Baby Hello Kitty -->

Jumat, 02 Mei 2014

Ceritaku



Dear God….

          Tuhan, aku benci sekali jika ketika ku berbincang seseorang menggangguu, aku merasa di cuekin. Kau tahu bicara tak dihiraukan itu menyebalkan. Desak sudah brapa tahun berdampingan, sekamar kanapa belum mengerti hal sekecil itu. kau tahu Tuhan, di asebenarnya tak tahu apa apa , tapi malah berbicara seakan-akan tahu dan mengerti segalanya. Menyelesaikan urusan sendiri saja nggakbisa, benar benar… tak bisa ku maafkan.
          Tu biang tadi bilang bahwa aku setia, memang aku setia tapi jika orang ku ajak gak bisa mengerti bagaimana… ?
Aku marah, kecewa, dan sakit. Bagaimana rasanya tak dihiraukan apa kau pernah alami hal itu. tolong jangan hanya ingin didengarkan, tapi tolong hargai juga orang yang ada disekitarmu. 3 tahun kau bisa bayangkan dalam kondisi seperti ini. Bagaimana rasanya. Sudah aku tak akan bicara lagi. Aku tak suka mengulang apa yang kukatakan, aku tak suka pembicaraanku dipotong dan tolong perhatikan aku.
Tuhan aku ingin menangis. Aku ingin menangis tuhan… aku hanya manusia tak punya kekuatan untuk selalu dan selalu bersabar. Aku pikir dia adalah orang yang bisa memahamiku. Ternyta tinggal satu kamar selama 3 tahun itu tak menjamin segala sesuatu bisa berjalan bagus. Aku kesal… kenapa hanya dia yang selalu ingin didengarkan. Baik aku mendengar semua ceritanya, tapi pernahka kau memperhatikan apa ku ceritakan. Sudah berapa kali aku pun tak tahu, apakah itu tak cukupbagimu untuk melukai perasaan ku?
          Untuk Tuhanku, aku seallu memohon kepadamu agar semua teman –temanku selalu memperhatikan apa yang ku ucapkan. Tapi selama 2 tahun menjadi korti tak sekalipun ,tak satu orang pun  yang memperhatikanku. Bahakan sejak kecil sampai sekarang. Kenapa hal ini selalu terjadi padaku?
          Bisakah kau menjawabnya. Tuhan ku mohon biarkan aku menangis dalam diam, hanya sejenak saja. Aku hanya bisa berteriak dalam apa yang tulis. Ku mohon biarkan ku menangis hanya kali ini saja.
Aku berdoa dan terus berdoa padamu Tuhan, tetap saja percuma, kau tak akan mendengarkan ku, bahkan apa yang kupercaya tak bisa ku rasakan lagi, apa yang percaya takbisa membantuku lagi, aku hanya tetap akan bersama dengan diriku sendiri….
          Aku kesal melihat diriku yang seperti ini, TUhan Bisakah aku memilih jalan lain? Bisakah aku menahan perasaan ini, sedikit lagi Tuhan, sedikit lagi. Untuk terakhir kalinya ku memohon kepadamu, Kuatkan imanku Tuhan….
          Tuhan, apakah aku masih punya kesempatan untuk memulaiyang baru?
Bukan dengan perasaan yang seperti, bukan dengan tangisan seperti ini, tapi dengan senyuman…dapatkah aku menahannya?
Aku tahu Tuhan, jawabanmu hanya satu “bangitlah”.
Tuhan maafkan kau yang terlalu kekanak-kanakkan. Maafkan aku yang pemarah, maafkan aku yang rakus. Maafkan aku yang kotor.
Maaf aku takbisa menahannya lagi. Menahan perasaan seperti ini selama bertahun tahun,… terlalu menyakitkan Tuhan. Atas segala kekuranganku, Tuhan maafkan aku. Aku tak pernah sekalipun membencimu.