KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis bisa menyelesaikan karya tulis yang berjudul
“Peranan Objek Wisata Alas Kedaton terhadap Kunjungan Wisata dalam Meningkatkan
Pendapatan Masyarakat”.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dosen Pangajar Mata Kuliah Ekonomi
Pariwisata, Kepala Bendesa Adat Kukuh
yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengadakan observasi di Alas
Kedaton, dan pihak-pihak lain yang terlibat dalam pembuatan karya ilmiah ini.
Dalam penyusunan karya ilmiah ini, kelompok V telah berusaha semaksimal mungkin
sesuai dengan kemampuan penulis. Namun sebagai manusia biasa, makalah tidak
luput dari kesalahan dan kehilafan baik dari segi tekhnik penulisan maupun dari
segi bahasa. Walaupun demikian, penulis berusaha sebisa mungkin menyelesaikan
karya tulis ini meskipun tersusun sederhana.
Kami menyadari tanpa kerjasama di antara anggota kelompok yang saling memberi
berbagai masukan yang bermanfaat bagi kelompok V demi tersusunnya karya tulis ini.
Demikian, semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan para pembaca
pada umumnya. Penulis mengharapkan saran serta kritik dari berbagai pihak yang
bersifat membangun.
Denpasar,
8 Mei 2013
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pariwisata merupakan suatu konsep dinamis yang sedang dan dalam proses
pengembangan, khususnya oleh negara-negara berkembang. Dalam hal ini Negara
berkembang sangat menitikberatkan pada pentingnya pariwisata sebagai penopang
dan penyumbang devisa bagi sektor perekonomian negara. Oleh karena itu perlu
adanya perhatian secara menyeluruh baik konsep maupun infrastruktur pariwisata.
(Wahab, 2003) Secara khusus kepariwisataan dapat dipergunakan sebagai
suatu alat untuk memperkecil kesenjangan saling pengertian diantara
negara-negara yang sudah berkembang yang biasanya adalah negara-negara sumber
wisata atau Negara “Pengirim Wisatawan” dengan negara-negara yang sedang
berkembang yakni Negara kunjungan wisata atau negara “Penerima Wisatawan”.
Perjalanan perkembangan pariwisata sangat berpengaruh dan dipengaruhi
oleh kebudayaan dan peran serta masyarakat setempat, karena pada dasarnya
perkembangan pariwisata didukung oleh tiga unsur yang saling berkorelasi,
diantaranya : manusia (sebagai unsur pelaku kegiatan pariwisata), tempat
(sebagai unsur fisik dalam pelaksanaan kegiatan pariwisata), dan waktu (sebagai
unsur tempo yang dihasilkan dalam perjalanan perkembangan itu sendiri). Untuk
itu sangat diperlukan adanya suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat guna
meningkatkan dan mengembangkan pola pikir dan kepribadian masyarakat setempat,
sehingga terbentuk suatu sumber daya masyarakat yang lebih peduli, perhatian
dan berperan aktif terhadap kelestarian suatu tempat yang mempunyai daya tarik
wisata yang mampu memberikan manfaat untuk kesejahteran masyarakat setempat
untuk jangka waktu panjang.
Suatu pandangan mengenai kepariwisataan hendaknya dilihat dan sudut
pandang negara berkembang sebagai negara penerima wisatawan, karena bagi negara
berkembang, seperti dijelaskan diatas turut memberi andil yang besar dalam
realisasi pembangunan sosial dan ekonomi.
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga sangat peduli
terhadap peningkatan kualitas pariwisata sebagai salah satu penghasil devisa
pendukung perekonomian bangsa. Hal ini dilatar belakangi oleh banyaknya sumber
daya alam potensial yang mampu dijadikan objek wisata. Sebagai contoh Pulau
Bali. Dengan segala keindahan alamnya, kini Bali mampu menjadi objek wisata
paling digemari oleh wisatawan domestik maupun wisatawan asing. Selain Bali,
sebenarnya juga masih banyak tempat lain di nusantara yang memiliki pesona alam
yang sangat indah. Untuk itu perlu adanya usaha dari pemerintah dan masyarakat
untuk lebih mengembangkan potensi alamnya.
Objek wisata yang dimiliki desa Kukuh, kecamatan Marga,
kabupaten Tabanan yaitu Alas Kedaton merupakan salah satu objek wisata alam
yang hingga saat ini perkembangannya masih stabil. Objek wisata ini dapat
memberikan kontribusi terhadap masyarakat sekitar. Hal ini dibuktikan dengan
terciptanya lapangan pekerjaan pada objek wisata Alas Kedaton yang
diperuntukkan bagi masyarakat di daerah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Dari
latar belakag di atas, yang menjadi pokok permasalahan dalam paper ini adalah
sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana sejarah Alas Kedaton sehingga
menjadi objek wisata?
1.2.2 Bagaimana perkembangan Alas Kedaton di
tengah bermunculnya objek wisata
modern?
1.2.3 Bagaimana sistem pengelolaan objek wisata
Alas Kedaton secara keseluruhan?
1.2.4 Bagaimana peranan objek wisata Alas Kedaton
dalam meningkatkan pendapatan
masyaraka
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan penulisan paper ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk
mengetahui sejarah Alas Kedaton sehingga menjadi objek wisata
1.3.2 Untuk
mengetahui perkembangan Alas Kedaton di tengah bermunculnya
objek wisata modern
1.3.3 Untuk
mengetahui sistem pengelolaan objek wisata Alas Kedaton secara keseluruhan
1.3.4 Untuk
mengetahui peranan objek wisata Alas Kedaton dalam meningkatkan pendapatan masyarakat
1.4 Metodelogi Penulisan
Dalam
menyusun karya ilmiah ini, digunakan metode telaah pustaka dan wawancara
langsung kepada narasumber.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Sesuai dengan permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian
ini, sebagai landasan teori akan dibahas tentang: Objek Wisata, Peranan Objek
Wisata, Kunjungan Wisata, Pendapatan Masyarakat, dan Perwilayahan
Pariwisata.
2.1 Objek Wisata
2.1.1
Pengertian Objek Wisata
Menurut Peraturan Pemerintah No. 24/1979 menjelaskan bahwa
obyek wisata adalah perwujudan dari ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya
serta sejarah bangsa dan tempat keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk
dikunjungi. Menurut Direktorat Perlindungan dan Pengawetan Alam (1979)
mengasumsikan obyek wisata adalah pembinaan terhadap kawasan beserta seluruh
isinya maupun terhadap aspek pengusahaan yang meliputi kegiatan pemeliharaan
dan pengawasan terhadap kawasan wisata. Objek Wisata Alam yang mempunyai unsur
fisik lingkungan berupa tumbuhan, satwa, geomorfologi, tanah, air, udara dan
lain sebagainya serta suatu atribut dari lingkungan yang menurut anggapan
manusia memiliki nilai tertentu seperti keindahan, keunikan, ke-langkaan,
kekhasan, keragaman, bentangan alam dan keutuhan (Anonymous, 1987).
Suatu daerah untuk
menjadi DTW (Daerah Tujuan Wisata) yang baik harus dikembangkan 3 (tiga) hal
agar daerah itu menarik untuk dikunjungi, yaitu :
1. Adanya something to see, maksudnya adalah
sesuatu yang menarik untuk dilihat.
2. Adanya something to buy, maksudnya adalah
sesuatu yang menarik dan khas untuk dibeli.
3. Adanya something to do, maksudnya adalah
sesuatu aktivitas yang dapat dilakukan di tempat itu.
2.1.2 Jenis Objek Wisata
Penggolongan jenis objek wisata akan terlihat dari ciri-ciri khas yang
ditonjolkan oleh tiap-tiap objek wisata. Dalam UU No. 9 Tahun 1990 Tentang
Kepariwisataan disebutkan bahwa objek dan daya tarik wisata terdiri dari:
- Objek dan daya tarik wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, yang berwujud keadaan alam serta flora dan fauna.
- Objek dan daya tarik wisata hasil karya manusia yang berwujud museum, peninggalan sejarah, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman rekreasi dan tempat hiburan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, objek wisata dapat
diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu wisata buatan manusia dan wisata alam.
Objek wisata Alas Kedaton ini merupakan objek wisata alam, namun para pengelola
objek wisata tersebut juga menambahkan unsur seni yang dapat menarik wisatawan.
Selain itu, juga didukung oleh kondisi pura yang sangat unik yang terdapat di
area objek wisata Alas Kedaton tersebut sehingga terdapat unsur religi.
2.2 Peranan Objek Pariwisata
Peranan adalah suatu tingkatan kedudukan atau tugas utama
yang harus dilaksanakan oleh manusia dalam melaksanakan suatu kegiatan dengan
berbagai cara sehingga dapat menjadi keadaan yang lebih baik dari semula atau
dijadikan banyak, diluaskan, diperindah, atau dipelihara agar keadaan objek
wisata tetap lestari.
Bila dihubungkan dengan pengertian objek pariwisata, maka
yang dimaksud dengan peranan objek pariwisata adalah suatu tingkatan kedudukan
atau tugas yag harus dilaksanakan manusia untuk memelihara, mengembangkan,
meluaskan, memperindah, menambah fasilitas yang ada di objek pariwisata, dengan
tujuan untuk menarik minat orang berkunjung di objek pariwisata.
Sebelum wisatawa mengunjungi objek pariwisata, maka perku
mengetahui terlebih dahulu tentang keadaan objek yang akan dikunjunginya,
seperti:
a. fasilitas transportasi yang akan membawanya
dari dan daerah tujuan wisata yang ingin dikunjungi.
b. Fasilitas akomodasi yang merupakan
tempat sementara tinggal di daerah tujuan wisata yang dikunjunginya.
c. Fasilitas tempat makan dan minum
yang lengkap dan sesuai dengan selera wisatawan tersebut.
d. Objek dan atraksi wisata yang ada di
daerah tujuan yang akan dikunjungi.
e. Fasilitas perbelanjaan
Dari
keterangan di atas, diambil kesimpulan agar wisatawan tertarik untuk
mengunjungi suatu objek wisata, yang perlu dikembangkan adalah:
1.
objek wisata
2.
prasarana dan sarana wisata
3.
promosi objek wisata
4.
pelayana terhadap wisatawan
2.3 Kunjungan Wisata
Kunjungan wisata adalah datangnya pengunjung atau wisatawan
ke suatu objek wisata. Dimana kunjungan wisata ini dapat terjadi apabila ada
sebuah informasi tentang suatu objek wisata. Informasi tersebut dapat bersumber
dari media cetak maupun media elektronik, ataupun dari mulut ke mulut.
selain itu, harus ditunjang dengan peningkatan pemanfaatan Daerah Tujuan
Wisata (DTW).
2.4 Pendapatan Masyarakat
Pendapatan masyarakat merupakan suatu hasil atau upah yang
diterima oleh masyarakat akibat dari aktivitas atau melakukan sesuatu yang
bersifat ekonomis.
2.5
Perwilayahan Pariwisata
Perwilayahan dalam dunia kepariwisataan adalah pembagian
wilayah-wilayah pariwisata yang dapat dipandang memiliki potensi, selanjutnya
dapat dijadikan tujuan yang pasti. Dalam pengertian ilmiahnya wilayah ini
disebut daerah tujuan wisata atau dalam bahasa asingnya tourist destination
area, yang batasnya adalah sebagai berikut: “Yang dimaksudkan dengan
wilayah pariwisata adalah tempat atau daerah yang karena atraksinya, situasinya
dalam hubungan lalu-lintas dan fasilitas-fasilitas kepariwisataannya
menyebabkan tempat atau daerah tersebut menjadi objek kebutuhan wisatawan.
Bila kita pelajari dengan teliti definisi tersebut di atas,
dapat disimpulkan bahwa ada tiga kebutuhan utama yang harus dipenuhi oleh suatu
daerah untuk menjadi tujuan wisata:
1)
Memiliki atraksi atau objek menarik
2) Mudah dicapai dengan
alat-alat kendaraan
3)
Menyediakan tempat untuk tinggal sementara.
Adapun atraksi atau objek menarik yang dimaksudkan adalah
sesuatu yang dihubungkan dengan keindahan alam, kebudayaan, perkembangan
ekonomi, politik, lalu-lintas, kegiatan olah raga dan sebagainya, tergantung
kepada “kekayaan” suatu daerah dalam soal pemilihan atraksi atau objek ini.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Sejarah Alas Kedaton
Alas Kedaton merupakan salah satu objek wisata yang menarik
di Bali. Objek wisata Alas Kedaton memberikan sajian bentuk wisata berupa
bangunan pura yang unik. Bangunan dan suasana objek wisata Alas Kedaton semakin
unik dengan hidupnya segerombolan kera di lingkungan objek wisata tersebut.
Objek wisata Alas Kedaton berlokasi di daerah desa Kukuh, Kecamatan Marga,
Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Tepatnya objek wisata Alas Kedaton terletak
di sebelah timur kota Tabanan yang berjarak 10 km. Di bawah tahun 1980 Alas
Kedaton belum menjadi objek pariwisata dan hanya berupa hutan seluas ±7 hektar,
pada posisi astronomis 8º 20’ 49" Bujur Timur dan 8º 31’ 73" Lintang
Selatan dan pada ketinggian sekitar 170m di atas permukaan air laut yang dihuni
oleh ±1500 kera dan ratusan kelelawar (kalong).
Apabila dilihat dari suku katanya Alas Kedaton artinya hutan
dan kedaton, yang mana kata kedaton berasal dari kata “kedatuan” yang artinya
tempat datu atau raja. Oleh karena itu Alas Kedaton dapat diartikan sebagai
tempat meditasi untuk para raja pada masa tersebut.
Di tengah-tengah hutan ditemukan sebuah pura untuk orang
Bali yang bernama Pura Dalem Khayangan Kedaton sebagai tempat meditasi Ida Ratu
Ngurah Sakti, pura ini sudah ada sejak zaman dahulu. Dari bukti arkeologi
kelangsungan hidup yang ditemukan, di pura tersebut ditemukan sebuah arca
kecil, patung leluhur, patung ganesa dan patung Durga Mahisasuramardhini.
Hingga sekarang pura ini tetap difungsikan sebagai tempat pemujaan untuk
masyarakat sekitar. Pura ini sangat unik, yang mana pura ini dibangun di
tengah-tengah hutan yang suci, dihuni ribuan monyet dan kelelawar. Perayaan di
pura ini dilakukan berdasarkan perhitungan kalender Bali, yaitu pada Anggara
(Selasa) kliwon Madangsia, 20 hari setelah hari Raya Galungan.
Dalam perayaan ini ditemukan beberapa keunikan yang tidak
ditemukan di tempat lain di wilayah Bali, yang mana perayaannya hanya dituntun
oleh seorang pemangku pura tersebut, dilakukan dalam sehari dan harus selesai
sebelum matahri terbenam. Uniknya lagi tidak diizinkan untuk menggunakan topi,
kwangen, penjor, dan tidak diperbolehkan untuk melakukan tabuh rah. Keunikannya
lagi, untuk melengkapi upacara hanya diperbolehkan menggunakan ceniga yang
terbuat dari daun pisang yang tua, sedangkan di tempat lain dibuat dari daun kelapa yang muda.
Tradisi keagamaan yang tetap dilaksanakan hingga sekarang
merupakan kehidupan beragama yang tetap terjaga, didukung dengan solidaritas
masyarakat social yang berakar dari sejarah leluhur zaman dahulu. Oleh karena
itu, eksistensi dari aktifitas kehidupan sosial masyarakat Alas Kedaton dalam
kehidupan sehari-hari dan keagamaan, menjadikan Alas Kedaton sebagai sebuah
area yang penuh dengan aura keagamaan (religius).
Dengan adanya perkembangan pariwisata di bali pada
awal tahun 1960an, maka masyarakat desa kukuh mempunyai inisiatif untuk
menjadikan hutan, pura, dan kera-kera tersebut sebagai modal dalam membentuk
objek wisata. Kemudian Objek wisata ini mulai berkembang sejak tahun 1984
sampai saat ini.
3.2 Perkembangan Alas Kedaton di Tengah Objek Pariwisata Modern
Alas Kedaton merupakan objek wisata alam, sehingga
pemandangan yang disajikan pada objek wisata ini adalah sesuatu yang disediakan
oleh alam. Misalnya, hutan dan kera-kera yang terdapat pada objek wisata
tersebut. Sebagai pengelola, pihak manajemen hanya menjaga kelestarian serta
mengembangkannya dengan cara membangun sarana dan prasarana seperti lahan
parkir, toilet, dan art shop-art shop yang terdapat di dalam objek wisata Alas
Kedaton ini. Dimana sarana-sarana pendukung tersebut guna memberikan kenyamanan
serta kepuasan bagi para wisatawan yang datang.
Objek wisata Alas Kedaton menyajikan pemandangan alami yang
sudah mendapat sentuhan tangan manusia juga dalam hal merenovasi objek wisata
tersebut. Hal ini dilakukan agar dapat memberikan kepuasan bagi para wisatawan
yang datang. Walaupun demikian, pemandangan yang disajikan oleh objek wisata
Alas Kedaton ini masih tetap alami. Sehingga, sampai saat ini objek wisata Alas
Kedaton masih bisa bertahan di tengah persaingan objek wisata modern yang
semakin banyak. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perubahan yang
signifikan terhadap kunjungan wisatawan, baik wisatawan domestik maupun asing.
Dalam proses perkembagannya, pihak-pihak yang terkait dalam
struktur organisasi melakukan promosi melalui organisasi DTW. Selain itu,
mereka juga menggunakan brosur sebagai media promosi. Sesuai dengan
perkembangan teknologi yang semakin maju, mereka juga merencanakan untuk melakukan
promosi pada media-media sosial, misalnya facebook. Hal ini adalah upaya pihak
manajemen objek wisata Alas Kedaton supaya calon-calon wisatawan mengetahui
serta mau mengunjungi objek wisata alam tersebut.
3.3 Sistem Pengelolaan Alas Kedaton
Dahulu sistem pengelolaannya secara tradisional, namun pada
saat ini sistem pengelolaannya sudah mengarah ke sistem pengelolaan yang
modern. Hal ini dapat dilihat dari sistem manajemennya yang sudah memiliki
struktur organisasi. Alas Kedaton merupakan aset desa adat kukuh,
sehingga dalam sistem pengelolaannya langsung dibawah naungan desa adat
tersebut. Masyarakat desa kukuh terlibat langsung dalam pengelolaan objek
wisata ini.
Adapun
pengelolaan yang dilakukan, antara lain:
- Pengelolaan terhadap SDA
Pengelolaan terhadap SDA dilakukan langsung oleh masyarakat
setempat. Mulai dari merawat kera, lingkungan, dan pura. Dalam proses
pengelolaan SDA pada struktur organisasi telah dibagi sesuai dengan keahliannya
masing-masing. Ada petugas yang khusus merawat kera, lingkungan, dan area pura.
Bagi petugas yang merawat kera, bertugas untuk memberi makan dan menjaga kera
agar tidak mengganggu pengunjung. Sedangkan area pura dikelola oleh orang suci
( pemangku ).
- Pengelolaan terhadap SDM
Pihak manajemen alas kedaton membagi sistem pengelolaan SDM
menjadi dua bagian yaitu, pengelolaan terhadap karyawan yang bekerja di Alas
Kedaton dan para pedagang yang berjualan di wilayah Alas Kedaton.
Dalam pengelolaan terhadap karyawan yang bekerja di Alas
Kedaton, setiap tiga tahun sekali dilakukan pergantian karyawan diantara 12
banjar yang ada di desa Kukuh. Hal ini dilakukan agar masing – masing banjar
mendapat pemerataan tugas.
Sedangkan pengelolaan terhadap para pedagang yang terdiri
dari 202 art shop diberlakukan sistem pembagian jadwal setiap 3 kali sehari
untuk mengantar wisatawan. Para pedagang ini harus mengikuti peraturan yang
telah ditetapkan oleh pihak manajemen Alas Kedaton.
3.4 Peranan Alas Kedaton terhadap Pendapatan Masyarakat
Segala hasil atau pendapatan dari objek wisata alas
kedaton digunakan untuk mengelola lingkungan alas kedaton, membayar gaji
karyawan, membayar pajak dan apabila ada kelebihan pendapatan maka digunakan
untuk menutupi kepentingan – kepentingan desa pekraman. Pendapatan objek
wisata alas kedaton bersumber dari pendapatan operasional dan pendapatan
lain-lain. Pendapatan operasional diperoleh dari penjualan tiket. Dimana harga
tiket tersebut telah diatur oleh Peraturan Daerah Provinsi Bali (PERDA Bali).
Sistem pemasukan pendapatan dipungut setiap hari, pertama masuk ke loket,
kemudian dari loket disetor ke manajer. Setelah oleh manajer direkap menjadi
laporan pendapatan bulanan, kemudian laporan pendapatan tersebut disetor ke
pengelola objek wisata Alas Kedaton. Sedangkan pendapatan lain-lain berasal
dari penyewaan lahan untuk art shop bagi para pedagang, pendapatan dari WC, dan
pendapatan dari tiket parkir.
Pendapatan-pendapatan dari objek wisata alas kedaton
memberikan bantuan terhadap kesejahteraan masyarakat di desa kukuh. Contohnya
membantu kesejahteraan karyawan yang bekerja sebagai penjual tiket, walaupun
upah yang diterima tidak sesuai dengan UMR, tetapi cukup untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Karyawan yang bekerja di alas kedaton ingin ikut melestarikan
pariwisata di daerah kukuh, sehingga mereka bekerja secara sukarela atau
“ngayah”.
Selain itu pendapatan dari Alas Kedaton juga memberikan
bantuan kepada desa pekraman kukuh, contohnya membantu untuk keperluan odalan
di pura, melaspas pura dan lain-lain yang berhubungan dengan kepentingan desa
pekraman. Jadi pada umumnya dengan adanya objek wisata Alas Kedaton menjadikan
masyarakat desa kukuh sejahtera dalam hal upacara agama.
Secara umum, pendapatan masyarakat desa kukuh meningkat
dengan adanya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh objek wisata Alas
Kedaton. Karena mayoritas masyarakat desa kukuh memiliki pendidikan yang
rendah, sehingga tidak memiliki pekerjaan tetap. Walaupun karyawan yang
dipekerjakan pada objek wisata Alas Kedaton digilir per banjar setiap tiga
tahunnya, namun yang lebih diutamakan adalah masyarakat yang tidak memiliki
pekerjaan tetap. Tetapi tidak semua karyawan yang bekerja pada objek wisata
Alas Kedaton berpendidikan rendah, ada juga yang sudah sarjana namun mereka mau
untuk dipekerjakan sebagai karyawan pada objek wisata Alas Kedaton ini. Karena
dalam hal ini juga diberlakukan sistem ngayah.
Selain meningkatkan pendapatan masyarakat desa kukuh, objek
wisata Alas Kedaton juga meningkatkan pendapatan para pedagang yang ada di area
objek tersebut. Sebelum terjadinya bom Bali dan berkembangnya tempat
belanja oleh-oleh modern seperti Joger, Erlangga, Krisna, dan sebagainya,
pendapatan para pedagang cukup tinggi. Namun, setelah terjadinya hal tersebut
pendapatan para pedagang menurun secara perlahan. Walaupun demikian, mereka
tetap bertahan untuk bisa menopang perekonomian mereka.
Di
bawah ini merupakan tabel pendapatan dari kunjungan wisatawan ke objek wisata
Alas Kedaton dari 5 Tahun ke belakang :
|
TAHUN
|
PENGUNJUNG
|
|||
|
ASING
|
DOMESTIK
|
|||
|
ANAK
|
DEWASA
|
ANAK
|
DEWASA
|
|
|
2009
|
1.244
|
47.897
|
1.878
|
51.159
|
|
2010
|
1.237
|
47.698
|
1.821
|
50.756
|
|
2011
|
1.589
|
50.037
|
2.017
|
54.456
|
|
2012
|
1.989
|
51.410
|
2.135
|
55.990
|
|
2013
|
1.358
|
10.899
|
1.983
|
11.738
|
|
TAHUN
|
ASING
|
JUMLAH
|
DOMESTIK
|
JUMLAH
|
TOTAL
PENDAPATAN
|
||
|
|
ANAK
|
DEWASA
|
|
ANAK
|
DEWASA
|
|
|
|
2009
|
11.818.000
|
694.506.500
|
706.234.500
|
13.146.000
|
486.010.500
|
499.156.500
|
1.205.481.000
|
|
2010
|
11.751.500
|
691.621.000
|
703.372.500
|
12.747.000
|
482.182.000
|
494.929.000
|
1.198.301.500
|
|
2011
|
15.095.500
|
725.536.500
|
740.632.000
|
14.119.000
|
517.332.000
|
531.451.000
|
1.272.083.000
|
|
2012
|
18.895.500
|
745.445.000
|
764.340.500
|
14.945.000
|
531.905.000
|
546.850.000
|
1.311.190.500
|
|
2013
|
12.901.000
|
158.035.500
|
170.936.500
|
13.881.000
|
111.511.000
|
125.322.000
|
296.258.500
|
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Di
bawah tahun 1980 an, Alas Kedaton belum menjadi suatu objek wisata, melainkan
hanya berbentuk hutan belantara yang dihuni kera, kelelawar, serta terdapat
pura di dalamnya. Namun semenjak tahun 1984, masyarakat desa Kukuh mempunyai
inisiatif untuk menjadikan hutan beserta isinya sebagai objek wisata yang dinamakan
Alas Kedaton.
Objek
wisata Alas Kedaton masih tetap bertahan di tengah bermunculnya objek wisata
modern. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya perubahan yang signifikan
terhadap kunjungan wisatawan baik domestik maupun asing.
Dahulu
sistem pengelolaan objek wisata Alas Kedaton masih tradisional, namun sekarang
sistem pengelolaannya sudah mengarah pada sistem pengelolaan yang modern. Hal
ini dibuktikan dengan terbentuknya struktur organisasi. Adapun pengelolaan yang
dilakukan ada dua, yaitu pengelolaan SDM dan pengelolaan SDA.
Dengan
adanya objek wisata Alas Kedaton, maka ini berarti bahwa terciptanya lapangan
pekerjaan bagi masyarakat setempat. Sehingga objek wisata ini dapat
meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mempekerjakan mereka di dalam pengelolaan
objek wisata Alas Kedaton.
4.2 Saran
Dengan
adanya kegiatan penelitian mengenai peranan objek wisata Alas Kedaton terhadap
kunjungan wisata dalam meningkatkan pendapatan masyarakat, diharapkan kepada
pihak manajemen Alas Kedaton khususnya dan masyarakat pada umumnya agar lebih
meningkatkan lagi kinerja dalam mengelola objek wisata tersebut, serta dapat
membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas agar dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat desa Kukuh.
DAFTAR PUSTAKA
Pendit, Nyoman S. 2002. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana.
Jakarta: Pradnya Paramita.
LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR INFORMAN
1. Nama :
I Gede Subawa
Jenis Kelamin : Laki – laki
Umur : 43 tahun
Jabatan : Kepala Bendesa Adat Kukuh
Alamat : Br. Munggal, Kukuh, Marga, Tabanan
Pura Kahyangan Alas Kedaton

Kera – Kera dan Kelelawar “ Kalong
"di Objek Alas Kedaton





Wisatawan Asing dan Domestik


-->
Suksma :)
BalasHapus