Baby Hello Kitty -->

Senin, 24 September 2012

Cerita Pendek : Sakyo x Ukyo

Part 1:
Hari ini aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian, kejadian yg menimpa ku. hmm ini berawal dari suatu pagi yang cerah, aku datang kerumah paman dan bibiku di jepang, dan mereka mempunyai kerabat yang memiliki anak kembar. Yah umur mereka 1 tahun lebih tua dari ku.
   kemudian kejadian itu pun terjadi...
Kematian Ukyo sang adik... sangat menyayat hatiku dan juga Sakyo, tak pernah ku tahu itu adalah hari terakhir ku melihat tawa dan juga senyum itu.

#### bagian 1###
Pagi yang cerah Ukyo mengajakku ke taman bermain tentu saja bersama dengan kembarannya Sakyo. Mereka memang kembar dari bentuk tubuh,tinggi, bahkan cara mereka tersenyum memiliki kesamaan tidak heran orang tua mereka selalu salah mengenali mereka,mereka kembar identik. namun  dilihat dari segi manapun mereka tetap berbeda karena Ukyo dan Sakyo tetaplah 2 orangf yang berbeda. Sakyo adalah manusia berdarah dingin, kejam dan juga mematikan tapi bisa melakukan apa saja, dia menguasai segala bidang pelajaran dan juga bela diri, sepertinya tidak ada hal yang ia tidak dikuasai berbeda dengan Ukyo yang lembut, ceria dan penuh perhatian daripada Sakyo Ukyo lebih mengerti dan paling bisa diajak bicara. Dialah pangeran ku.
"hei Bodoh... ayo cepat atau nanti kami tinggal"
"iya....."
"kenapa kau memanggilku bodoh....??? dasar Malaikat maut.
" itu karena kau lambat.. seperti kura-kura saja"
"hahahaha...... kenapa kalian berdua selalu bertengkar?"
"haigo Ukyo aku juga tidak mau bertengkar, tapi karena Sakyo yang memulai duluan."
"jadi maksudmu aku yang salah ha.... tikus tingik"
"apa..... tikus tengik?'
"kau manusia iblis"
tak pernah kuduga, setibanya dijepang aku mendapat teman-teman yang mengasikkan.
"apa kau bilang... mau mati ya?"
 "kalian berdua sudah - sudah.... hentikan, seperti anak kecil saja. nah ayo ita makan siang dulu, aku lapar"
 hari sudah semakin siang, saat nya makan siang... akhirnya tiba disebuah restaurant bergaya italia nama restaurant itu adalah La Tavarna.
"Ukyo mau makan apa?" sakyo bertanya sambil menyodorkan menu makan yang ada di restoran
"nah kakak kau sendiri makan apa?'
"terserah kau sajalah"
" nah rin kau makan apa?''
"hmm.... aku mau makan Coverti Da Mera, hehehe" sambil tersenyum senang.
"aku pergi ketoilet dulu ya.... kalian tunggu disini dan jangan kemana-mana"
"baik kak..."
mereka berdua memang bertolak belakang.

ketika sedang asik becerita dengan Ukyo aku tersentak dan melihat dua orang datang dan duduk disebelah kami, Sakyo belum datang juga.

" selamat Siang... " sapa Sakyo yang baru datang dari toilet.
" kau dari mana sja?"
"diamlah"
2 orang pelayan datang memawakan pesanan kami saatnya makan.



Hari ini adalah pagi dimana sakyo datang berkunjung ke sebuah tempat yang sangat dia rindukan, kematian adiknya 3 tahun lalu masih membekas dalam hati dan sampai saat ini dia menyalahkan dirinya sendiri. Putra pertama dari Group SU yang terkenal karena kedudukan dan jabatannya itu mengharuskan ia agar bersikap dingin, acuh, keras dihadapan semua orang disekitarnya. Menjauhi dan tidak terikan dengan siapapun. Itulah ia…. Sang Pangeran.
“bukankah sudah ku bilang padamu berkali-kali jangan pernah dekati aku. Apa kau tidak mengerti kalimat itu hahhh…. (nada marah)”
“sakyo aku tidak bermaksud seperti itu, aku tidak bermaksud mengganggu mu”
“sebaiknya kau cepat pergi sebelum aku menyeretmu keluar dari kamarku”
Tuan anda memanggil kami?
“bawa dia kembali ke rumahnya. Ini perintah.”
Siapa yang menduga bahwa seorang laki-laki sempurna seperti Sakyo akan berbuat hal sekasar itu pada gadis bertubuh kecil itu. Sesak yang dirasakan dalam benak sakyo,itu membuatnya tampak gusar.
‘…. Cepat pergi jangan kembali ketempat ini lagi… ‘
‘.. ini untuk ke 52x nya aku ditendang keluar dengan kasar’
‘Rin daijoubu? ‘ Seorang laki-laki jangkung mengulurkan tangan untuk nya…
Mataku terkesiap membelalak tak percaya, akira datang membantuku? Siapa yang akan menduganya
‘hah…. Akira senpai’, sambil membantuku untuk bangun dari tempatku terduduk. seulas senyum ku lemparkan padanya. Ini dia Akira Shirayuki anak pengusaha dari Jk group.
‘senpai kenapa ada disini? Bukankah kau harusnya ada di paris?’
‘hmm jadi aku tidak boleh pulang ke negaraku sendiri rin?’
‘ah… bukan begitu senpai, aku terlalu terkejut melihatmu tiba-tiba saja datang membantuku.’
‘begitu. ‘
‘ kenapa hanya owhh begitu, setidaknya kau harus menjawab pertanyaanku!’

END STORY



MARIO TEGUH 23 SEPTEMBER

Hari ini aku menyaksikan Golden Ways, dari seluruh rangkaiannya aku sangat terkesan dengan Beliau dengan Topik : when In Love, No Body Is Smart
inilah seberkas motivasi dari Beliau.

##1
"Tadi pagi, saat terbangun dari tidur yang dalam dan restful di hotel kami di Paris, saya menyalakan televisi dan memilih saluran berita internasional.

Di antara berita ekonomi, politik, dan lingkungan hidup – tiba-tiba muncul satu iklan yang terbaik yang pernah saya lihat di dalam 56 tahun usia saya, iklan tentang Indonesia.

… tentang indahnya orang dan alam Indonesia, tentang dinamika dan potensi ekonomi Indonesia, dan tentang undangan untuk berinvestasi di Indonesia. Dan yang dengan cantik ditutup dengan kalimat “Invest In Remarkable Indonesia.”

Memang masih banyak yang harus kita perbaiki di Indonesia, masih banyak saudara kita yang harus kita entaskan dari kemiskinan, dan masih banyak kedamaian yang harus kita bangun di dalam masyarakat kita, tapi itu semua adalah masalah dari keluarga yang sedang tumbuh.

Dalam dua minggu perjalanan kami di Eropa ini – banyak yang kami amati dan pelajari – yang hebat dan yang masih jauh dari jangkauan Indonesia, tapi satu pelajaran yang paling mengendap – yaitu rasa syukur bahwa masih banyak sekali hal di Indonesia yang lebih SESUAI bagi kita sebagai orang Indonesia.

Mungkin untuk jalan-jalan, banyak negara di dunia ini sangat indah dan menyenangkan; tapi untuk hidup – Indonesia masih yang paling sesuai bagi orang Indonesia.

Maka marilah kita segera selesaikan masalah ketidak-jujuran di antara kita. Marilah kita berlaku lebih adil kepada sesama. Marilah kita bekerja keras menghasilkan produk dan pelayanan yang memudahkan kehidupan sesama, agar setiap jiwa Indonesia hidupnya dimudahkan oleh Tuhan.

Marilah kita cukupkan keluhan tentang Indonesia, marilah kita melebihkan kerja cerdas bagi Indonesia.

Bukan hanya masyarakat internasional yang harus terundang untuk Invest In Remarkable Indonesia, tapi terutama orang Indonesia harus menginvestasikan keseluruhan jiwa dan kehidupannya di dan untuk Indonesia.

I love Indonesia."
— Mario Teguh

##2
"Kehidupan ini tidak mudah, janganlah kita lebih mempersulitnya dengan mengeluh dan menyalahkan orang lain.

Marilah kita melakukan sesuatu yang berguna hari ini."
— Mario Teguh

##3
"Sahabat hati saya,

Hidup ini tidak mudah, tapi tidak ada kesulitan yang tidak memiliki jalan keluar.

Janganlah kita berfokus pada yang sulit, tapi pada yang harus kita lakukan dengan lebih baik dan segera.

Mario Teguh - Loving you all as always  

##4
"Adikku yang baik hatinya,

Apa pun yang kau kerjakan, lakukanlah dengan sepenuh hatimu.

Jadilah dirimu yang terbaik.

Engkau tak mungkin akan sepenuhnya berbahagia dengan menjadi kurang dari yang mungkin bagimu.

Ikutilah impian-impianmu; setialah kepada kebaikan yang ada di dalam hatimu.

Jadilah seseorang yang bernilai bagi kebahagiaan sesama.

Jadilah dirimu yang terbaik.

Mario Teguh - Loving you all as always 

##5
"Sahabat saya yang baik hatinya,

A beautiful Monday morning!

Marilah kita memasuki minggu yang baru ini dengan penuh kesungguhan untuk menjadikan kita pribadi yang kehadirannya disyukuri oleh mereka yang kita layani.

KITA TIDAK HARUS BERHASIL DALAM SEMUA HAL,
karena keberhasilan dalam satu hal saja,
sudah lebih dari cukup untuk menjadikan semua hal indah bagi kita.

KEBERHASILAN ADALAH PROSES, bukan tujuan.

NIKMATI PROSESNYA!

Mario Teguh - Loving you all as always 

##6
"Sahabat saya yang baik hatinya, selamat pagi dan salam super!

Kita tidak akan mencapai perubahan yang berarti jika rasa takut kita terhadap kegagalan lebih besar daripada impian-impian kita.

Semoga hari ini Tuhan menyinarkan pengertian dan keyakinan surgawi bahwa kita akan selalu mampu menyelesaikan masalah dan kesulitan yang disodorkan oleh kehidupan.

Semoga hari ini Tuhan mentenagai kesungguhan Anda untuk membangun sebuah kehidupan yang damai, yang sejahtera dan berbahagia bersama belahan jiwa Anda yang cintanya indah dan setia kepada Anda.

Semoga hari ini rezeki Anda melampaui bahkan harapan-harapan Anda yang paling liar indahnya.
Amiin
Mario Teguh – Loving you all from Paris, France.


Mario Teguh - Loving You All as Always

##1
"Tuhanku Yang Maha Lembut,

Malam ini aku datang
menghadapkan wajahku kepada-Mu
dengan hati yang sangat mengasihi
dan patuh kepada-Mu.

Aku memohon restu dari-Mu,
agar aku dapat menua
dengan anggun dan bijak,
tapi tetap muda dan ceria dalam
kesediaan hatiku untuk mencintai.

Tuhanku Yang Maha Pemurah,

Indahkanlah pribadiku,
sejahterakanlah keluargaku,
harumkanlah namaku, dan
muliakanlah peranku bagi sesama.

Aamiin

Mario Teguh – Loving you all as always

##2
"Sahabat hati saya,

Hanya orang yang menampilkan kelemahan yang diperlakukan sebagai orang lemah.

Kuatkan hatimu dan gagahkanlah sikapmu.

Mario Teguh – Loving you all as always

"Sahabat hati saya,

Apa pun yang kau kerjakan, lakukanlah dengan sepenuh hatimu.

Jadilah dirimu yang terbaik.

Engkau tak mungkin akan sepenuhnya berbahagia dengan menjadi kurang dari yang mungkin bagimu.

Ikutilah impian-impianmu; setialah kepada kebaikan yang ada di dalam hatimu.

Jadilah seseorang yang bernilai bagi kebahagiaan sesama.

Jadilah dirimu yang terbaik.

Mario Teguh – Loving you all as always

##3
"Doa Belahan Jiwa Sapu Jagad:

Untuk engkau yang merindukan belahan jiwamu,
ingatlah Tuhanmu itu Maha Kuasa dan Maha Pemurah,
maka mintalah yang terbaik.

Katakanlah ini dengan semua kelembutan hatimu kepada Tuhan Yang Maha Penyayang,

Tuhan, ijinkanlah aku untuk membebaskan permintaanku
bagi seorang belahan jiwa yang:

Mencintai-Mu, sehat, hatinya penuh kasih,

berbudi luhur, cerdas, rupawan, berilmu,

berpotensi ekonomi yang hebat, berwibawa,

penegak kebenaran, penyebar kebaikan,

pengundang sesama kepada Tuhan,

pendekar lingkungan hidup,

dan yang mesra dan lengket hanya kepadaku.

Aamiin


Sabtu, 22 September 2012

Story: Autumn in Paris























 Rp:35.000,-
            
 Kisah cinta tidak akan selalu indah seperti yang kita bayangkan. Terkadang cinta akan dipaksa untuk
gugur di saat sedang bermekaran. Bagaimana masa lalu yang pahit dapat menghancurkan cinta? Dapatkah masa lalu diubah? Seorang Tara Dupont, wanita blasteran Indonesia-Perancis yang sangat menyukai musim gugur di Paris merasa telah memiliki segalanya dalam hidup. Ia hidup di Paris bersama ayahnya dan bekerja sebagai seorang penyiar di stasiun radio yang cukup terkenal. Ia juga mempunyai seorang kakak angkat berkebangsaan Perancis yang ia pikir adalah cintanya.Sampai akhirnya ia bertemu dengan Fujiwara Tatsuya, seorang arsitek yang sedang bekerja di Paris, teman dari kakak angkat Tara. Tatsuya adalah seorang lelaki Jepang yang membenci musim gugur di Paris, namun pertemuannya dengan Tara mengubah pendiriannya tentang musim gugur di Paris. Ia menyukai musim gugur di Paris karena Tara.Awalnya, mereka bertemu secara tidak disengaja. Ternyata, Tatsuya adalah teman dari kakak angkat Tara. Merekapun menjadi semakin dekat dan cocok tanpa disangka-sangka.Masa-masa indah mereka lalui bersama, berjalan-jalan ke tempat-tempat indah di Paris, melihat pemandangan kota Paris yang romantis. Namun sayangnya, kekejaman takdir kehidupan membuat mereka berada dalam suatu dilemma. Masa lalu mereka yang tidak dapat diubah, menghancurkan cinta mereka.Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa… arti tak berdaya… Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup….


 Sebuah kejadian telah membuka tirai masa lalu... Tatsuya harus menjauhkan diri dari Tara, walaupun ia merasa itu sangat sulit. Kenyataan yang pahit telah membuatnya bimbang. Sampai akhirnya Tara juga mengetahui kenyataan pahit tersebut... dan cinta mereka berada di dalam cobaan yang berat... Jalan yang buntu.Buku ini merupakan salah satu buku yang patut untuk dibaca. Ceritanya memang menyedihkan dan mengharukan, namun tidak cengeng. Romantisme juga terasa sekali di dalam novel ini. Seperti saat Tatsuya menuliskan perasaan di dalam surat dan mengirimkannya ke radio.Ilana Tan mengemas cerita ini dengan sangat menarik. Jalan ceritanyapun tidak mudah ditebak. Banyak juga pengetahuan mengenai kota Paris, yang mungkin akan berguna bagi kita. Juga ada banyak kata-kata dalam bahasa Perancis yang dapat kita pelajari.Ilana juga melukiskan pemandangan kota Paris dengan kalimat yang indah, membuat kita menjadi penasaran dengan kota Paris dan ikut membayangkannya.Cerita ini ditutup dengan sebuah kalimat sederhana yang mengandung arti yang ''dalam'':Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu...




Tara Dupont adalah seorang gadis yang menyukai Paris dan musim gugur. Ia mengira sudah memiliki segalanya dalam hidup sampai ia bertemu Tatsuya Fujisawa yang susah ditebak dan selalu membangkitkan rasa penasarannya sejak awal.

Fujiwara Tatsuya benci Paris dan musim gugur. Ia datang ke Paris untuk mencari orang yang menghancurkan hidupnya. Namun ia tidak menduga akan terpesona pada Tara Dupont, gadis yang cerewet tapi bisa menenangkan jiwa dan pikirannya juga mengubah dunianya.

Tara maupun Tatsuya sama sekali tidak menyadari benang yang menghubungkan mereka dengan masa lalu, adanya rahasia yang menghancurkan segala harapan, perasaan, dan keyakinan. Ketika kebenaran terungkap, tersingkap pula arti putus asa arti tak berdaya Kenyataan juga begitu menyakitkan hingga mendorong salah satu dari mereka ingin mengakhiri hidup.
Seandainya masih ada harapan—sekecil apa pun—untuk mengubah kenyataan, ia bersedia menggantungkan seluruh hidupnya pada harapan itu.

aku sangat menyukai Novel karangan Ilana Tan, Novel yang bisa mengundang Airmataku mengalir....... 

 

Story of Loved of God

LOVED BY GOD

This is story of motivate for all,  One day, a child in the house to eat a very famous and expensive. He entered alone and wearing casual clothes, not like the other kids are wearing good clothes. He sat in a chair and raised his hand to call a waiter.

A maid approached the boy and give the diet books. The waiter was a little surprised why the little boy dared to go into the restaurant is expensive, but from the looks, the waitress was not sure that the child can afford the food there.

"How much ice cream strawberry sauce and chocolate were" asked the little boy.

The waiter replied, "Fifty thousand,"

The little boy put his hands in his pockets and took some coins and count them. Then he again asked, "If that was not ice cream strawberry sauce and chocolate?"

The waitress frowned, "Twenty thousand,"

Again the little boy taking a dime from his pants pocket and counted. "If I get a half of ice cream without chocolate strawberry sauce and how?"

Upset with the small buyer behavior, the waitress replied curtly, "Ten thousand!"

The child then smiled, "Well I'm the message, thank you!"

The maid take orders and deliver to the kitchen and returned with ice cream orders. The boy seemed happy and enjoying ice cream that only half the joy. He ate ice cream until they run out. Then the waitress came back giving a memorandum of payment.

"All the ten thousand is not it?" Asked the boy ice cream orders and paying with a stack of pennies. The face of the waiter looked sourly at having to recalculate the dime-dime it. Then the boy took out a fifty thousand of his pocket behind, "and these tips for you!" Said the boy as he handed him the money to the waiter.


So, what can we conclude?
This point of his "There are times when we do not see what is attached to it as an assessment of a person's body.'s not a nice thing to belittle someone because seeing judgment from the outside, you would never know at some time in the future, someone that you may dismiss an introduction to an unexpected windfall. "


 

Story: WINTER IN SEOUL

Winter in Seoul


Author : Pinky Girl
Main Cast : Gongchan, Jiyeon, Minwoo
Support Cast : Find ur self..;)
Genre : Romance , Life
Rating : PG 17
Type : One Shoot
Poster by YeonNia Art Work

Happy Reading

“Chanie-aaaaaahh..” Jiyeon memanggil Gongchan dengan sekencang-kencangnya dan membuat orang yang ada di lapangan basket itu melihat ke arah Gongchan dan Jiyeon sekarang ini.

Dia berlari menghampiri Gongchan dan memeluk tangannya.
“Yaa..kau tidak perlu berteriak seperti itu untuk memanggilku, memangnya kau pikir aku ini tuli apa??” Gongchan menutup wajahnya dengan buku yang dia pegang karna malu.
“Memangnya kenapa?? Kau malu?? Hei..hei..Chanie-ah..Chanie-ah..” Jiyeon berteriak memanggil nama Gongchan berkali-kali dan Gongchan langsung membekam mulut Jiyeon.
“Euuu…” Jiyeon berusaha bicara namun Gongchan tetap membekam mulutnya.
Tapi akhirnya Gongchan melepaskan tangannya dari mulut Jiyeon.
“Ya..kau mau mebunuhku yah??”
“Salahmu sendiri, bertingkah bodoh, kau memang tidak pernah berubah”
“Hah,,kalo aku berubah, apa kau suka, huh?? Oya my beetle, aku pinjam catatan Bahasa Inggrismu lagi yah, kemarin aku malas mencatatnya, kau tau kan aku selalu mengantuk tiap kali pelajaran si Pak Botak itu” Jiyeon mengerucutkan bibirnya.
“Hah,,lagipula kapan sih kau tidak malas?? Yang aku tau tiap pelajaran kau selalu malas untuk mendengarkan penjelasan Guru”
“Aigo…My beetle, kau sepertinya sudah sangat memahami aku yah, haha..” Jiyeon tertawa puas.
“Babo..” Gongchan memukul kening Jiyeon.
“Yaa..channie-ah, nappeun..” Jiyeon mengelus-ngelus keningnya yang putih dan mulus itu.
Saat menuju kelas, Jiyeon dan Gongchan bercanda sepanjang jalan dan tiba2 Jiyeon tidak sengaja menabrak tubuh seseorang karna saat itu Jiyeon berjalan mundur.
Bruuk..
Semua buku yang di bawa orang itu berjatuhan…
“Omooo…mianhamnida chingu, akuuu…” Belum Jiyeon menyelesaikan ucapannya, dia malah terus menatap orang itu dengan tatapan terpesona.
“Biar aku bantu bereskan” Gongchan dengan sigap langsung membereskan buku2 itu.
“Gomawo..” ucap orang yang di tabrak Jiyeon tadi dengan datar dan dia langsung pergi meninggalkan Jiyeon yang masih mematung menatapnya.
“Babo..dia sudah pergi, apalagi yang kau lihat??” ucapan Gongchan membuyarkan lamunan Jiyeon dan dia juga pergi meninggalkan Jiyeon.
“Yaa..My beetle, jamkkanmanyo….” Jiyeon berlari dan berusaha mengejar Gongchan.
Di kelas…
“Chaniie-ah, laki2 tadi siapa yah?? Sepertinya kita belum pernah melihat dia yah?” Jiyeon menempelkan pensil di kepalanya mencoba berfikir apakah laki2 itu memang murid di sekolahnya atau murid baru.
Tidak lama guru datang dan membawa seseorang.
“Channie-ah, lihat itu kan laki2 yang tadi??” Jiyeon menunjuk2 ke arah laki2 itu dengan pensilnya.
“Ssstt…diam dan dengarkan apa yang ingin di katakan oleh Pak Guru”
Gongchan dan Jiyeon memasang telinga mereka baik2 untuk mendengarkan ucapan Guru mereka.
“Selamat Pagi anak2″
“Pagi Pak Guru…”
“Anak2 hari ini kita kedatangan murid baru, dia pindahan dari Gwangnam, Min Woo silahkan perkenalkan dirimu”
“Annyeong Haseyo chingudeul…Min Woo imnida, aku pindahan dari Gwangnam, mohon bimbingannya”
“Ne…Min Woo-ssi manaseyo bangapseumnida…” jawab murid2 dalam kelas itu dengan serentak.
Min Woo duduk dengan murid bernama Jin Hoo dan tepat di sebelah Gongchan yang duduk dengan Jiyeon. Dan selama pelajaran berlangsung Jiyeon terus memandang Min Woo.
Jam Istirahat
“Min Woo-ssi tunggu..” Jiyeon menghampiri Min Woo yang baru keluar dari kelas.
“Mwo??”
“Ah..ehmm..soal tadiii, aku mau minta maaf, aku tadi tidak sengaja menabrakmu, lagipulaaa…”
“Ye,,gwaenchanayo…”
“Ne..??”
“Oya,,kita belum kenalan secara langsung, Min Woo imnida”
“Ah..Jiyeon imnida..” Jiyeon menyambut tangan Min Woo dan menyalaminya dengan wajah sumringah.
“Kau,,mau temani aku istirahat??”
“Ne..?? Ah,,ye, tentu saja..” Jiyeon langsung pergi bersama Min Woo dan tidak menghiraukan Gongchan yang sedari tadi menunggunya di pintu.
Pulang Sekolah…
“Channie-ah,,tunggu aku….” Jiyeon berusaha mengejar Gongchan yang waktu keluar kelas langsung pergi meninggalkan Jiyeon dan tidak menghiraukannya sama sekali.
“Ya..Channie-ah, wae gurae?? Kenapa kau meninggalkanku?? Kau ini kenapa sih?? Sehabis istirahat tadi ko sepertiya jadi jutek padaku??”
Gongchan tidak menjawab, dia terus mempercepat langkahnya.
@Gongchan’s House
“My beetle kau sedang apa???”
Gongchan hanya membaca pesan dari Jiyeon itu dan dia langsung menaruh kembali Hp nya di kasur.
5 menit kemudian…
“Channie-ah, kau sudah tidur??”
Akhirnya Gongchan memutuskan untuk memejamkan matanya dan tidak membalas semua pesan2 Jiyeon yang langsung memberudul.
Keesokan harinya….
“Channie-ah…” Jiyeon menghampiri Gongchan yang berjalan di lapangan basket menuju kelas.
“Ya…babo-ah, kenapa semalam kau tidak membalas pesan2 ku??”
“Memangnya kau mengirimku pesan?”
“Aku mengirim 10 pesan padamu, ara??”
“Jinja?? Tapi pesan2 mu tidak masuk” Gongchan terus berjalan tanpa melirik Jiyeon sedikitpun.
“Hei…Jiyeon..” terdengar suara seseorang memanggil Jiyeon dan Jiyeon langsung menoleh ke arah orang itu.
“Hei..Min Woo…” Jiyeon melambaikan tangannya dengan wajah yang berseri-seri sampai2 dia tidak menyadari kalo Gongchan sudah menghilang dari hadapannya.
Akhirnya Jiyeon dan Min Woo berjalan bersama menuju kelas.
Di kelas…
“Channie-ah, ko kamu duduk sama Jin Hoo??”
“Aku sedang ingin duduk bersamanya” Gongchan menjawab dengan sangat datar.
“Lho, terus aku duduk dengan siapa??”
“Kalo begitu kau duduk saja denganku” Min Woo menawarkan diri untuk duduk bersama Jiyeon dan jelas itu membuat Jiyeon bahagia bukan kepalang.
5 jam kemudian…
“Baik anak2, sekian dulu pelajaran dari Bapak, besok jangan lupa kerjakan PR kalian yah..Annyeong”
“Annyeong Pak Guru..”
“Jiyeon, kau mau menemaniku istirahat lagi kan??”
“Ne..?” Jiyeon sempat melihat ke arah Gongchan namun yang di lihatnya itu masih sibuk membereskan buku2 ke dalam tas nya.
“Jammkanmanyo..” Jiyeon berdiri dan menghampiri Gongchan.
“Channie-ah,aku mau istirahat dengan Min Woo, kau tidak apa2 kan sendirian??”
“Pergilah, lagipula aku tidak ingin istirahat” Gongchan menatap Jiyeon sinis.
“Ye…? Wae??”
“Jiyeon, kaja..” Min Woo menarik tangan Jiyeon dan dia akhirnya pergi dengan Min Woo meninggalkan Gongchan yang belum sempat menjawab pertanyaannya.
Di kantin…
“Kau mau makan apa??”
“Ye..?? Ah..aku dan Gongchan suka memesan Nugget asam manis *kantinnya pasti mewah banget, menunya pake ada yang begituan segala..lol
“Oh..baiklah, biar aku pesankan”
“Jiyeon, boleh aku bertanya sesuatu?” sambil menunggu makanannya datang, Min Woo mengajak ngobrol Jiyeon, dia duduk di depan Jiyeon.
“Mwo??”
“Apakah kau dan Gongchan punya hubungan khusus??”
“Ohok..ohok..” Jiyeon yang sedang minum air putih tiba2 tersedak mendengar pertanyaan Min Woo tadi.
“Jiyeon,,gwaenchana??” Min Woo mengelus-ngelus punggung Jiyeon.
“Ah..ye, gwaenchana..” Jiyeon tersenyum
“Maaf kalo pertanyaanku tadi terlalu pribadi”
“Ah..aniyo,,hmm..sebenarnya aku dan Gongchan teman sejak SMP, kami sangat dekat dan karna sekarang juga kami satu SMA, jadi hubungan kami semakin dekat, tapi itu hanya sebatas teman, bagiku dia adalah sahabat yang terbaik, karna dia sangat mengerti aku”
“Jinja??”
“Ya,,tentu saja benar” Jiyeon merasa sekarang wajahnya mulai memerah karna Min Woo menatapnya dengan  lekat.
“Ah,,makanannya sudah datang, ayo kita makan, pasti enak, hehe…” Jiyeon berusaha mengontrol dirinya untuk tidak salah tingkah di depan Min Woo dan dia mengalihkan pandangan Min Woo dengan menyentuh Nuggetnya yang sudah datang.
Min Woo hanya tersenyum melihat tingkah Jiyeon saat makan.
“Ternyata kau lucu juga yah??”
“Ye…??”
Dag..Dig..Dug..
“Ya Tuhan semoga dia tidak mendengar suara detak jantungku sekrang ini yang sangat keras seperti dentuman bom yang mau meledak” gumam Jiyeon dalam hati.
3 minggu berlalu, Jiyeon semakin dekat dengan Min Woo dan hubungannya dengan Gongchan semakin renggang karna sekarang Jiyeon lebih sering pergi sekolah, pulang sekolah dan istirahat pun bersama Min Woo. Gongchan pun seolah tidak mau mengganggu kebahagiaan yang sekarang ini di rasakan Jiyeon, jadi dia hanya akan menjawab pertanyaa Jiyeon seperlunya, dan jika mereka bertemu Gongchan hanya menyapa dengan senyuman datar.
***
“Teman2 hari ini datang yah ke acara Ulang Tahunku yang 17 tahun…” Jiyeon membagi-bagikan undangan ke teman2 sekelasnya.
“Wah,,,asyiik,kita makan2..”
“Min Woo-ah, kau pasti datang kan malam ini??” Jiyeon memberikan undangan pada Min Woo dengan wajah tersipu.
“Tentu saja, karna aku akan memberikan kejutan padamu”
“Apa?? Kejutan?? Kejutan apa??”
“Hmm..kalo aku beritau, bukan kejutan lagi namanya”
“Oh,,baiklah, kalo begitu aku jadi tidak sabar ingin cepat2 malam hari, hehe…”
Gongchan yang melihat keakraban antara Jiyeon dan Min Woo tak mampu berkata apa2, dia merasa sudah kehilangan sosok Jiyeon yang selama ini selalu menempel dengannya ke manapun.
***
Jiyeon mengenakan gaun berwarna putih di acara Sweet Seventeen nya, terlihat dia sedang mencari sosok seseorang yang belum juga datang. Tidak lama kemudian Gongchan datang sendirian mengenakan kemeja kotak2 putih dan membawa sebuah kado.
“Hei..Channie-ah, terima kasih yah sudah datang” Jiyeon mencium kedua pipi Gongchan dengan pipinya.
“Selamat Ulang Tahun.” Gongchan menyerahakn kadonya pada Jiyeon.
“Waaahh…kau memberiku kado juga?? Hmm…ini pertama kalinya kau memberiku kado yang lumayan besar, haha..”
Gongchan sempat ingin mengatakan sesuatu, tapi tiba2 seseorang mengalihkan pandangan Jiyeon, dan orang itulah yang sedang di tunggu2 Jiyeon.
“Min Woo-ah..kau akhirnya datang juga” Jiyeon tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat kedatanagn Min Woo dan Gongchan hanya bisa mematung saat Jiyeon menarik tangan Min Woo untuk masuk ke dalam rumahnya.
Pesta pun di mulai, Jiyeon mengucapkan terima kasih pada semua teman2 nya yang sudah hadir di acara Ulang Tahunnya yang ke 17 itu, tidak lama kemudian semua teman2 nya menyanyikan lagu Ulang Tahun untuknya dan Jiyeon meniup lilin Kue Ulang Tahunnya.
“Jiyeon-ah, kau mau memberikan fisrt cake ini untuk siapa??” kakak Jiyeon yang ada di sebalahnya, membantu memotong Kue Ulang Tahun adik tersayangnya itu.
Jiyeon langsung meilirik ke arah seseorang.
“Min Woo-ah, ini untukmu” Jiyeon akhirnya memberikan Fisrt Cake nya itu untuk Min Woo dan tentu Gongchan yang melihatnya sangat sedih karna padahal setiap Jiyeon Ulang Tahun, Gongchan lah yang selalu di beri First Cake, dan dengan hati yang sakit Gongchan langsung meninggalkan ruangan itu.
***
Selesai tiup lilin, potong kue dan makan2, Jiyeon dan Min Woo mengobrol di taman belakang rumah.
“Jiyeon-ah…kau sangat cantik malam ini” Min Woo menatap Jiyeon yang duduk di sebelahnya di kursi taman belakang rumah.
Dag..Dig..Dug..Dag..Dig..Dug..
Jiyeon semakin tidak bisa mengontrol hatinya setiap kali berada di samping Min Woo.
Min Woo mengeluarkan sebuah kotak kecil.
“Ini hadiah kecil untukmu, semoga kau suka”
“Ige mwoya??” Jiyeon membuka kotak itu.
“Omoo..Min Woo-ah cantik sekali”
“Kau suka??”
“Ehmm…” Jiyeon mengangguk mantap
“Sini biar aku pakaikan” Min Woo memakaikan kalung berliontin hati ke leher Jiyeon.
“Yeppeota…” Jiyeon memegang terus kalungnya dengan sumringah.
“Gomawo Min Woo-ah….”
“Ne..choenmaneyo…”
“Jiyeon-ah…”
“Ehmm..??”
“Ada yang ingin aku katakan”
“Mwo??” Jiyeon memandang ke arah Min Woo.
“Sebenarnya dari pertama kali aku mengenalmu, aku sudah menyukaimu” Min Woo semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Jiyeon dan membuat Jiyeon hanya bisa terdiam kaku seperti es.
Hancur sudah harapan Gongchan untuk bisa dekat lagi dengan Jiyeon, karna ternyata sekarang Jiyeon benar2 sedang merasakan kebahagiaanya bersama Min Woo. Gongchan melangkah pergi dengan langkah yang gontai, saat beberapa saat lalu dia melihat Min Woo mencium Jiyeon dan Jiyeon pun tidak menolaknya.
Keesokan harinya….
“Channie-aaahh….” Jiyeon memeluk Gongchan dengan girang saat Gongchan berjalan menuju kelas, tapi Gongchan hanya diam pasrah di peluk Jiyeon *bukan pasrah kali tapi demen, hihihi..;D
“Yaa..kau tau, sekarang aku sedang bahagiaaaaaaa sekali…” Jiyeon berputar-putar untuk mengekspresikan rasa bahagianya.
“Jinja?? Baguslah, lagipula selama ini aku tidak pernah melihat kau sebahagia ini”
“Anhi….kau tidak bertanya kenapa aku bahagia??”
“Karna Min Woo kan??”
“Bagaimana kau tau??? Ahh..ya aku ingat, kau kan sangat mengerti aku, jadi kau pasti sudah tau tentang ini sebelum aku bilang padamu, haha..” Jiyeon mencubit pipi Gongchan.
“Chagia..” Min Woo tiba2 datang menghampiri Jiyeon dan Gongchan.
“Yaa…yobo..” Jiyeon langsung melepaskan tangannya yang sedang menggenggam lengan Gongchan.
“Channie-ah,,aku pergi duluan yah, nanti kita bertemu di kelas, eoh??” Jiyeon langsung meninggalkan Gongchan tanpa membiarkan Gongchan untuk menjawab sepatah katapun.
Di kelas…
“Channie-ah, aku mau duduk dengan Min Woo yah, jadi kau duduk dengan Jin Hoo saja, okey??” Jiyeon langsung duduk di bangku sebelah Min Woo tanpa menghiraukan jawaban Gongchan.
Beberapa hari berlalu, Jiyeon semakin menjauh dari Gongchan, dan Jiyeon seolah sedang terbuai oleh rasa cintanya terhadap Min Woo sampai2 dia melupakan Gongchan yang selama ini sudah menemani Jiyeon beberapa tahun dan sangat memahaminya.
“Channie-ah,,,hari ini aku mau kencan dengan Min Woo, dan pasti pulang malam, jadi aku tidak akan sempat mengerjakan PR Matematika untuk besok, kau mau bantu aku mengerjakannya kan,eoh??” Jiyeon menghampiri Gongchan saat keluar kelas pada jam bubar sekolah.
“Anhi…aku malas…”
“Channe-ah,,jebal, eoh??” Jiyeon memasang wajah memelas dengan penuh harapan permintaannya itu di kabulkan Gongchan, dan itulah salah satu kelemahan Gongchan, selalu tidak bisa menolak setiap permintaan2 Jiyeon.
“Ara..ara…mana bukumu, biar nanti aku yang kerjakan PR mu..”
“Choengmal?? Aigoo..gomawoyo My beetle…mwuah..” Jiyeon mengecup pipi Gongchan dan spontan itu membuat Gongchan seolah terpaku tidak dapat melangkahkan kakinya karna kaku, untuk pertama kalinya Jiyeon mencium pipinya.
“Yobo..kaja..” Jiyeon menggenggam tangan Min Woo yang sudah menunggunya di luar kelas.
“Channie-ah, aku pergi yah. Annyeong..” Jiyeon melambai dan dalam beberapa detik dia menghilang dari hadapan Gongchan yang masih terpaku.
***
Karna keadaan keluarganya yang hidup sederhana, memaksa Gongchan akhirnya sekarang harus memikul beban untuk menanggung biaya sekolahnya sendirian. Ayah Gongchan sudah meninggal saat Gongchan berumur 5 tahun karna menderita Leukemia, Ibunya hanya seorang pedagang kue basah di pasar. Dan sudah seminggu ini Ibunya tidak bisa jualan lagi karna sakit, akhirnya Gongchan bekerja sampingan. Sudah seminggu ini Gongchan bekerja sampingan di sebuah pub, sebagai pelayan.
“Channie-, tolong antarkan minuman ini ke meja nomor 20 yah”
“Ne…”
Saat Gongchan akan mengantar minuman  ke meja yang di tuju, tiba2 dia melihat sosok yang dia kenal, tenyata itu meja Min Woo.
“Bukankah itu Min Woo?? Kenapa dia ada di sini bersama wanita2 itu?? Apakah Jiyeon tau?? Brengsek, aku yakin Jiyeon pasti tidak tau” Gongchan mulai emosi melihat Min Woo yang sedang minum2 dengan wanita lain.
Gongchan mengantarkan minuman itu ke meja Min Woo. Dengan wajah menahan marah, dia menyimpan satu per satu minuman itu di meja. Min Woo masih belum sadar kalo pelayan yang mengantar minuman itu adalah Gongchan. Karna sudah semakin kesal, akhirnya Gongchan pura2 menumpahakn minuman ke baju Min Woo.
“Yaaa….kau ini bisa kerja tidak sih?? Lihat bajuku basah semua, kau tau berapa harga bajuku ini,huh??” Min Woo mengelap-ngelap bajunya tanpa melihat ke arah Gongchan.
“Anhi….aku memang tidak tau berapa harga baju itu, tapi aku tidak peduli, dan sekarang biar aku beri kau pelajaran karna kau sudah mengkhianati sahabatku”
Buggg…
Gongchan mendaratkan tinju ke wajah Min Woo sebanayk dua kali.
“No…??” Min Woo mencoba berdiri dan melawan, tapi akhirnya dia tau kalo ternyata pelayan itu adalah Gongchan.
“Bukankah, kauu..”
“Ya..aku Gongchan, sahabat dekat Jiyeon, kekasihmu, ara?” Gongchan menekankan kata2 nya di depan wajah Min Woo.
Min Woo menghapus darah yang ada di bibirnya karna pukulan Gongchan, dia tidak melawan dan hanya bisa terdiam.
***
“Yobo,,wajahmu kenapa?? Ko memar begitu?? Kau habis bertengkar yah??” Jiyeon memegang wajah Min Woo dengan penuh rasa cemas saat pelajaran sekolah belum di mulai.
Gongchan yang mendengranya hanya menatap ke arah Min Woo dengan wajah masih emosi.
“Ah..anhi, tadi malam hanya ada pertengkaran kecil saja dengan temanku, tidak apa2″
“Jinja???”
“Ne…”
Jam istirahat…
“Gongchan Shik…” Jiyeon tiba2 datang menghampiri Gongchan yang sedang duduk di kelas dan langsung menampar wajahnya.
“Ya…?? Apa yang kau lakukan??” Gongchan langsung beranjak dari duduknya.
“Apa yang ku lakukan?? Kau tidak perlu pura2 tidak tau seperti itu, semalam kau  menghajar Min Woo kan?? Kau ini kenapa sih, kau tidak suka aku pacaran dengannya? Kenapa, kau cemburu padaku, huh?? Heii..ingat kita ini hanya teman, dan aku tidak suka kalo kau ikut campur urusanku, ara???” Jiyeon langsung pergi meninggalkan Gongchan yang masih kebingungan sebenarnya Jiyeon tau dari siapa kalo semalam dia menghajar Min Woo dan apakah  Jiyeon tau apa alasan dia melakukan itu??
***
Hubungan Jiyeon dan Gongchan semakin memburuk, Jiyeon bahkan tidak pernah mau melihat Gongchan atau menyapanya lagi. Gongchan semakin sakit dan sedih, dia benar2 sudah kehilangan sahabatnya yang selama ini ternyata dia cintai secara diam2.
Hari ini saat Gongchan akan pergi bekerja, dia melihat Jiyeon sedang berjalan dengan wajah marah dan terburu-buru. Gongchan mengikuti Jiyeon dari belakang, dan akhirnya Jiyeon berhenti di sebuah pub. Gongchan mulai khawatir kenapa Jiyeon bisa masuk ke pub itu. Karna penasaran dan rasa khawatirnya, Gongchan mengikuti Jiyeon masuk ke dalam pub.
Plaaakk…
“Jadi,,seperti ini kau di belakangku, huh??” Jiyeon menampar wajah Min Woo dengan keras dan mulai meneteskan air matanya.
“Chagia, jamkkanman, aku bisa jelaskan padamu”
“Anhi…tidak ada yang harus kau jelaskan lagi, sudah cukup jelas bagiku, bahwa kau bukan pria baik2, ini ku kembaliakn kalungmu, aku tidak sudi memakainya” Jiyeon melemparkan kalung pemberian Min Woo tepat ke wajahnya, dan dia berlari keluar dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras.
“Hei..My bee,,kau sangat jelek kalo menangis seperti itu” Gongchan masih mengikuti Jiyeon dari belakang saat dia keluar dari pub tadi.
“No? Kenapa kau bisa ada di sini??” Jiyeon menoleh ke belakang dan masih menangis terisak.
“Babo….pantas saja si brengsek itu bisa mengkhianatimu, kau memang wanita bodoh yang mudah di bohongi” ucap Gongchan datar.
“No…?? Kalo kau ingin membuat aku semakin menangis lebih baik sekarang kau enyah dari hadapanku, aku ingin sendiri” Jiyeon kembali berjalan.
“Baiklah, aku pergi..” tanpa berkata sepatah katapun lagi, akhirnya Gongchan benar2 pergi meninggalkan Jiyeon.
Jiyeon kembali menoleh ke belakang, dan Gongchan sudah berjalan menjauh darinya.
Akhirnya sekarang Jiyeon yang mengikuti Gongchan diam2.
“Mwo?? Kenapa dia masuk ke dalam pub itu??” Jiyeon di buat penasaran, dan dia dengan hati2 mengikuti Gongchan sampai masuk ke dalam Pub.
Sampai akhirnya Jiyeon melihat Gongchan mengganti pakaiannya dengan seragam pelayan.
“Omoo..apakah mungkin diaaaa, bekerja di sini sebagai pelayan??” batin Jiyeon tidak menyangka ternyata selama ini dia sudah terlalu jauh dari Gongchan sampai2 dia tidak tau kalo sahabatnya itu bekerja sebagai pelayan di sebuah pub.
Pukul 24.00
Gongchan bersiap-siap untuk pulang, dia keluar dari pub dan berjalan meuju halte bis.
“Mian…”
Gongchan menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
“Jiyeon-ah, kau sedang apa di sini??”
“Babo, tentu saja daritadi aku menunggumu pulang”
“Mwo?? Kauuu, menunggu aku pulang?? Jadi sejak tadi siang kau ada di sini??”
“Kau tidak lihat aku masih pakai baju yang tadi siang, huh??”
Dalam hati Gongchan sangat sedih karna ternyata Jiyeon sampai menunggunya pulang, tapi Gongchan juga tidak mau langsung memperlihatkan rasa sedih dan khwatirnya terhadap Jiyeon, karna dia ingat, beberapa hari laluJiyeon sedang marah padanya.
“Salahmu sendiri, aku tidak menyuruhmu menunggu kan??” Gongchan kembali berjalan.
“Yaaa..kau ini tidak berterima kasih, aku sudah menunggumu semalaman tapi kau malah meninggalkanku”
Gongchan tidak menjawab, dia hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Jiyeon yang masih ada di belakangnya.
“Yaa..Chanie-ah, kau marah padaku, huh?? Aku kan sudah minta maaf..Ya Gongchan Shik..” Jiyeon mulai marah karna Gongchan tetap tidak menghentikan langkahnya.
Keesokan harinya…
“Channie-ah, aku boleh duduk di sini lagi kan??” Jiyeon masih menggendong tas nya dan sekarang sedang menunggu jawaban dari Gongchan.
“Lakukan apa yang kau suka” jawab Gongchan datar.
“Gomawo..” Jiyeon tersenyum dan langsung duduk di sebelah Gongchan.
Jiyeon tidak menghiraukan Min Woo yang sedari tadi menatapnya. Jiyeon benar2 marah, dia tidak ingin lagi bicara dengan Min Woo, bahakn dia tidak membalas atau mengangkat telfon dari Min Woo yang meminta maaf padanya.
***
Musim salju di Korea telah tiba, hubungan Jiyeon dan Gongchan juga sudah kembali baik, bahkan belakangan ini hubungan mereka lebih dekat lagi. Jiyeon sering mengantar makanan ke tempat kerja Gongchan saat Gongchan istirahat.
“Hei..my bee, besok kau ada acara??”
“Anhi, wae?”
“Besok datanglah ke alamat ini, sore hari jam 4 aku tunggu, ara??”
“Hmm..memangnya ada apa??”
“Sudah jangan banyak bicara, datang saja, dan jangan terlambat, awas kalo kau terlambat”
“Hmm..memang kalo aku terlambat kau akan lakukan apa padaku, huh??”aku akan menciummu, Gongchan memukul kening Jiyeon dan langsung beranjak.
Dag..Dig..Dug…
“Astaga, apa ini, kenapa jantungku berdebar seperti ini saat dia berkata seperti itu, padahal aku tau dia berkata seperti itu pasti hanya bercanda, kan?? Dan barusan dia memukul keningku seperti biasa, tapi aku tidak merasakan sakit sedikitpun?? Aiisshh…apa yang sedang aku rasakan sebenarnya??” Jiyeon berbicara pada dirinya sendiri dalam hati.
“Ya…kenapa melamun seperti itu?? Cepat pulang sudah sore, nanti Ibumu mengkhawatirkanmu”
“Ah..ye,,kalo begitu aku pulang yah”
“Ne…hati2 lah..”
***
Jiyeon kebingungan akan memakai baju apa hari ini untuk pergi dengan Gongchan. Dia mengeluarkan hampir semua bajunya yang ada di lemari.
“Astaga apa ini bisa di namakan dengan kencan?? Apa Gongchan kemarin bermaksud mengajakku berkencan hari ini?? Lalu kenapa sekarang aku begitu senang?? Dan kebingungan setengah  mati untuk memilih baju saja?? Ya Tuhaaaaannnn…” Jiyeon membaringkan tubuhnya di kasur dengan sprei Strawberry nya itu.
Di taman…
“Kau terlambat 5 menit” Gongchan melihat ke arah jam tangannya saat Jiyeon tiba di sebuah taman yang di maksud Gongchan.
“Yaa….tadi macet sebentar, makannya aku datang terlambat” Jiyeon membenarkan posisi upluk yang dia pakai.
“Musim salju seperti ini, kenapa kau mengajakku ke tempat seperti ini???” Jiyeon duduk di sebelah Gongchan dengan tubuh yang mulai kedinginan.
“Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu”
“Apa itu??”
Gongchan memberikan paper bag berisikan sebuah kotak yang dia bawa untuk Jiyeon.
“Bukalah..”
Jiyeon mengeluarkan kotak itu dan membukanya.
“Syal??” Jiyeon mengeluarkan isi dari kotak itu.
“Yah,,aku hanya ingin memberikan syal yang sengaja aku rajut sendiri ini khusus untukmu, karna sekarang sedang musim salju, dan aku tau kau sangat suka dengan musim salju, jadi kalo kau keluar pada saat musim salju tiba, kau harus selalu ingat untuk memakai syal ini, ara??” Gongchan melingkarkan syal itu pada leher Jiyeon.
“Gomawo…channie-ah…”
Gongchan dan Jiyeon saling menatap, dan wajah mereka pun semakin mendekat, akhirnya Gongchan mendaratkan ciuman nya di bibir manis Jiyeon.
@School
Gongchan tiba2 merasakan pusing di kepalanya, hidungnya mengeluarkan darah saat dia pergi ke toilet. Gongchan benar2 tidak kuat menahan rasa sakit di kepalanya itu.
“Chanie-ah..apa kau di dalam??” Jiyeon mengetuk pintu kamar mandi di mana Gongchan ada di dalamnya karna Jiyeon khawatir kenapa dia pergi ke toilet lama sekali.
“Ye..aku di dalam” tidak lama kemudian Gongchan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sangat pucat.
“Omo..chanie-ah, wajahmu pucat sekali?? Kau sakit yah??”
“Ah…anhi, perutku sakit sekali, tadi aku berkali-kali membuang air, jadi mukaku pucat seperti ini karna lemas”. Gongchan berbohong, dia mencoba menyembunyikan rasa sakit di kepalanya.
Sudah beberapa hari ini di sekolah ataupun di tempat kerjanya, Gongchan sering mengeluarkan darah dari hidungnya dan merasakan pusing di kepalanya. Tapi dia selalu berusaha untuk menyembunyikannya dari Jiyeon. Hingga akhirnya Gongchan memeriksakan dirinya ke Dokter dan ternyata hasil dari diagnosa Dokter, Gongchan di vonis terkena leukeumia stadium 2. Spontan itu membuat Gongchan sedih, tapi tidak membuatnya heran, karna dia tau itu pasti penyakit turunan dari Ayahnya, karna dulu pun Ayahnya meninggal karna penyakit yang sama.
Sebelum pergi ke Dokter, Gongchan dan Jiyeon sudah berjanji untuk bertemu di tempat kerja Gongchan. Jiyeon seperti biasa membawa bekal untuk Gongchan yang sekarang ini sudah menjadi kekasihnya itu.
“Yobo..aku datang..”
Gongchan tidak menjawab , dia mengacuhkan Jiyeon.
“Yobo…kau kenapa?? Eh..lihat hari ini aku membuatkan bekal yang special untukmu” Jiyeon membuka tempat makannya, hari ini Jiyeon membuatkan bekal yang berbeda dari biasanya, dia membentuk bekalnya seperti wajah yang mirip dengan wajah Gongchan.
“Aku tidak mau makan..” ucap Gongchan dengan nada marah.
“Tapi aku khusus membuatkan ini untumu”
“Aku bilang aku tidak ingin makan, ara??” Gongchan membentak Jiyeon dan sontak itu membuat Jiyeon tidak percaya, untuk pertama kalinya Gongchan membentaknya.
Jiyeon menyimpan bekalnya yang di bawa untuk Gongchan, dia langsung berlari pergi meninggalkan Gongchan, tapi Gongchan tidak berusaha untuk mengejarnya. Dia mengambil bekal yang di bawa Jiyeon, dia membukanya dan tersenyum sambil menangis melihat bentuk dari bekal itu, wajah yang mirip dengannya.
“Mianhae, My bee, choengmal mianhae” Gongchan tidak sanggup menahan tangisnya.
Keesokan harinya…
“Jiyeon-ah, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu” Gongchan menghampiri  Jiyeon di taman sekolah.
Jiyeon tidak menjawab, dia tetap membaca buku yang di bacanya saat itu, dia masih marah atas kejadian kemarin.
“Aku tidak peduli kau mau bilang apa, dan kau mau marah atau tidak, yang jelas aku hanya ingin mengatakan, lebih baik kita berpisah saja, aku sedang banyak masalah dan banyak pikiran, jadi aku tidak mau menambah beban pikiranku karnamu”
Jiyeon langsung menoleh ke arah Gongchan.
“Apa?? Kau bilang kita berpisah saja?? Dan kau bilang aku jadi beban pikiranmu?? Huh…benar2 alasan yang tidak logis. Aku tau jelas selama ini kita tidak pernah ada masalah apapun, tapi kenapa tiba2 kau….”
“Aku bilang aku tidak peduli kau mau bilang apa, yang jelas keputusanku sudah bulat, kita berpisah saja” tanpa menunggu jawaban dari Jiyeon, Gongchan langsung beranjak dan pergi meninggalkan Jiyeon yang menagis terisak tak percaya dengan apa yang di katakan Gongchan padanya.
@Gongchan’s House
Tok..Tok…Tok..
Gongchan membuka pintu rumahnya dan ternyata Jiyeon yang datang.
“Mau apa kau ke sini??”
“Tch…apakah kau benar2 merasa jijik melihatku sekarang?? Aku ke sini hanya ingin mengembalikan semua ini padamu” Jiyeon menyerahkan dus pada Gongchan yang berisi barang2 yang pernah di berikan Gongchan padanya.
“Gomawo….Hanya ingin mengembalikan ini, kan?? Jadi sekarang kau sudah bisa pulang, aku mau istirahat” Gongchan benar2 tidak mampu menahan rasa sakitnya mengatakan hal itu pada orang yang sangat dia cintai, mungkin rasa sakit karna penyakitnya belum seberapa di banding rasa sakit hatinya karna harus membohongi perasaannya sendiri.
Jiyeon berjalan pulang dengan linangan air mata yang tak terbendung. Dia benar2 tidak percaya, orang yang selama ini tidak pernah marah padanya, selalu membuatnya tersenyum, selalu menuruti semua permintaan2 nya, tapi sekarang dia seolah telah berubah menjadi orang lain, Gongchan yang baru saja 2 minggu menjadi pacarnya, kini sudah berubah seperti orang asing bagi Jiyeon.
4 tahun kemudian…
Setelah menjalani kuliahnya di luar negeri selama 4 tahun ini, Jiyeon memutuskan untuk kembali ke Korea, tepat di musim salju tiba. Setelah tiba di bandara dia tidak langsung pulang ke rumahnya, tapi dia mengunjungi sebuah tempat yang sangat dia rindukan.
Taman, yang dulu pernah dia datangi bersama Gongchan di musim salju 4 tahun yang lalu. Jiyeon berjalan menelusuri taman itu, tidak terlalu banyak perubahan, Jiyeon senang karna tempat duduk yang dulu pernah dia dan Gongchan duduk di sana, masih ada. Tapi belum Jiyeon duduk di kursi itu, dia kaget melihat ada boneka yang di lingkari sebuah syal di lehernya dan Jiyeon mengambilnya.
“Bukankah ini…Ini boneka lebah yang dulu di berikan Chanie saat aku berulang tahun ke 17?? Dan syal ini, syal yang diberika Chanie di musim salju beberapa athun yang lalu di sini?? Jangan..jangan…..” Jiyeon berlari kembali menelusuri jalan taman itu dengan arah yang berlawanan saat dia datang tadi.
Langkahnya terhenti saat dia melihat sesorang yang sedang memakai kursi roda dan di dorong oleh seorang wanita yang sudah cukup tua.
“My beetle….” Jiyeon berteriak memanggil Gongchan dan langsung menghampirinya.
“Kau..?? Kau kenapa?? Apa yang terjadi padamu?? Ahjumma, Channie kenapa?? Kenapa dia memakai kursi roda??” Jiyeon bertanya pada Ibu Gongchan yang saat itu menemani Gongchan kembali ke taman itu.
“Jiyeon-ah….” Ibu Gongchan memeluk Jiyeon dan menangis tersedu-sedu, Gongchan pun mulai meneteskan air matanya.
***
Ternyata 4 tahun lalu, saat Gongchan di vonis Dokter terkena Leukeumia, dia memutuskan untuk membuat Jiyeon membencinya, karna dia tidak mau Jiyeon akan terluka nantinya jika dia tiba2 harus meninggalkan Jiyeon, dan dia juga tidak mau Jiyeon ikut merasakan kesakitannya dengan penyakit yang menderanya. Dokter bilang jika Gongchan ingin hidupnya agak lama, Gongchan harus di ambil sum sum tulang belakangnya, namun pilihannya jika sudah di ambil sum sum tulang belakang adalah Gongchan akan menajdi idiot atau lumpuh, dan ternyata Tuhan mentakdirkan Gongchan menjadi lumpuh.
Gongchan datang lagi ke tempat itu awalanya berniat untuk meninggalkan kenangannya bersama Jiyeon di sana karna dia tau umurnya tidak akan lama lagi, tapi ternyata takdir akhirnya justru mempertemukan mereka kembali di sana.
Jiyeon sedih bukan kepalang saat tau yang sebenarnya, apa alasan Gongchan dulu mau berpisah dengannya. Jika dia tau hal itu dari awal, mungkin dulu dia tidak akan memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke Luar Negeri saat lulus SMA dan tidak meninggalakn Gongchan menderita sendirian denagn penyakitnya.
Tapi Jiyeon senang dia belum terlambat untuk bisa ikut menemani detik2 terakhir Gongchan. Setelah pertemuan mereka kembali di taman itu, Jiyeon memutuskan untuk merawat Gongchan, dengan penuh kesabaran dan kasi sayang, Jiyeon setia menemani Gongchan. Hingga akhirnya 2 minggu kemudian, Gongchan benar2 pergi untuk selamanya.
Saat pemakaman, Jiyeon mengelus nisan yang bertuliskan nama Gongchan, dia tersenyum, dia rela melepaskan Gongchan pergi, karna setidaknya dia senang pernah ada menemani hidup Gongchan meski di saat2 terakhirnya. Dan Jiyeon juga merasa itu yang terbaik karna dengan begitu Gongchan tidak akan lagi merasakan sakit karna penyakitnya yang semakin menggerogoti tubuhnya. Jiyeon yakin Gongchan pasti sudah beristirahat dengan tenang di alamnya.
“Selamat Jalan My Beetle, aku tau kau pasti sudah bahagia sekarang di sana…Aku akan tetap selalu mencintaimu….”
~ END ~



Jumat, 21 September 2012

Sinopsis : Sunshine Become You

Harga Rp 65.000

Sunshine Becomes You



oleh Ilana Tan

SINOPSIS

“Walaupun tidak ada hal lain di dunia ini yang bisa kaupercayai, percayalah bahwa aku mencintaimu. Sepenuh hatiku.”
Ini adalah salah satu kisah yang terjadi di bawah langit kota New York…
Ini kisah tentang harapan yang muncul di tengah keputusasaan…
Tentang impian yang bertahan di antara keraguan…
Dan tentang cinta yang memberikan alasan untuk bertahan hidup.
Awalnya Alex Hirano lebih memilih jauh-jauh dari gadis itu—malaikat kegelapannya yang sudah membuatnya cacat.
Kemudian Mia Clark tertawa dan Alex bertanya-tanya bagaimana ia dulu bisa berpikir gadis yang memiliki tawa secerah matahari itu adalah malaikat kegelapannya.
Awalnya mata hitam yang menatapnya dengan tajam dan dingin itu membuat Mia gemetar ketakutan dan berharap bumi menelannya detik itu juga.
Kemudian Alex Hirano tersenyum dan jantung Mia yang malang melonjak dan berdebar begitu keras sampai Mia takut Alex bisa mendengarnya.

#Alex Hirano#
“Aku khawatir”
“Aku takut. Tapi aku tidak mungkin menunjukan apa yang kurasakan dihadapannya.”
“Setiap kali kondisinya memburuk dan dia hampir tidak bisa berjalan, aku bisa merasakan rasa frustasinya dan aku berharap aku bisa memberikan seluruh tenagaku kepadanya.”
“Setiap kali dia mendapat serangan dan menangis menahan rasa sakit, aku berharap bisa menggantikannya dan mengambil semua rasa sakit itu darinya supaya dia tidak perlu merasakan rasa sakit sedikitpun.”
“Dan ketika dia jatuh pingsan, aku berani bersumpah aku merasakan jantungku berhenti berdetak dan ketakutan besar, yang belum pernah ku kenal. Seluruh diriku terasa lumpuh. Pada saat seperti itu aku mulai membayangkan kemungkinan terburuk, lalu aku sadar aku sama sekali tidak siap menerima kemungkinan terburuk. Dan kesadaran itu membuat ketakutan yang sudah ada berlipat ganda.”
“Tapi aku tidak  bisa menunjukan kelemahan seperti itu dihadapannya. Dia membutuhkan seseorang yang bisa mendukungnya, seseorang yang bisa membantunya ketika dibutuhkan, yang bisa diandalkan, seseorang yang bisa meyakinkannya bahwa segalanya akan baik – baik saja.”
“Kalau kau tidak mau berbicara denganku, tidak apa-apa.”
“Kalau kau tidak mau aku berbicara padamu, itu juga tidak apa-apa. Tapi tolong jangan menghindariku. Biarkan aku disini bersamamu.”
“Mungkin kau tidak membutuhkanku. Tapi aku membutuhkanmu”
“Seseorang pernah berkata padaku bahwa dia tidak tau kenapa aku bisa mencintai orang seperti dirinya. Terus terang saja, aku tidak tahu. Kurasa aku termasuk salah satu orang yang merasa kau tidak membutuhkan alasan untuk mencintai seseorang. Karena cinta terjadi begitu saja. Kau tidak bisa memaksakan diri mencintai seseorang, sama seperti kau tidak bisa memaksakan diri membenci orang yang kau cintai.”
“Tapi kalau aku harus menjawab pertanyaan itu,”
“kurasa aku akan berkata bahwa aku mencintainya karena dia adalah Mia Clark.”
“Walaupun dia tidak bisa berada disini hari ini,”
“kuharap dia mendengar lagu ini. Dimanapun dia berada. Dan kuharap dia tahu bahwa selama aku masih bernafas, aku akan selalu mencintainya. Sepenuh hatiku.”

Selasa, 18 September 2012

Sugar - Take It Shake It lyrics


Kaleido star - take it shake it
Kaleido Star Anime Wallpaper #3
Description: First Opening Song

vocals: sugar

Original / Romaji Lyrics
English Translation
yaritai koto wa nani? 
sou kikareru tabi
aoi sora miageta 
kotae wa only my heart
"What is it that you want?"  
I get that a lot in my travels.
I look up at the sky, 
and the answer is, "Only my heart."
hontou ni daiji na kotoba wa  
kantan ni wa iwanai
hikari ga yubisasu basho e to  
hashiri dasu yo
The really important words  
aren't so easy to say.
The place that the light points to, 
I run towards it.
dakishimetai mono nara  
nakitai hodo mune ni aru   
egaki tsuzukete yuku kitto 
take it someday
shiroi kumo ga nagareru  
chiheisen no mukou ni
naranderu mirai wa itsumo soba ni aru kara
If it's really something you want  
so much that it makes you cry inside.
Just keep at it and for sure you'll  
take it someday.
The white clouds float by, 
heading towards the horizon.
Because the future that's set for us is always  close to us.
hitotsu kuria shite mo  
sore ja owaranai
kyou yori hateshi nai  
namida deau kamo
I may have cleared the first step, 
but that's not the end of it.
There'll be endless more starting today, 
maybe even some meet with tears.
ganbaru koto ni tsukaretara  
ganbaranakereba ii
karappo ni nari nemuru yoru  
umare kawaru
If you get tired after working your hardest, 
you can do something besides work hard.
The seemingly empty, sleepy night, 
will come to life.
tadori tsukitai no nara  
akiramezu ireba ii
komiageru namida mo itsuka  
shake it someday  
yuzurenai mono datte  
chanto aru yo thank you my dream
hateshinai jikan no dokoka shiawase ga aru
If you really want to get there, 
giving up sometimes is fine.
Even the tears that are welling up, you'll  
shake it someday.
Because there are things we'll never give up, 
we can be steadfast. Thank you my dream.
Somewhere along the infinity of time, we'll find happiness.