satu
periode, seperti tanah, gedung-gedung, dll. Cara mencantumkan di dalam neraca
dimulai dari yang paling tetap (paling panjang umurnya), disusul dengan yang
lebih pendek umurnya. Untuk aktiva tetap yang di depresiasi, maka di neraca
harus ditunjukkan harga perolehan dan akumulasi depresiasinya.
d.
Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Dalam
hal ini akan dilaporkan hak-hak jangka panjang yang sifatnya tidak berwujud
yang dimiliki oleh perusahaan seperti goodwill, hak paten, merek dagang, hak
cipta, dll. Dalam kelompok ini termasuk juga saldo dari pengeluaran-pengeluaran
yang belum diakui sebagai biaya, tetapi pembebanannya ditunda, seperti biaya
pendirian perusahaan (organization cost).
e. Aktiva
/ Harta Lain-lain
Aktiva
lain-lain dipakai untuk melaporkan aktiva-aktiva yang tidak dapat dimasukkan
dalam kelompok-kelompok lain, seperti titipan kepada penjual untuk menjamin
kontrak, bangunan dalam pengerjaan, dll.
II.
Utang-utang dan Modal Sendiri
Utang
adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang akan timbul di masa yang akan datang
disebabkan oleh kewajiban-kewajiban di masa sekarang dari suatu badan usaha
yang akan dipenuhi dengan mentransfer aktiva atau memberikan jasa kepada badan
usaha lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi-transaksi yang sudah
lalu.
Modal sendiri adalah hak milik sisa
(residual interest) dalam aktiva suatu badan usaha yang tersisa sesudah
dikurangi utang. Dalam suatu badan usaha, modal sendiri adalah hak dari
pemilik.
Utang
dibagi menjadi 2, yaitu:
a.
Utang lancar / utang jangka pendek
adalah utang-utang yang pelunasannya akan memerlukan penggunaan sumber-sumber
yang digolongkan dalam aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang yang baru.
Yang termasuk golongan utang lancar adalah :Utang dagang, Utang wesel, Taksiran
utang pajak, Utang biaya, Utang-utang lain yang akan dibayar dalam waktu 12
bulan.
b.
Pendapatan Diterima di Muka
Yang
dilaporkan dalam pendapatan diterima di muka adalah penerimaan-penerimaan yang
tidak merupakan pendapatan untuk periode yang bersangkutan.
Penerimaan-penerimaan semacam ini akan tetap dilaporkan sebagai pendapatan diterima
di muka sampai saat di mana penerimaan tadi dapat diakui sebagai pendapatan.
c.
Utang Jangka Panjang
Dalam
hal ini dilaporkan utang-utang yang pelunasannya tidak menggunakan
sumber-sumber yang digolongkan sebagai aktiva lancar. Bagian dari utang jangka panjang yang jatuh
tempo dan akan dilunasi dalam waktu 12 bulan.
d.
Utang Lain-lain
Misalnya
utang obligasi yang akan jatuh tempo tetapi akan dilunasi dari dana pelunasan
obligasi. Utang-utang yang timbul karena aktivitas di masa lalu disebut
utang-utang yang belum pasti (contingent liability). Utang-utang seperti ini
ditunjukkan dalam neraca dengan catatan kaki. Yang termasuk utang-utang yang
belum pasti misalnya piutang wesel didiskontokan.
e.
Modal sendiri adalah perbedaan antara
aktiva dengan utang dan merupakan kewajiban perusahaan kepada pemilik. Dalam
perusahaan perseorangan, modal ditunjukkan dalam satu rekening yang diberi nama
modal. Dalam perusahaan yang berbentuk firma, modal ditunjukkan dalam rekening
modal masing-masing anggota. Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, modal
ditunjukkan dengan rekening modal yang terdiri dari beberapa elemen sebagai
berikut :
(a) Modal disetor adalah jumlah uang yang
disetorkan oeh pemegang saham dan biasanya dibagi dalam 2 kelompok, yaitu : Modal saham dan Agio/Disagio saham.
(b) Laba Tidak Dibagi
Laba
tidak dibagi merupakan laba tahun-tahun sebelumnya yang tidak dibagi sebagai
dividen. Laba tidak dibagi merupakan elemen modal yang berasal dari dalam
perusahaan. Apabila laba tidak dibagi saldonya debit, biasanya disebut defisit.
(c) Modal Penilaian Kembali
Apabila diadakan penilaian kembali
terhadap aktiva-aktiva perusahaan, maka selisih antara nilai buku lama denga
nilai buku yang baru dicatat sebagai modal penilaian kembali. Di dalam neraca,
modal penilaian kembali dilaporkan dalam kelompok modal dan dijumlahkan dengan
elemen-elemen modal yang lain.
(d) Modal Sumbangan
Modal sumbangan timbul apabila
perusahaan memperoleh aktiva yang berasal dari sumbangan. Di dalam neraca modal
sumbangan dilaporkan dalam kelompok modal dan dijumlahkan dengan elemen-elemen
modal yang lain.
(e) Modal Lain-lain
Dalam kelompok ini dilaporkan modal
perusahaan yang tidak dapat dimasukkan dalam salah satu kelompok di atas.
B.
Bentuk Neraca
Neraca dapat disusun dalam
beberapa bentuk yang berbeda,diantaranya adalah:
a)
Bentuk rekening T, dimana aktiva disusun
dibagain kiri, pasiva disusun di bagian kanan dan dibagi menjadi 2 kelompok,
yaitu utang dan modal.
b)
Bentuk laporan, dimana aktiva, utang,
dan modal disusun dengan urutan ke bawah (vertikal). Perincian terhadap
masing-masing kelompok baik aktiva, pasiva maupun utang dilakukan dengan cara
yang sama seperti dalam neraca bentuk rekening T.
2.6.1.2 Laporan Rugi Laba
Laporan rugi laba adalah suatu
laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari unit usaha
pada periode tertentu. Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba atau
rugi yang dialami oleh perusahaan. Laporan rugi laba digunakan sebagai alat
untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah
laba atau rugi yang didapat dalam suatu periode.
Komponen-komponen yang terdapat dalam laporan rugi
laba antara lain:
1. Pendapatan
(Revenue)
Aliran
masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha selama suatu periode yang
berasal dari kegiatan utama badan usaha.
2. Biaya
(Expense)
Aliran
ke luar atau pemakaian lain aktiva suatu periode yang berasal dari kegiatan
utama badan usaha.
3. Penghasilan
(Income)
Selisih
penghasilan sesudah dikurangi biaya. Bila pendapatan lebih kecil daripada
biaya, selisihnya disebut rugi.
4. Laba
(Gain)
Kenaikan
modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang
jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian
lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul
dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.
5. Rugi
(Loss)
Penurunan
modal (aktiva bersih) dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi
dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang
mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya
atau distribusi pada pemilik.
6. Harga
Perolehan (Cost)
Jumlah
uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memeperoleh barang atau
jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva.
A. Susunan
Laporan Rugi Laba
Dalam prinsip akuntansi Indonesia disebutkan:
a) Perhitungan
rugi laba perusahaan harus disusun sedemikian rupa agar dapat memberikan
gambaran mengenai hasil usaha perusahaan dalam periode tertentu.
b) Cara
penyajian perhitungan rugi-laba adalah sebagai berikut:
1) Harus
memuat secara terperinci unsur-unsur pendapatan dan beban.
2) Semua
disusun dalam bentuk urutan ke bawah (stafel).
3) Harus
dipisahkan antara hasil dari bidang usaha lain serta pos luar biasa.
Urutan
yang biasa dibuat dalam laporan rugi-laba bentuk stafel adalahh sebagai
berikut:
i.
Hasil penjualan atau pendapatan jasa
ii.
Harga pokok penjualan
iii.
Biaya-biaya usaha
Biaya-biaya
usaha dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a. Biaya
penjualan terdiri dari:
-
Gaji dan komisi salesman
-
Advertensi
-
Bahan pembantu untuk bagian penjualan
atau took
-
Depresiasi aktiva tetap bagian penjualan
atau took
-
Depresiasi alat pengagkutan penjualan,
dan
-
Semua biaya yang berhubungan dengan
bagian penjualan
b. Biaya
administrasi dan umum, terdiri dari:
-
Gaji pimpinan dan pegawai kantor
-
Bahan pembantu untuk kantor
-
Depresiasi aktiva tetap kantor
-
Telepon, perangko, sumbangan, dll.
iv.
Pendapatan dan biaya lain-lain
v.
Pos luar biasa
vi.
Pengaruh kumulatif dari perubahan
prinsip akuntansi
vii.
Pajak penghasilan
viii.
Masalah tentang laba atau rugi yang luar
biasa
Dari
prinsip di atas, jelas bahwa di dalam laporan rugi laba akan termasuk semua
elemen-elemen pendapatan dan biaya, baik yang biasa terjadi maupun yang jarang
terjadi. Laporan rugi laba yang memasukkan elemen-elemen yang biasa terjadi dan
luar biasa disebut laporan rugi laba all inclusive. Sedangkan laporan rugi laba
yang hanya berisi elemen-elemen yang biasa terjadi dan tidak termasuk elemen-elemen
yang luar biasa disebut laporan rugi laba current operating performance, di
mana elemen-elemen yang luar biasa akan dilaporkan dalam laporan laba tidak
dibagi.
B. Bentuk
laporan Rugi-Laba
Laporan rugi – laba dapat disusun dalam dua bentuk
yaitu:
a.
Multiple Step ( Bertahap ) adalah laporan laba rugi dengan mengelompokkan atau memisahkan
antara pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, dan memisahkan pula
antara beban usaha dan beban di luar usaha, baru kemudian dicari selisihnya
sehingga akan diperoleh laba atau rugi usaha.
Adapun
rinciannya adalah: Laba bruto, Penghasilan usaha bersih, Penghasilan bersih
sebelum pajak, Penghasilan bersih sesudah pajak, Penghasilan bersih dan elemen
– elemen luar biasa.
a.
Single Step adalah laporan laba rugi di mana semua pendapatan dijumlahkan
menjadi satu, demikian juga untuk bebannya, kemudian dicari selisihnya untuk
mengetahui laba atau rugi.
C. Alokasi
Pajak
Pajak
penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang diperoleh mengurangi
penghasilan dalam laporan rugi – laba. Karena penghasilan dalam suatu periode
itu terdiri dari dua unsur yaitu penghasilan usaha yang rutin dan penghasilan
luar biasa. Di dalam laporan rugi – laba dipakai susunan all inclusive,
sehingga semua beban PPh dimasukkan ke dalam laporan rugi – laba. Apabila kedua jenis penghasilan tersebut
jumlahnya positif, beban pajaknya akan dialokasikan dengan perbandingan jumlah
penghasilan. Tetapi bila salah satu penghasilan tersebut jumlahnya negatif (
rugi ), maka penghasilan yang positif akan dibebani dengan pajak yang lebih
besar dari yang sesungguhnya.
Laporan
rugi – laba dapat juga disusun dengan susunan current operating performance, di
mana elemen – elemen tidak biasa tidak masuk di dalamnya tetapi dilaporkan
dalam laporan laba tidak dibagi. Oleh karena itu beban PPhnya juga dialokasikan
pada kedua laporan tersebut.
Pajak
penghasilan yang dibebankan ke dalam laporan rugi – laba harus dipisahkan
perhitungannya dengan utang pajak yang akan dilaporkan dalam neraca, karena PPh
yang menjadi beban dalam laporan rugi – laba merupakan hasil perkalian antara
tarif pajak dengan keuntungan. Sedangkan utang pajak termasuk beban pajak untuk
tahun – tahun sebelumnya di mana beban -
beban pajak ini harus dibebankan pada laporan laba tidak dibagi.
2.6.1.3 Laporan Perubahan Modal
Selain penyusunan neraca dan laporan rugi laba,
suatu perusahaan dengan bentuk perseroan juga menyusun laporan yang menunjukan
sebab – sebab perubahan modal perusahaan. Perubahan modal dari suatu perusahaan
perseroan tersebut ditunjukan di dalam laporan laba tidak dibagi ( retained
earnings ). Di dalam laporan ini ditunjukkan laba awal periode di tambah atau
dikurangi dengan rugi atau laba dikurangi deviden periode bersangkutan.
2.6.1.4 Laporan Perubahan Posisi Keuangan (Statement of Changes in Financial Position)
Laporan perubahan posisi keuangan
berguna untuk meringkas kegiatan-kegiatan pembelajaan dan investasi yang
dilakukan oleh perusahaan, termasuk jumlah dana yang dihasilkan dari kegiatan
usaha perusahaan dalam tahun buku yang bersangkutan dan melengkapi penjelasan
tentang perubahan-perubahan dalam posisi keuangan selama tahun yang
bersangkutan.
Laporan perubahan posisi keuangan
dapat disusun berdasarkan perubahan-perubahan kas atau ekuivalennya, atau dapat
juga berdasarkan perubahan-perubahan dalam modal kerja neto (net working
capital) atau aktiva lancar dikurangi utang lancar. Apabila dasarnya adalah
perubahan-perubahan dalam modal kerja neto, maka disebut all financial
resources concept. Walaupun laporan ini didasarkan pada perubahan dalam modal
kerja neto, aktivitas pembelanjaan atau investasi yang penting harus
ditunjukkan meskipun tidak mempengaruhi modal kerja. Isi laporan perubahan posisi keuangan biasanya dipisahkan menjadi 2
bagian, yaitu yang menunjukkan sumber-sumber dan bagian yang menunjukkan
penggunaan dana.
2.6.1.5 Laporan Aliran Kas (Statement of Cash Flows)
Laporan aliran kas bertujuan untuk
menyajikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu
perusahaan selama suatu periode. Untuk mencapai tujuan ini, aliran kas
diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang berbeda yaitu penerimaan dan
pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi, pembelanjaan (financing),
dan kegiatan usaha. Untuk menyusun laporan aliran kas, perusahaan dapat
menggunakan metode langsung atau tidak langsung.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1.
Hubungan antara tujuan laporan keuangan,
asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, serta laporan
keuangan ialah saling berkaitan di dalam pelaporan keuangan. Di dalam membuat
laporan keuangan pasti memiliki suatu tujuan. Dimana tujuan laporan keuangan
tersebut dapat berguna bagi perusahaan, investor, dan kreditur. Selain itu,
juga terdapat tujuan umum dan tujuan kualitatif. Dimana kedua tujuan tersebut
dapat memberikan informasi keuangan kepada internal perusahaan dengan asumsi
dan konsep-konsep dasar yang merupakan pedoman dalam menyusun prinsip
akuntansi. Dengan prinsip akuntansi tersebut dapat menentukan metode dan
prosedur sebagai dasar dalam penyusuna laporan keuangan.
2.
Penyusunan laporan keuangan dilakukan
dengana cara menguraikan isi dan menyusun masing-masing laporan keuangan yang
terdiri dari laporan neraca, laporan Rugi Laba, dan laporan perubahan modal.
3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini,
diharapkan kepada para pembaca agar dapat memahami konsep dasar sebelum
mempelajari akuntansi keuangan agar dapat menyusun laporan keuangan dengan baik
dan benar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
DAFTAR PUSTAKA
Intermediate
Accounting oleh Zaki Baridwan
-->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar