Dear God….
Tuhan, aku
benci sekali jika ketika ku berbincang seseorang menggangguu, aku merasa di
cuekin. Kau tahu bicara tak dihiraukan itu menyebalkan. Desak sudah brapa tahun
berdampingan, sekamar kanapa belum mengerti hal sekecil itu. kau tahu Tuhan, di
asebenarnya tak tahu apa apa , tapi malah berbicara seakan-akan tahu dan
mengerti segalanya. Menyelesaikan urusan sendiri saja nggakbisa, benar benar…
tak bisa ku maafkan.
Tu biang tadi bilang bahwa aku setia,
memang aku setia tapi jika orang ku ajak gak bisa mengerti bagaimana… ?
Aku
marah, kecewa, dan sakit. Bagaimana rasanya tak dihiraukan apa kau pernah alami
hal itu. tolong jangan hanya ingin didengarkan, tapi tolong hargai juga orang
yang ada disekitarmu. 3 tahun kau bisa bayangkan dalam kondisi seperti ini.
Bagaimana rasanya. Sudah aku tak akan bicara lagi. Aku tak suka mengulang apa
yang kukatakan, aku tak suka pembicaraanku dipotong dan tolong perhatikan aku.
Tuhan aku
ingin menangis. Aku ingin menangis tuhan… aku hanya manusia tak punya kekuatan
untuk selalu dan selalu bersabar. Aku pikir dia adalah orang yang bisa
memahamiku. Ternyta tinggal satu kamar selama 3 tahun itu tak menjamin segala
sesuatu bisa berjalan bagus. Aku kesal… kenapa hanya dia yang selalu ingin
didengarkan. Baik aku mendengar semua ceritanya, tapi pernahka kau
memperhatikan apa ku ceritakan. Sudah berapa kali aku pun tak tahu, apakah itu
tak cukupbagimu untuk melukai perasaan ku?
Untuk Tuhanku, aku seallu memohon
kepadamu agar semua teman –temanku selalu memperhatikan apa yang ku ucapkan.
Tapi selama 2 tahun menjadi korti tak sekalipun ,tak satu orang pun yang memperhatikanku. Bahakan sejak kecil
sampai sekarang. Kenapa hal ini selalu terjadi padaku?
Bisakah kau menjawabnya. Tuhan ku
mohon biarkan aku menangis dalam diam, hanya sejenak saja. Aku hanya bisa
berteriak dalam apa yang tulis. Ku mohon biarkan ku menangis hanya kali ini
saja.
Aku
berdoa dan terus berdoa padamu Tuhan, tetap saja percuma, kau tak akan
mendengarkan ku, bahkan apa yang kupercaya tak bisa ku rasakan lagi, apa yang
percaya takbisa membantuku lagi, aku hanya tetap akan bersama dengan diriku
sendiri….
Aku kesal melihat diriku yang seperti
ini, TUhan Bisakah aku memilih jalan lain? Bisakah aku menahan perasaan ini,
sedikit lagi Tuhan, sedikit lagi. Untuk terakhir kalinya ku memohon kepadamu,
Kuatkan imanku Tuhan….
Tuhan, apakah aku masih punya
kesempatan untuk memulaiyang baru?
Bukan
dengan perasaan yang seperti, bukan dengan tangisan seperti ini, tapi dengan
senyuman…dapatkah aku menahannya?
Aku tahu
Tuhan, jawabanmu hanya satu “bangitlah”.
Tuhan
maafkan kau yang terlalu kekanak-kanakkan. Maafkan aku yang pemarah, maafkan
aku yang rakus. Maafkan aku yang kotor.
Maaf aku
takbisa menahannya lagi. Menahan perasaan seperti ini selama bertahun tahun,…
terlalu menyakitkan Tuhan. Atas segala kekuranganku, Tuhan maafkan aku. Aku tak
pernah sekalipun membencimu.
-->