Baby Hello Kitty -->

Selasa, 01 Juli 2014

KONSEP DASAR DAN LAPORAN KEUANGAN



BAB I

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Suatu kegiatan usaha (bisnis) yang dijalankan suatu perusahaan tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik dan manajemen. Tujuan tersebut diantaranya, untuk mencapai keuntungan yang optimal atas usaha yang dijalankan, untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, untuk tetap mampu menghasilkan berbagai jenis barang/jasa, dan untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Dalam mencapai tujuan tersebut, perusahaan membutuhkan modal untuk menjalankan usahanya dan modal yang telah ditanamkan tersebut diharapkan mendatangkan hasil yang optimal, sehingga mampu memberikan tambahan modal (investasi baru) untuk memakmurkan pemilik dan seluruh karyawannya.
Agar tujuan tersebut dapat tercapai, manajemen perusahaan harus mampu membuat perencanaan yang tepat dan akurat. Kemudian, pelaksanaan di lapangan, harus dilakukan secara baik dan benar sesuai dengan rencana yang telah disusun. Di samping itu, manajemen juga harus mampu mengawasi dan mengendalikan kegiatan usaha yang dijalankannya apabila terjadi penyimpangan. Kemudian, agar usaha yang dijalankan dapat dipantau perkembangannya, setiap perusahaan harus mampu membuat catatan, pembukuan, dan laporan terhadap semua kegiatan usahanya. Catatan, pembukuan, dan laporan dibuat dalam suatu periode tertentu.
Pemilik dan manajemen harus mengetahui berapa uang yang keluar dan masuk ke perusahaan dalam suatu periode tertentu. Uang yang keluar harus dirinci penggunaannya, serta masing-masing jumlahnya. Demikian pula dengan jenis pendapatan yang diperolehnya. Catatan keuangan selama periode tertentu dibuat dalam bentuk laporan keuangan. Pembuatan laporan keuangan dibuat sesuai dengan kaidah-kaidah keuangan yang berlaku agar mampu menunjukkan kondisi dan posisi keuangan yang sesungguhnya. Laporan keuangan juga harus dibuat sesuai dengan aturan yang berlaku sehingga mudah dibaca, dipahami, dan dimengerti oleh berbagai pihak yang berkepentingan terutama pihak pemilik usaha dan manajemen.
Karena laporan keuangan sangat diperlukan dalam menjalankan usaha, maka dibutuhkan seseorang yang dipercaya dalam perusahaannya yang memiliki kemampuan dalam mengolah angka – angka menjadi hasil yang diharapkan atau sekarang lebih dikenal dengan nama Akuntansi. Akuntansi adalah media komunikasi, oleh karena itu sering disebut sebagai “Bahasa Dunia Usaha” (Bussiness Language).
Kondisi keuangan perusahaan dapat diketahui dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan yang terdiri dari neraca, laporan perhitungan Rugi Laba serta laporan-laporan keuangan lainnya. Dengan mengadakan analisis terhadap pos-pos neraca akan dapat diperoleh gambaran tentang posisi keuangannya. Sedangkan analisis terhadap laporan Rugi Laba akan dapat memberikan gambaran tentang hasil atau perkembangan usaha perusahaan yang bersangkutan.
Dewasa ini peran akuntansi sebagai alat pembantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan keuangan semakin besar dalam membantu melancarkan kinerja perusahaan. Apalagi yang berhubungan langsung dengan Laporan Keuangan suatu perusahaan yang memperoleh laba sesuai dengan harapan atau lebih dari yang diharapkan. Karena perkembangan bidang perekonomian tersebutlah yang menyebabkan peran akuntansi semakin meningkat, dan peningkatan bidang-bidang tersebut menuntut adanya akuntansi  yang dapat memberikan informasi keuangan yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi atau dikenal dengan akuntansi keuangan.
Agar kita lebih mengetahui tentang akuntansi keuangan, maka kita harus mempelajari dahulu apa saja konsep dasar dari akuntansi keuangan. Dimana, terdiri dari asumsi-asumsi dan prinsip-prinsio akuntansi keuangan. Prinsip akuntansi yang berlaku diterapkan melalui berbagai metode dan prosedur. Lalu dilanjutkan dengan mempelajari laporan keuangan. Karena akuntansi keuangan digunakan untuk menyiapkan informasi akuntansi untuk orang di luar organisasi dan perusahaan atau yang tidak terlibat di dalam menjalankan perusahaan tersebut.

1.2       Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagiamana hubungan antara tujuan laporan keuangan, asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, dan laporan keuangan ?
  2. Bagaimana cara penyusunan laporan keuangan ?

1.3       Tujuan Penulisan

Berdasarkan uraian dan rumusan masalah, maka tujuan penulisan makalah adalah untuk :
  1. Mengetahui hubungan antara tujuan laporan keuangan, asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, serta laporan keuangan.
  2. Mengetahui cara penyusunan laporan keuangan.

1.4       Metodelogi Penulisan

Dalam menyusun makalah ini, digunakan metode telaah pustaka atau literature.























BAB II

PEMBAHASAN


2.1       Pelaporan Keuangan dan Laporan Keuangan

Pelaporan keuangan meliputi laporan keuangan dan cara-cara lain untuk melaporkan informasi. Dengan demikian, pelaporan keuangan mempunyai pengertian yang lebih luas dari laporan keuangan. Apabila laporan keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan perubahan posisi keuangan, maka dalam pelaporan keuangan termasuk juga prospektus, peramalan oleh manajemen dan lain sebagainya. Laporan keuangan merupakan unsur utama pelaporan keuangan. Maka, tujuan laporan keuangan akan sama dengan tujuan pelaporan keuangan.

2.2       Tujuan Laporan Keuangan

Di dalam Statement of Financial Accounting Concepts (SFAC) nomor satu dinyatakan bahwa pelaporan keuangan harus menyajikan informasi sebagai berikut :
a.       Memberikan informasi keuangan  suatu perusahaan pada periode tertentu kepada pemakai laporan keuangan  dalam membuat keputusan untuk investasi, pemberian kredit dan keputusan lainnya.
b.      Dapat membantu pemakai laporan keuangan untuk menaksir jumlah, waktu, dan ketidakpastian dari penerimaan uang di masa yang akan datang yang berasal dari dividen atau bunga dan dari penerimaan uang yang berasal dari penjualan, pelunasan, atau jatuh temponya surat-surat berharga atau pinjaman-pinjaman.
c.       Menunjukkan sumber-sumber ekonomi dari suatu perusahaan, klaim atas sumber-sumber tersebut, dan pengaruh dari transaksi-transaksi, kejadian dan keadaan yang mempengaruhi sumber-sumber ekonomi dan klaim atas sumber-sumber tersebut.

 

2.3       Tujuan Umum dan Tujuan Kualitatif

Dalam Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) 1984, tujuan akuntansi keuangan dan laporan keuangan dapat dipisahkan menjadi dua, yaitu: tujuan umum dan tujuan kualitatif.
A.    Tujuan Umum
Tujuan umum laporan keuagan dapat dinyatakan sebagai berikut:
1)      Untuk memberikan informasi keuangan yang dapat dipercaya mengenai sumber-sumber ekonomi dan kewajiban serta modal suatu perusahaan.
2)      Untuk memberikan informasi yang dapat dipercaya mengenai perubahan dalam sumber-sumber ekonomi netto (sumber dikurangi kewajiban) suatu perusahaan yang timbul dari aktivitas-aktivitas usaha dalam rangka memperoleh laba.
3)      Untuk memberikan informasi keuangan yang membantu para pemakai laporan di dalam mengestimasi potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
4)      Untuk memberikan informasi penting lainnya mengenai aktivitas pembelanjaan dan penanaman.
5)      Untuk memberikan informasi lain, seperti informasi mengenai kebijaksanaan akuntansi yang digunakan perusahaan.
B.     Tujuan Kualitatif
Tujuan informasi keuangan terdiri dari :
1)      Relevan
Relevansi suatu informasi harus dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Bila informasi tidak relevan untuk keperluan para pengambil keputusan, informasi tersebut tidak ada gunanya. Suatu informasi memenuhi tujuan relevansi bila menggunakan metode-metode pengukuran dan pelaporan akuntansi keuangan yang akan membantu para pemakai laporan keuangan dalam pengambilan  keputusan yang memerlukan penggunaan data akuntansi keuangan.
2)      Dapat Dimengerti
Informasi harus dapat dimengerti oleh pemakainya dan dinyatakan dengan istilah yang sesuai dengan batas pengertian para pemakai laporan.
3)      Daya uji
Suatu informasi keuangan harus dapat diuji kebenarannya oleh para pengukur yang independen dengan menggunakan metode pengukuran yang sama.
4)      Netral
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak-pihak tertentu.
5)      Tepat waktu
Informasi harus disampaikan sedini mungkin agar dapat digunakan sebagai dasar untuk membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi dan menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
6)      Daya banding
Informasi dalam laporan keuangan akan lebih berguna bila dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya dari perusahaan yang sama, maupun dengan laporan keuangan perusahaan-perusahaan lainnya pada periode yang sama.
7)      Lengkap
Informasi akuntansi keuangan harus memenuhi keenam tujuan kualitatif di atas yang dapat juga diartikan sebagai pemenuhan stadar pengungkapan yang memadai dalam pelaporan keuangan.

2.4       Asumsi dan Konsep Dasar

Di dalam menyusun prinsip akuntansi, digunakan asumsi-asumsi dan konsep-konsep dasar tertentu.

2.4.1    Asumsi

Ada beberapa asumsi dasar yang mendasari strtuktur akuntansi, yaitu :
a)      Kesatuan usaha khusus (separate entity/economic entity)
Dalam hal ini, perusahaan dipandang sebagai unit usaha yang berdiri sendiri, terpisah dari pemiliknya. Sehingga, transaksi- transaksi perusahaan dipisahkan dari transaksi- transaksi pemilik dan semua pencatatan serta laporam dibuat untuk perusahaan tanpa menggabungkan transaksi pemilik perusahaan.
b)      Kontinuitas Usaha (Going Corner/Continuity)
Dalam hal ini,  suatu perusahaan diharapkan tidak akan terjadi likuiditas di masa yang akan datang. Sehingga akan tersedia cukup waktu bagi suatu perusahaan untuk menyelesaikan usaha, kontrak, dan perjanjian.
c)      Penggunaan Unit Moneter dalam Pencatatan
Beberapa transaksi yang terjadi pada perusahaan dapat dicatat dengan unit moneter. Unit moneter yang digunakan adalah mata uang dari negara dimana perusahaan itu berdiri. Dalam pencatatan transaksinya, menggunakan ukuran mata uang pada saat terjadinya suatu transaksi atau disebut pencatatan yang didasarkan pada biaya historis.
d)     Periode Waktu (Time-Period/Periodecity)
Kegiatan perusahaaan berjalan terus dari periode yang satu ke periode yang lain dengan volume dan laba yang berbeda. Laporan-laporan keuangan ini harus dibuat tepat pada waktunya, agar berguna bagi manajemen dan kreditur. Oleh karena itu perlu dilakukan alokasi ke periode-periode untuk transaksi- transaksi yang mempengaruhi beberapa periode dengan taksiran-taksiran.

2.4.2    Konsep Dasar

Konsep dasar yang mendasari penyusunan prinsip akuntansi, yaitu :
a)            Prinsip Biaya Historis (Historical Cost Principle)
Prinsip ini menggunakan harga perolehan dalam pencatatan aktiva, utang, modal, dan biaya. Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yaitu antara pihak perusahaan dan pihak ekstern.
b)            Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)
Pendapatan adalah aliran masuk aktiva yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang terkait.
Biasanya pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa yaitu pada saat ada kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan aktiva yang diterima.
c)            Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)
Prinsip mempertemukan adalah mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode. Penerapan prinsip ini juga mengalami beberapa kesulitan, yaitu dalam hal biaya-biaya yang tidak mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan, seperti biaya administrasi dan umum. Sedangkan, biaya produksi seperti biaya bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung mempunyai hubungan yang jelas dengan pendapatan.
d)           Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)
Dalam membandingkan laporan keuangan tiap tahunnya dapat digunakan metode dan prosedur-prosedur yang harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun. Konsistensi tidak dimaksudkan  sebagai larangan penggantian metode karena masih dimungkinkan untuk mengadakan perubahan metode yang dipakai.
e)            Prinsip Pengungkapan Lengkap (Full Disclousure Principle)
Yaitu menyajikan informasi yang lengkap dalam laporan keuangan. Karena informasi yang disajikan merupakan ringkasan dari transaksi-transaksi dalam satu periode dan juga saldo-saldo dari rekening-rekening tertentu.

2.5       Keterbatasan Laporan Keuangan

            Laporan keuangan yang dihasilkan mempunyai beberapa keterbatasan, yaitu  :
a)            Cukup Berarti (Materiality)
Dalam pembuatan batasan terhadap istilah “cukup berarti”, suatu laporan, fakta, atau elemen dianggap sifatnya akan mempengaruhi atau menyebabkan timbulnya perbedaan dalam pengambilan suatu keputusan. Apabila laporan, fakta, atau elemen tidak mempengaruhi atau menyebabkan timbulnya perbedaan dalam pengambilan keputusan, maka jumlahnya tidak cukup berarti.
Ada dua aspek yang dapat digunakan untuk dapat menentukan cukup berarti atau tidaknya laporan keuangan, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.
b)            Konservatif
Konservatif merupakan sikap yang diambil oleh akuntan dalam menghadapi beberapa alternatif dalam penyusunan laporan keuangan. Apabila lebih dari satu alternative tersedia, maka sikap konservatif ini lebih cenderung memilih alternative yang akan membuat aktiva dan pendapatan lebih rendah. Disamping memilih jumlah yang rendah, sikap konservatif ini juga mengatur kenaikan nilai aktiva dan laba yang diharapkan.
c)            Sifat khusus suatu industri
Industri yang mempunyai sifat-sifat khusus memerlukan prinsip akuntansi yang berbeda dengan industri lainnya. Hal ini, dikarenakan adanya peraturan dari pemerintah terhadap industri khusus yang mengakibatkan adanya prinsip-prinsip akuntansi tertentu.

2.6       Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan ini dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik perusahaan dan untuk memenuhi tujuan-tujuan lain yaitu sebagai laporan kepada pihak-pihak di luar perusahaan.

2.6.1    Susunan Laporan Keuangan

Laporan keuangan yang disusun oleh manajemen terdiri dari neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan laporan perubahan posisi keuangan.

2.6.1.1 Neraca

Neraca adalah laporan yang menunjukkan keadaan keuangan suatu unit usaha pada periode tertentu. Keadaan keuangan ini ditunjukkan dengan jumlah harta yang dimiliki yang disebut dengan aktiva dan jumlah kewajiban perusahaan yang disebut dengan pasiva. Di dalam neraca, jumlah aktiva dan pasiva akan sama besar, dimana pasiva terdiri dari dua golongan kewajiban yaitu kewajiban kepada pihak luar yang disebut utang dan kewajiban terhadap pemilik perusahaan yang disebut dengan modal. Bila disusun dalam bentuk persamaan, maka akan tampak seperti di bawah ini:
                                            Aktiva = Utang + Modal
Dalam pengertian aktiva, selain barang-barang dan hak-hak yang dimiliki, di dalamnya termasuk juga biaya-biaya yang belum dibebankan dalam periode yang bersangkutan, tetapi akan dibebankan pada periode yang akan datang. Oleh karena itu, di dalam judul aktiva akan termasuk juga pos-pos kas, tagihan-tagihan, surat-surat berharga (merupakan sumber uang) dan pengeluaran-pengeluaran yang akan memberi manfaat di masa yang akan datang, sehingga pembebanannya juga ditunda seperti aktiva tetap, hak paten dan persekot-persekot biaya.
Utang merupakan milik kreditur yang ditanamkan dalam perusahaan dan jumlahnya merupakan kewajiban perusahaan yang harus dilunasi. Cara pelunasan utang ini bisa dibayar dengan uang, barang dan jasa.
Modal menunjukkan jumlah yang ditanamkan para pemilik dalam perusahaan. Jumlah ini timbul dari setoran para pemilik dan perubahan-perubahan nilai aktiva-aktiva yang terjadi karena hasil usaha perusahaan. Elemen-elemen dalam neraca dikelompokkan dengan tujuan untuk memudahkan analisa. Biasanya aktiva dan utang akan dikelompokkan dalam kelompok lancar (jangka pendek) dan tidak lancar (tetap).
A.          Penggolongan Aktiva, Utang, dan Modal
Susunan aktiva dan pasiva di dalam neraca adalah sebagai berikut :
Harta-harta / aktiva terdiri dari aktiva lancar, investasi jangka panjang, aktiva tetap berwujud, aktiva tetap tidak berwujud, aktiva / harta lainnya. Utang-utang terdiri dari utang lancar, pendapatan yang diterima di muka, utang-utang jangka panjang, utang-utang lain. Modal terdiri dari modal saham yang disetor, agio/disagio saham, cadangan-cadangan, laba tidak dibagi. Masing-masing golongan diatas akan diuraikan sebagai berikut:
                                           I.            Aktiva adalah manfaat ekonomis di masa yang akan datang yang diharapkan akan diterima oleh suatu badan usaha sebagai hasil dari transaksi-transaksi di masa lalu. Aktiva dibagi menjadi 4 yaitu:
a.       Aktiva lancar adalah uang kas dan aktiva-aktiva lain atau sumber-sumber yang direalisasi selama siklus usaha perusahaan yang normal (1 tahun).
Di dalam neraca, aktiva lancar akan disusun dalam urut-urutan likuiditas. Elemen-elemen yang termasuk dalam golongan aktiva lancar, ialah :kas, surat-surat berharga (investasi jangka pendek), piutang dagang dan piutang wesel, piutang pegawai, piutang angsuran, persediaan barang dagangan, biaya-biaya dibayar di muka yang jangka waktunya tidak lebih dari 1 tahun.
b.      Investasi jangka panjang merupakan aktiva tidak lancar yang di dalamnya termasuk beberapa macam investasi yang bisa berbentuk obligasi, penyisihan dana, dan investasi jangka panjang. Elemen-elemen yang masuk dalam investasi jangka panjang, ialah: Investasi jangka pnjang dalam surat-surat berharga, investasi dalam bentuk uang muka jangka panjang, investasi dalam bentuk aktiva tetap berwujud,  penyisihan dana untuk tujuan jangka panjang, Cash surrender value dari polis asuransi jiwa.
c.       Aktiva Tetap Berwujud
Aktiva tetap berwuwjud merupakan aktiva-aktiva yang dapat digunakan lebih dari satu periode, seperti tanah, gedung-gedung, dll. Cara mencantumkan di dalam neraca dimulai dari yang paling tetap (paling panjang umurnya), disusul dengan yang lebih pendek umurnya. Untuk aktiva tetap yang di depresiasi, maka di neraca harus ditunjukkan harga perolehan dan akumulasi depresiasinya.
d.      Aktiva Tetap Tidak Berwujud
Dalam hal ini akan dilaporkan hak-hak jangka panjang yang sifatnya tidak berwujud yang dimiliki oleh perusahaan seperti goodwill, hak paten, merek dagang, hak cipta, dll. Dalam kelompok ini termasuk juga saldo dari pengeluaran-pengeluaran yang belum diakui sebagai biaya, tetapi pembebanannya ditunda, seperti biaya pendirian perusahaan (organization cost).
e.       Aktiva / Harta Lain-lain
Aktiva lain-lain dipakai untuk melaporkan aktiva-aktiva yang tidak dapat dimasukkan dalam kelompok-kelompok lain, seperti titipan kepada penjual untuk menjamin kontrak, bangunan dalam pengerjaan, dll.
                                        II.            Utang-utang dan Modal Sendiri
Utang adalah pengorbanan manfaat ekonomis yang akan timbul di masa yang akan datang disebabkan oleh kewajiban-kewajiban di masa sekarang dari suatu badan usaha yang akan dipenuhi dengan mentransfer aktiva atau memberikan jasa kepada badan usaha lain di masa mendatang sebagai akibat dari transaksi-transaksi yang sudah lalu.
           Modal sendiri adalah hak milik sisa (residual interest) dalam aktiva suatu badan usaha yang tersisa sesudah dikurangi utang. Dalam suatu badan usaha, modal sendiri adalah hak dari pemilik.
Utang dibagi menjadi 2, yaitu:
a.       Utang lancar / utang jangka pendek adalah utang-utang yang pelunasannya akan memerlukan penggunaan sumber-sumber yang digolongkan dalam aktiva lancar atau dengan menimbulkan utang yang baru. Yang termasuk golongan utang lancar adalah :Utang dagang, Utang wesel, Taksiran utang pajak, Utang biaya, Utang-utang lain yang akan dibayar dalam waktu 12 bulan.
b.      Pendapatan Diterima di Muka
Yang dilaporkan dalam pendapatan diterima di muka adalah penerimaan-penerimaan yang tidak merupakan pendapatan untuk periode yang bersangkutan. Penerimaan-penerimaan semacam ini akan tetap dilaporkan sebagai pendapatan diterima di muka sampai saat di mana penerimaan tadi dapat diakui sebagai pendapatan.
c.       Utang Jangka Panjang
Dalam hal ini dilaporkan utang-utang yang pelunasannya tidak menggunakan sumber-sumber yang digolongkan sebagai aktiva lancar.  Bagian dari utang jangka panjang yang jatuh tempo dan akan dilunasi dalam waktu 12 bulan.
d.      Utang Lain-lain
Misalnya utang obligasi yang akan jatuh tempo tetapi akan dilunasi dari dana pelunasan obligasi. Utang-utang yang timbul karena aktivitas di masa lalu disebut utang-utang yang belum pasti (contingent liability). Utang-utang seperti ini ditunjukkan dalam neraca dengan catatan kaki. Yang termasuk utang-utang yang belum pasti misalnya piutang wesel didiskontokan.
e.       Modal sendiri adalah perbedaan antara aktiva dengan utang dan merupakan kewajiban perusahaan kepada pemilik. Dalam perusahaan perseorangan, modal ditunjukkan dalam satu rekening yang diberi nama modal. Dalam perusahaan yang berbentuk firma, modal ditunjukkan dalam rekening modal masing-masing anggota. Dalam perusahaan yang berbentuk perseroan, modal ditunjukkan dengan rekening modal yang terdiri dari beberapa elemen sebagai berikut :
(a)        Modal disetor adalah jumlah uang yang disetorkan oeh pemegang saham dan biasanya dibagi dalam 2 kelompok, yaitu  : Modal saham dan Agio/Disagio saham.
(b)        Laba Tidak Dibagi
            Laba tidak dibagi merupakan laba tahun-tahun sebelumnya yang tidak dibagi sebagai dividen. Laba tidak dibagi merupakan elemen modal yang berasal dari dalam perusahaan. Apabila laba tidak dibagi saldonya debit, biasanya disebut defisit.
(c)        Modal Penilaian Kembali
            Apabila diadakan penilaian kembali terhadap aktiva-aktiva perusahaan, maka selisih antara nilai buku lama denga nilai buku yang baru dicatat sebagai modal penilaian kembali. Di dalam neraca, modal penilaian kembali dilaporkan dalam kelompok modal dan dijumlahkan dengan elemen-elemen modal yang lain.
(d)       Modal Sumbangan
            Modal sumbangan timbul apabila perusahaan memperoleh aktiva yang berasal dari sumbangan. Di dalam neraca modal sumbangan dilaporkan dalam kelompok modal dan dijumlahkan dengan elemen-elemen modal yang lain.
(e)        Modal Lain-lain
            Dalam kelompok ini dilaporkan modal perusahaan yang tidak dapat dimasukkan dalam salah satu kelompok di atas.
B.     Bentuk Neraca
                  Neraca dapat disusun dalam beberapa bentuk yang berbeda,diantaranya adalah:
a)            Bentuk rekening T, dimana aktiva disusun dibagain kiri, pasiva disusun di bagian kanan dan dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu utang dan modal.
b)            Bentuk laporan, dimana aktiva, utang, dan modal disusun dengan urutan ke bawah (vertikal). Perincian terhadap masing-masing kelompok baik aktiva, pasiva maupun utang dilakukan dengan cara yang sama seperti dalam neraca bentuk rekening T.

2.6.1.2 Laporan Rugi Laba

            Laporan rugi laba adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan-pendapatan dan biaya-biaya dari unit usaha pada periode tertentu. Selisih antara pendapatan dan biaya merupakan laba atau rugi yang dialami oleh perusahaan. Laporan rugi laba digunakan sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah laba atau rugi yang didapat dalam suatu periode.
Komponen-komponen yang terdapat dalam laporan rugi laba antara lain:
1.      Pendapatan (Revenue)
Aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badan usaha selama suatu periode yang berasal dari kegiatan utama badan usaha.
2.      Biaya (Expense)
Aliran ke luar atau pemakaian lain aktiva suatu periode yang berasal dari kegiatan utama badan usaha.
3.      Penghasilan (Income)
Selisih penghasilan sesudah dikurangi biaya. Bila pendapatan lebih kecil daripada biaya, selisihnya disebut rugi.
4.      Laba (Gain)
Kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan atau investasi oleh pemilik.
5.      Rugi (Loss)
Penurunan modal (aktiva bersih) dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari biaya atau distribusi pada pemilik.
6.      Harga Perolehan (Cost)
Jumlah uang yang dikeluarkan atau utang yang timbul untuk memeperoleh barang atau jasa. Jumlah ini pada saat terjadinya transaksi akan dicatat sebagai aktiva.
A.    Susunan Laporan Rugi Laba
Dalam prinsip akuntansi Indonesia disebutkan:
a)      Perhitungan rugi laba perusahaan harus disusun sedemikian rupa agar dapat memberikan gambaran mengenai hasil usaha perusahaan dalam periode tertentu.
b)      Cara penyajian perhitungan rugi-laba adalah sebagai berikut:
1)      Harus memuat secara terperinci unsur-unsur pendapatan dan beban.
2)      Semua disusun dalam bentuk urutan ke bawah (stafel).
3)      Harus dipisahkan antara hasil dari bidang usaha lain serta pos luar biasa.
Urutan yang biasa dibuat dalam laporan rugi-laba bentuk stafel adalahh sebagai berikut:
                                                                          i.            Hasil penjualan atau pendapatan jasa
                                                                        ii.            Harga pokok penjualan
                                                                      iii.            Biaya-biaya usaha
Biaya-biaya usaha dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a.       Biaya penjualan terdiri dari:
-          Gaji dan komisi salesman
-          Advertensi
-          Bahan pembantu untuk bagian penjualan atau took
-          Depresiasi aktiva tetap bagian penjualan atau took
-          Depresiasi alat pengagkutan penjualan, dan
-          Semua biaya yang berhubungan dengan bagian penjualan
b.      Biaya administrasi dan umum, terdiri dari:
-          Gaji pimpinan dan pegawai kantor
-          Bahan pembantu untuk kantor
-          Depresiasi aktiva tetap kantor
-          Telepon, perangko, sumbangan, dll.
                                                                      iv.            Pendapatan dan biaya lain-lain
                                                                        v.            Pos luar biasa
                                                                      vi.            Pengaruh kumulatif dari perubahan prinsip akuntansi
                                                                    vii.            Pajak penghasilan
                                                                  viii.            Masalah tentang laba atau rugi yang luar biasa
Dari prinsip di atas, jelas bahwa di dalam laporan rugi laba akan termasuk semua elemen-elemen pendapatan dan biaya, baik yang biasa terjadi maupun yang jarang terjadi. Laporan rugi laba yang memasukkan elemen-elemen yang biasa terjadi dan luar biasa disebut laporan rugi laba all inclusive. Sedangkan laporan rugi laba yang hanya berisi elemen-elemen yang biasa terjadi dan tidak termasuk elemen-elemen yang luar biasa disebut laporan rugi laba current operating performance, di mana elemen-elemen yang luar biasa akan dilaporkan dalam laporan laba tidak dibagi.
B.     Bentuk laporan Rugi-Laba
Laporan rugi – laba dapat disusun dalam dua bentuk yaitu:
a.                   Multiple Step ( Bertahap ) adalah laporan laba rugi dengan mengelompokkan atau memisahkan antara pendapatan usaha dan pendapatan di luar usaha, dan memisahkan pula antara beban usaha dan beban di luar usaha, baru kemudian dicari selisihnya sehingga akan diperoleh laba atau rugi usaha.
Adapun rinciannya adalah: Laba bruto, Penghasilan usaha bersih, Penghasilan bersih sebelum pajak, Penghasilan bersih sesudah pajak, Penghasilan bersih dan elemen – elemen luar biasa.
a.                   Single Step adalah laporan laba rugi di mana semua pendapatan dijumlahkan menjadi satu, demikian juga untuk bebannya, kemudian dicari selisihnya untuk mengetahui laba atau rugi.
C.     Alokasi Pajak
Pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang diperoleh mengurangi penghasilan dalam laporan rugi – laba. Karena penghasilan dalam suatu periode itu terdiri dari dua unsur yaitu penghasilan usaha yang rutin dan penghasilan luar biasa. Di dalam laporan rugi – laba dipakai susunan all inclusive, sehingga semua beban PPh dimasukkan ke dalam laporan rugi – laba.  Apabila kedua jenis penghasilan tersebut jumlahnya positif, beban pajaknya akan dialokasikan dengan perbandingan jumlah penghasilan. Tetapi bila salah satu penghasilan tersebut jumlahnya negatif ( rugi ), maka penghasilan yang positif akan dibebani dengan pajak yang lebih besar dari yang sesungguhnya.
Laporan rugi – laba dapat juga disusun dengan susunan current operating performance, di mana elemen – elemen tidak biasa tidak masuk di dalamnya tetapi dilaporkan dalam laporan laba tidak dibagi. Oleh karena itu beban PPhnya juga dialokasikan pada kedua laporan tersebut.
Pajak penghasilan yang dibebankan ke dalam laporan rugi – laba harus dipisahkan perhitungannya dengan utang pajak yang akan dilaporkan dalam neraca, karena PPh yang menjadi beban dalam laporan rugi – laba merupakan hasil perkalian antara tarif pajak dengan keuntungan. Sedangkan utang pajak termasuk beban pajak untuk tahun – tahun sebelumnya di mana beban  - beban pajak ini harus dibebankan pada laporan laba tidak dibagi.

 

2.6.1.3 Laporan Perubahan Modal

Selain penyusunan neraca dan laporan rugi laba, suatu perusahaan dengan bentuk perseroan juga menyusun laporan yang menunjukan sebab – sebab perubahan modal perusahaan. Perubahan modal dari suatu perusahaan perseroan tersebut ditunjukan di dalam laporan laba tidak dibagi ( retained earnings ). Di dalam laporan ini ditunjukkan laba awal periode di tambah atau dikurangi dengan rugi atau laba dikurangi deviden  periode bersangkutan.

2.6.1.4 Laporan  Perubahan Posisi Keuangan (Statement of Changes in Financial Position)

Laporan perubahan posisi keuangan berguna untuk meringkas kegiatan-kegiatan pembelajaan dan investasi yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk jumlah dana yang dihasilkan dari kegiatan usaha perusahaan dalam tahun buku yang bersangkutan dan melengkapi penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam posisi keuangan selama tahun yang bersangkutan.
                        Laporan perubahan posisi keuangan dapat disusun berdasarkan perubahan-perubahan kas atau ekuivalennya, atau dapat juga berdasarkan perubahan-perubahan dalam modal kerja neto (net working capital) atau aktiva lancar dikurangi utang lancar. Apabila dasarnya adalah perubahan-perubahan dalam modal kerja neto, maka disebut all financial resources concept. Walaupun laporan ini didasarkan pada perubahan dalam modal kerja neto, aktivitas pembelanjaan atau investasi yang penting harus ditunjukkan meskipun tidak mempengaruhi modal kerja.  Isi laporan perubahan posisi keuangan biasanya dipisahkan menjadi 2 bagian, yaitu yang menunjukkan sumber-sumber dan bagian yang menunjukkan penggunaan dana.

2.6.1.5 Laporan Aliran Kas (Statement of Cash Flows)

Laporan aliran kas bertujuan untuk menyajikan informasi yang relevan tentang penerimaan dan pengeluaran kas suatu perusahaan selama suatu periode. Untuk mencapai tujuan ini, aliran kas diklasifikasikan dalam tiga kelompok yang berbeda yaitu penerimaan dan pengeluaran kas yang berasal dari kegiatan investasi, pembelanjaan (financing), dan kegiatan usaha. Untuk menyusun laporan aliran kas, perusahaan dapat menggunakan metode langsung atau tidak langsung.



BAB III

PENUTUP


3.1       Kesimpulan

1.     Hubungan antara tujuan laporan keuangan, asumsi dan konsep dasar, prinsip akuntansi, metode dan prosedur, serta laporan keuangan ialah saling berkaitan di dalam pelaporan keuangan. Di dalam membuat laporan keuangan pasti memiliki suatu tujuan. Dimana tujuan laporan keuangan tersebut dapat berguna bagi perusahaan, investor, dan kreditur. Selain itu, juga terdapat tujuan umum dan tujuan kualitatif. Dimana kedua tujuan tersebut dapat memberikan informasi keuangan kepada internal perusahaan dengan asumsi dan konsep-konsep dasar yang merupakan pedoman dalam menyusun prinsip akuntansi. Dengan prinsip akuntansi tersebut dapat menentukan metode dan prosedur sebagai dasar dalam penyusuna laporan keuangan.
2.     Penyusunan laporan keuangan dilakukan dengana cara menguraikan isi dan menyusun masing-masing laporan keuangan yang terdiri dari laporan neraca, laporan Rugi Laba, dan laporan perubahan modal.

3.2       Saran

            Dengan adanya makalah ini, diharapkan kepada para pembaca agar dapat memahami konsep dasar sebelum mempelajari akuntansi keuangan agar dapat menyusun laporan keuangan dengan baik dan benar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.








DAFTAR PUSTAKA



Intermediate Accounting oleh Zaki Baridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar