Baby Hello Kitty -->

Selasa, 01 Juli 2014

KARYA ILMIAH: PURA ALAS KEDATON TABANAN BALI



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan karya tulis yang berjudul “Peranan Objek Wisata Alas Kedaton terhadap Kunjungan Wisata dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat”.
            Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dosen Pangajar Mata Kuliah Ekonomi Pariwisata,  Kepala Bendesa Adat Kukuh yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengadakan observasi di Alas Kedaton, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah ini.
            Dalam penyusunan karya ilmiah ini, kelompok V telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, makalah tidak luput dari kesalahan dan kehilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun dari segi bahasa. Walaupun demikian, penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan karya tulis ini meskipun tersusun sederhana.
            Kami menyadari tanpa kerjasama di antara anggota kelompok yang saling memberi berbagai masukan yang bermanfaat bagi kelompok V demi tersusunnya karya tulis ini.
            Demikian, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Penulis mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun.
Denpasar, 8 Mei 2013

                        Penulis

DAFTAR ISI

Halaman






















BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang

Pariwisata merupakan suatu konsep dinamis yang sedang dan dalam proses pengembangan, khususnya oleh negara-negara berkembang. Dalam hal ini Negara berkembang sangat menitikberatkan pada pentingnya pariwisata sebagai penopang dan penyumbang devisa bagi sektor perekonomian negara. Oleh karena itu perlu adanya perhatian secara menyeluruh baik konsep maupun infrastruktur pariwisata.
(Wahab, 2003) Secara khusus kepariwisataan dapat dipergunakan sebagai suatu alat untuk memperkecil kesenjangan saling pengertian diantara negara-negara yang sudah berkembang yang biasanya adalah negara-negara sumber wisata atau Negara “Pengirim Wisatawan” dengan negara-negara yang sedang berkembang yakni Negara kunjungan wisata atau negara “Penerima Wisatawan”.
Perjalanan perkembangan pariwisata sangat berpengaruh dan dipengaruhi oleh kebudayaan dan peran serta masyarakat setempat, karena pada dasarnya perkembangan pariwisata didukung oleh tiga unsur yang saling berkorelasi, diantaranya : manusia (sebagai unsur pelaku kegiatan pariwisata), tempat (sebagai unsur fisik dalam pelaksanaan kegiatan pariwisata), dan waktu (sebagai unsur tempo yang dihasilkan dalam perjalanan perkembangan itu sendiri). Untuk itu sangat diperlukan adanya suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan dan mengembangkan pola pikir dan kepribadian masyarakat setempat, sehingga terbentuk suatu sumber daya masyarakat yang lebih peduli, perhatian dan berperan aktif terhadap kelestarian suatu tempat yang mempunyai daya tarik wisata yang mampu memberikan manfaat untuk kesejahteran masyarakat setempat untuk jangka waktu panjang.
Suatu pandangan mengenai kepariwisataan hendaknya dilihat dan sudut pandang negara berkembang sebagai negara penerima wisatawan, karena bagi negara berkembang, seperti dijelaskan diatas turut memberi andil yang besar dalam realisasi pembangunan sosial dan ekonomi.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga sangat peduli terhadap peningkatan kualitas pariwisata sebagai salah satu penghasil devisa pendukung perekonomian bangsa. Hal ini dilatar belakangi oleh banyaknya sumber daya alam potensial yang mampu dijadikan objek wisata. Sebagai contoh Pulau Bali. Dengan segala keindahan alamnya, kini Bali mampu menjadi objek wisata paling digemari oleh wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Selain Bali, sebenarnya juga masih banyak tempat lain di nusantara yang memiliki pesona alam yang sangat indah. Untuk itu perlu adanya usaha dari pemerintah dan masyarakat untuk lebih mengembangkan potensi alamnya.
Objek wisata yang dimiliki desa Kukuh, kecamatan Marga, kabupaten Tabanan yaitu Alas Kedaton merupakan salah satu objek wisata alam yang hingga saat ini perkembangannya masih stabil. Objek wisata ini dapat memberikan kontribusi terhadap masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan terciptanya lapangan pekerjaan pada objek wisata Alas Kedaton yang diperuntukkan bagi masyarakat di daerah tersebut.

1.2  Rumusan Masalah

Dari latar belakag di atas, yang menjadi pokok permasalahan dalam paper ini adalah sebagai berikut:
1.2.1    Bagaimana sejarah Alas Kedaton sehingga menjadi objek wisata?
1.2.2    Bagaimana perkembangan Alas Kedaton di tengah bermunculnya objek      wisata modern?
1.2.3    Bagaimana sistem pengelolaan objek wisata Alas Kedaton secara    keseluruhan?
1.2.4    Bagaimana peranan objek wisata Alas Kedaton dalam meningkatkan          pendapatan masyaraka

1.3  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan paper ini adalah sebagai berikut:
1.3.1   Untuk mengetahui sejarah Alas Kedaton sehingga menjadi objek wisata
1.3.2   Untuk mengetahui perkembangan Alas Kedaton di tengah                            bermunculnya objek wisata modern
1.3.3    Untuk mengetahui sistem pengelolaan objek wisata Alas Kedaton secara    keseluruhan
1.3.4    Untuk mengetahui peranan objek wisata Alas Kedaton dalam          meningkatkan pendapatan masyarakat

1.4  Metodelogi Penulisan

Dalam menyusun karya ilmiah ini, digunakan metode telaah pustaka dan wawancara langsung kepada narasumber.











BAB II

KAJIAN PUSTAKA

Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini, sebagai landasan teori akan dibahas tentang: Objek Wisata, Peranan Objek Wisata, Kunjungan Wisata,  Pendapatan Masyarakat, dan Perwilayahan Pariwisata.

2.1 Objek Wisata

     2.1.1 Pengertian Objek Wisata
Menurut Peraturan Pemerintah No. 24/1979 menjelaskan bahwa obyek wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan tempat keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi. Menurut Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (1979) mengasumsikan obyek wisata adalah pembinaan terhadap kawasan beserta seluruh isinya maupun terhadap aspek pengusahaan yang meliputi kegiatan pemeliharaan dan pengawasan terhadap kawasan wisata. Objek Wisata Alam yang mempunyai unsur fisik lingkungan berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan lain sebagainya serta suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggapan manusia memiliki nilai tertentu seperti keindahan, keunikan, ke-langkaan, kekhasan, keragaman, bentangan alam dan keutuhan (Anonymous, 1987).
Suatu daerah untuk menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang baik harus dikembangkan 3 (tiga) hal agar daerah itu menarik untuk dikunjungi, yaitu :
1. Adanya something to see, maksudnya adalah sesuatu yang menarik untuk dilihat.
2. Adanya something to buy, maksudnya adalah sesuatu yang menarik dan khas untuk dibeli.

3. Adanya something to do, maksudnya adalah sesuatu aktivitas yang dapat dilakukan di tempat itu.



2.1.2 Jenis Objek Wisata
         Penggolongan jenis objek wisata akan terlihat dari ciri-ciri khas yang ditonjolkan oleh tiap-tiap objek wisata. Dalam UU No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan disebutkan bahwa objek dan daya tarik wisata terdiri dari:
  1. Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud           keadaan alam serta flora dan fauna.
  2. Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, objek wisata dapat diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu wisata buatan manusia dan wisata alam. Objek wisata Alas Kedaton ini merupakan objek wisata alam, namun para pengelola objek wisata tersebut juga menambahkan unsur seni yang dapat menarik wisatawan. Selain itu, juga didukung oleh kondisi pura yang sangat unik yang terdapat di area objek wisata Alas Kedaton tersebut sehingga terdapat unsur religi.

2.2  Peranan Objek Pariwisata

Peranan adalah suatu tingkatan kedudukan atau tugas utama yang harus dilaksanakan oleh manusia dalam melaksanakan suatu kegiatan dengan berbagai cara sehingga dapat menjadi keadaan yang lebih baik dari semula atau dijadikan banyak, diluaskan, diperindah, atau dipelihara agar keadaan objek wisata tetap lestari.
Bila dihubungkan dengan pengertian objek pariwisata, maka yang dimaksud dengan peranan objek pariwisata adalah suatu tingkatan kedudukan atau tugas yag harus dilaksanakan manusia untuk memelihara, mengembangkan, meluaskan, memperindah, menambah fasilitas yang ada di objek pariwisata, dengan tujuan untuk menarik minat orang berkunjung di objek pariwisata.
Sebelum wisatawa mengunjungi objek pariwisata, maka perku mengetahui terlebih dahulu tentang keadaan objek yang akan dikunjunginya, seperti:
a.      fasilitas transportasi yang akan membawanya dari dan daerah tujuan wisata yang ingin dikunjungi.
b.      Fasilitas akomodasi yang merupakan tempat sementara tinggal di daerah tujuan wisata yang dikunjunginya.
c.      Fasilitas tempat makan dan minum yang lengkap dan sesuai dengan selera wisatawan tersebut.
d.     Objek dan atraksi wisata yang ada di daerah tujuan yang akan dikunjungi.
e.      Fasilitas perbelanjaan
Dari keterangan di atas, diambil kesimpulan agar wisatawan tertarik untuk mengunjungi suatu objek wisata, yang perlu dikembangkan adalah:
1.      objek wisata
2.      prasarana dan sarana wisata
3.      promosi objek wisata
4.      pelayana terhadap wisatawan


2.3  Kunjungan Wisata

Kunjungan wisata adalah datangnya pengunjung atau wisatawan ke suatu objek wisata. Dimana kunjungan wisata ini dapat terjadi apabila ada sebuah informasi tentang suatu objek wisata. Informasi tersebut dapat bersumber dari media cetak maupun media elektronik, ataupun dari mulut ke mulut.  selain itu, harus ditunjang dengan peningkatan pemanfaatan Daerah Tujuan Wisata (DTW).

2.4  Pendapatan Masyarakat

Pendapatan masyarakat merupakan suatu hasil atau upah yang diterima oleh masyarakat akibat dari aktivitas atau melakukan sesuatu yang bersifat ekonomis.

2.5 Perwilayahan Pariwisata
Perwilayahan dalam dunia kepariwisataan adalah pembagian wilayah-wilayah pariwisata yang dapat dipandang memiliki potensi, selanjutnya dapat dijadikan tujuan yang pasti. Dalam pengertian ilmiahnya wilayah ini disebut daerah tujuan wisata atau dalam bahasa asingnya tourist destination area, yang batasnya adalah sebagai berikut: “Yang dimaksudkan dengan wilayah pariwisata adalah tempat atau daerah yang karena atraksinya, situasinya dalam hubungan lalu-lintas dan fasilitas-fasilitas kepariwisataannya menyebabkan tempat atau daerah tersebut menjadi objek kebutuhan wisatawan.
Bila kita pelajari dengan teliti definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa ada tiga kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh suatu daerah untuk menjadi tujuan wisata:
1)      Memiliki atraksi atau objek menarik
2)      Mudah dicapai dengan alat-alat kendaraan
3)      Menyediakan tempat untuk tinggal sementara.
Adapun atraksi atau objek menarik yang dimaksudkan adalah sesuatu yang dihubungkan dengan keindahan alam, kebudayaan, perkembangan ekonomi, politik, lalu-lintas, kegiatan olah raga dan sebagainya, tergantung kepada “kekayaan” suatu daerah dalam soal pemilihan atraksi atau objek ini.

           





BAB III

PEMBAHASAN


3.1 Sejarah Alas Kedaton

Alas Kedaton merupakan salah satu objek wisata yang menarik di Bali. Objek wisata Alas Kedaton memberikan sajian bentuk wisata berupa bangunan pura yang unik. Bangunan dan suasana objek wisata Alas Kedaton semakin unik dengan hidupnya segerombolan kera di lingkungan objek wisata tersebut. Objek wisata Alas Kedaton berlokasi di daerah desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Tepatnya objek wisata Alas Kedaton terletak di sebelah timur kota Tabanan yang berjarak 10 km. Di bawah tahun 1980 Alas Kedaton belum menjadi objek pariwisata dan hanya berupa hutan seluas ±7 hektar, pada posisi astronomis 8º 20’ 49" Bujur Timur dan 8º 31’ 73" Lintang Selatan dan pada ketinggian sekitar 170m di atas permukaan air laut yang dihuni oleh ±1500 kera dan ratusan kelelawar (kalong).
Apabila dilihat dari suku katanya Alas Kedaton artinya hutan dan kedaton, yang mana kata kedaton berasal dari kata “kedatuan” yang artinya tempat datu atau raja. Oleh karena itu Alas Kedaton dapat diartikan sebagai tempat meditasi untuk para raja pada masa tersebut.
Di tengah-tengah hutan ditemukan sebuah pura untuk orang Bali yang bernama Pura Dalem Khayangan Kedaton sebagai tempat meditasi Ida Ratu Ngurah Sakti, pura ini sudah ada sejak zaman dahulu. Dari bukti arkeologi kelangsungan hidup yang ditemukan, di pura tersebut ditemukan sebuah arca kecil, patung leluhur, patung ganesa dan patung Durga Mahisasuramardhini. Hingga sekarang pura ini tetap difungsikan sebagai tempat pemujaan untuk masyarakat sekitar. Pura ini sangat unik, yang mana pura ini dibangun di tengah-tengah hutan yang suci, dihuni ribuan monyet dan kelelawar. Perayaan di pura ini dilakukan berdasarkan perhitungan kalender Bali, yaitu pada Anggara (Selasa) kliwon Madangsia, 20 hari setelah hari Raya Galungan.
Dalam perayaan ini ditemukan beberapa keunikan yang tidak ditemukan di tempat lain di wilayah Bali, yang mana perayaannya hanya dituntun oleh seorang pemangku pura tersebut, dilakukan dalam sehari dan harus selesai sebelum matahri terbenam. Uniknya lagi tidak diizinkan untuk menggunakan topi, kwangen, penjor, dan tidak diperbolehkan untuk melakukan tabuh rah. Keunikannya lagi, untuk melengkapi upacara hanya diperbolehkan menggunakan ceniga yang terbuat dari daun pisang yang tua, sedangkan di tempat lain dibuat dari  daun kelapa yang muda.
Tradisi keagamaan yang tetap dilaksanakan hingga sekarang merupakan kehidupan beragama yang tetap terjaga, didukung dengan solidaritas masyarakat social yang berakar dari sejarah leluhur zaman dahulu. Oleh karena itu, eksistensi dari aktifitas kehidupan sosial masyarakat Alas Kedaton dalam kehidupan sehari-hari dan keagamaan, menjadikan Alas Kedaton sebagai sebuah area yang penuh dengan aura keagamaan (religius).
 Dengan adanya perkembangan pariwisata di bali pada awal tahun 1960an, maka masyarakat desa kukuh mempunyai inisiatif  untuk menjadikan hutan, pura, dan kera-kera tersebut sebagai modal dalam membentuk objek wisata. Kemudian Objek wisata ini mulai berkembang sejak tahun 1984 sampai saat ini.


3.2 Perkembangan Alas Kedaton di Tengah Objek Pariwisata Modern

Alas Kedaton merupakan objek wisata alam, sehingga pemandangan yang disajikan pada objek wisata ini adalah sesuatu yang disediakan oleh alam. Misalnya, hutan dan kera-kera yang terdapat pada objek wisata tersebut. Sebagai pengelola, pihak manajemen hanya menjaga kelestarian serta mengembangkannya dengan cara membangun sarana dan prasarana seperti lahan parkir, toilet, dan art shop-art shop yang terdapat di dalam objek wisata Alas Kedaton ini. Dimana sarana-sarana pendukung tersebut guna memberikan kenyamanan serta kepuasan bagi para wisatawan yang datang.
Objek wisata Alas Kedaton menyajikan pemandangan alami yang sudah mendapat sentuhan tangan manusia juga dalam hal merenovasi objek wisata tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kepuasan bagi para wisatawan yang datang. Walaupun demikian, pemandangan yang disajikan oleh objek wisata Alas Kedaton ini masih tetap alami. Sehingga, sampai saat ini objek wisata Alas Kedaton masih bisa bertahan di tengah persaingan objek wisata modern yang semakin banyak. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap kunjungan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun asing.
Dalam proses perkembagannya, pihak-pihak yang terkait dalam struktur organisasi melakukan promosi melalui organisasi DTW. Selain itu, mereka juga menggunakan brosur sebagai media promosi. Sesuai dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, mereka juga merencanakan untuk melakukan promosi pada media-media sosial, misalnya facebook. Hal ini adalah upaya pihak manajemen objek wisata Alas Kedaton supaya calon-calon wisatawan mengetahui serta mau mengunjungi objek wisata alam tersebut. 

3.3 Sistem Pengelolaan Alas Kedaton

Dahulu sistem pengelolaannya secara tradisional, namun pada saat ini sistem pengelolaannya sudah mengarah ke sistem pengelolaan yang modern. Hal ini dapat dilihat dari sistem manajemennya yang sudah memiliki struktur organisasi.  Alas Kedaton merupakan aset desa adat kukuh, sehingga dalam sistem pengelolaannya langsung dibawah naungan desa adat tersebut. Masyarakat desa kukuh terlibat langsung dalam pengelolaan objek wisata ini.
Adapun pengelolaan yang dilakukan, antara lain:
  1. Pengelolaan terhadap SDA
Pengelolaan terhadap SDA dilakukan langsung oleh masyarakat setempat. Mulai dari merawat kera, lingkungan, dan pura. Dalam proses pengelolaan SDA pada struktur organisasi telah dibagi sesuai dengan keahliannya masing-masing. Ada petugas yang khusus merawat kera, lingkungan, dan area pura. Bagi petugas yang merawat kera, bertugas untuk memberi makan dan menjaga kera agar tidak mengganggu pengunjung. Sedangkan area pura dikelola oleh orang suci ( pemangku ).
  1. Pengelolaan terhadap SDM
Pihak manajemen alas kedaton membagi sistem pengelolaan SDM menjadi dua bagian yaitu, pengelolaan terhadap karyawan yang bekerja di Alas Kedaton dan para pedagang yang berjualan di wilayah Alas Kedaton.
Dalam pengelolaan terhadap karyawan yang bekerja di Alas Kedaton, setiap tiga tahun sekali dilakukan pergantian karyawan diantara 12 banjar yang ada di desa Kukuh. Hal ini dilakukan agar masing – masing banjar mendapat pemerataan tugas.
Sedangkan pengelolaan terhadap para pedagang yang terdiri dari 202 art shop diberlakukan sistem pembagian jadwal setiap 3 kali sehari untuk mengantar wisatawan. Para pedagang ini harus mengikuti peraturan yang telah ditetapkan oleh pihak manajemen Alas Kedaton. 

3.4 Peranan Alas Kedaton terhadap Pendapatan Masyarakat

 Segala hasil atau pendapatan dari objek wisata alas kedaton digunakan untuk mengelola lingkungan alas kedaton, membayar gaji karyawan, membayar pajak dan apabila ada kelebihan pendapatan maka digunakan untuk menutupi kepentingan – kepentingan desa pekraman.  Pendapatan objek wisata alas kedaton bersumber dari pendapatan operasional dan pendapatan lain-lain. Pendapatan operasional diperoleh dari penjualan tiket. Dimana harga tiket tersebut telah diatur oleh Peraturan Daerah Provinsi Bali (PERDA Bali). Sistem pemasukan pendapatan dipungut setiap hari, pertama masuk ke loket, kemudian dari loket disetor ke manajer. Setelah oleh manajer direkap menjadi laporan pendapatan bulanan, kemudian laporan pendapatan tersebut disetor ke pengelola objek wisata Alas Kedaton. Sedangkan pendapatan lain-lain berasal dari penyewaan lahan untuk art shop bagi para pedagang, pendapatan dari WC, dan pendapatan dari tiket parkir.    
Pendapatan-pendapatan dari objek wisata alas kedaton memberikan bantuan terhadap kesejahteraan masyarakat di desa kukuh. Contohnya membantu kesejahteraan karyawan yang bekerja sebagai penjual tiket, walaupun upah yang diterima tidak sesuai dengan UMR, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Karyawan yang bekerja di alas kedaton ingin ikut melestarikan pariwisata di daerah kukuh, sehingga mereka bekerja secara sukarela atau “ngayah”.
Selain itu pendapatan dari Alas Kedaton juga memberikan bantuan kepada desa pekraman kukuh, contohnya membantu untuk keperluan odalan di pura, melaspas pura dan lain-lain yang berhubungan dengan kepentingan desa pekraman. Jadi pada umumnya dengan adanya objek wisata Alas Kedaton menjadikan masyarakat desa kukuh sejahtera dalam hal upacara agama.
Secara umum, pendapatan masyarakat desa kukuh meningkat dengan adanya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh objek wisata Alas Kedaton. Karena mayoritas masyarakat desa kukuh memiliki pendidikan yang rendah, sehingga tidak memiliki pekerjaan tetap. Walaupun karyawan yang dipekerjakan pada objek wisata Alas Kedaton digilir per banjar setiap tiga tahunnya, namun yang lebih diutamakan adalah masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Tetapi tidak semua karyawan yang bekerja pada objek wisata Alas Kedaton berpendidikan rendah, ada juga yang sudah sarjana namun mereka mau untuk dipekerjakan sebagai karyawan pada objek wisata Alas Kedaton ini. Karena dalam hal ini juga diberlakukan sistem ngayah.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat desa kukuh, objek wisata Alas Kedaton juga meningkatkan pendapatan para pedagang yang ada di area objek tersebut. Sebelum terjadinya bom  Bali dan berkembangnya tempat belanja oleh-oleh modern seperti Joger, Erlangga, Krisna, dan sebagainya, pendapatan para pedagang cukup tinggi. Namun, setelah terjadinya hal tersebut pendapatan para pedagang menurun secara perlahan. Walaupun demikian, mereka tetap bertahan untuk bisa menopang perekonomian mereka.
Di bawah ini merupakan tabel pendapatan dari kunjungan wisatawan ke objek wisata Alas Kedaton dari 5 Tahun ke belakang :
TAHUN
PENGUNJUNG
ASING
DOMESTIK
ANAK
DEWASA
ANAK
DEWASA
2009
1.244
47.897
1.878
51.159
2010
1.237
47.698
1.821
50.756
2011
1.589
50.037
2.017
54.456
2012
1.989
51.410
2.135
55.990
2013
1.358
10.899
1.983
11.738

TAHUN
ASING
JUMLAH
DOMESTIK
JUMLAH
TOTAL PENDAPATAN

ANAK
DEWASA

ANAK
DEWASA


 2009
11.818.000
694.506.500
706.234.500
13.146.000
486.010.500
499.156.500
1.205.481.000
2010
11.751.500
691.621.000
703.372.500
12.747.000
482.182.000
494.929.000
1.198.301.500
2011
15.095.500
725.536.500
740.632.000
14.119.000
517.332.000
531.451.000
1.272.083.000
2012
18.895.500
745.445.000
764.340.500
14.945.000
531.905.000
546.850.000
1.311.190.500
2013
12.901.000
158.035.500
170.936.500
13.881.000
111.511.000
125.322.000
296.258.500






BAB IV

PENUTUP


4.1  Kesimpulan

      Di bawah tahun 1980 an, Alas Kedaton belum menjadi suatu objek wisata, melainkan hanya berbentuk hutan belantara yang dihuni kera, kelelawar, serta terdapat pura di dalamnya. Namun semenjak tahun 1984, masyarakat desa Kukuh mempunyai inisiatif untuk menjadikan hutan beserta isinya sebagai objek wisata yang dinamakan Alas Kedaton.
      Objek wisata Alas Kedaton masih tetap bertahan di tengah bermunculnya objek wisata modern. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perubahan yang signifikan terhadap kunjungan wisatawan baik domestik maupun asing.
      Dahulu sistem pengelolaan objek wisata Alas Kedaton masih tradisional, namun sekarang sistem pengelolaannya sudah mengarah pada sistem pengelolaan yang modern. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya struktur organisasi. Adapun pengelolaan yang dilakukan ada dua, yaitu pengelolaan SDM dan pengelolaan SDA.
      Dengan adanya objek wisata Alas Kedaton, maka ini berarti bahwa terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Sehingga objek wisata ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mempekerjakan mereka di dalam pengelolaan objek wisata Alas Kedaton.



4.2  Saran

Dengan adanya kegiatan penelitian mengenai peranan objek wisata Alas Kedaton terhadap kunjungan wisata dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, diharapkan kepada pihak manajemen Alas Kedaton khususnya dan masyarakat pada umumnya agar lebih meningkatkan lagi kinerja dalam mengelola objek wisata tersebut, serta dapat membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Kukuh.

















DAFTAR PUSTAKA


Pendit, Nyoman S. 2002. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita.



















LAMPIRAN – LAMPIRAN

DAFTAR INFORMAN


1.         Nama                          : I Gede Subawa
Jenis Kelamin            : Laki – laki
Umur                          : 43 tahun
Jabatan                      : Kepala Bendesa Adat Kukuh
Alamat                        : Br. Munggal, Kukuh, Marga, Tabanan

















Pura Kahyangan Alas Kedaton

Kera – Kera dan Kelelawar “ Kalong "di Objek Alas Kedaton







Wisatawan Asing dan Domestik

1 komentar: