MENUJU
KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK
Apakah
keberuntungan di dunia ini = Pergaulan dengan orang baik.
Apakah kesedihan itu = Pergaulan dengan orang jahat.
Apakah
kerugian itu =
Tidak memanfaatkan waktu dgn baik.
Apakah
kepandaian itu = Selalu berpedoman
kepada agama.
Siapakah
yang disebut pemberani = Yang menang dari sebelas indrianya
Siapakah
kekasih yang sebenarnya = Ia yang
setia.
Apakah
kekayaan itu =
Pengetahuan yang benar.
Apakah
kebahagiaan itu =
Tidak tinggal di negeri orang.
Apakah
pemerintahan = Di mana tidak ada pelanggaran.
Orang
–orang beruntung adalah mereka yang memiliki sahabat baik, jauh dari pergaulan
orang jahat dan tidak menghabiskan waktu sia-sia, pandai dalam menjalankan
agama, mengendalikan indria-indria, mencintai istri atau suami, memiliki
pengetahuan yang baik dan benar, tinggal di negara sendiri dan dalam keluarga
maupun masyarakat dihormati. Merekalah yang selalu mendapatka kebahagiaan di
dunia ini dan setelah meninggal dunia mendapatkan moksa.
3.
Kebodohan dan Sifat Buruk
Prasahya
maņi mudharen makaravaktra damştrāntarāt
samu
dramapi santaret pracaladūrmimālākulam
bhujangamapi
kopitam śirasi puşpavad dhārayet
na tu
pratinivişta mūrkhajana citta mārā dhayet.
Adalah masih mungkin mengambil permata dari pangkal
gigi buaya, begitupun masih mungkin berenang menyeberangi lautan yang ombaknya
ganas, masih mungkin pula mengalungkan seekor ular yang marah, akan tetapi
sungguh sulit mengubah orang bodoh yang memiliki kebiasaan buruk menjadi baik.
4.
Pekerjaan yang Mustahil
Labheta
sikatāsu tailamapi yatnatah pīdayan
pibecca
mŗgatŗsņi kāsu salilam pipāsārditah
kadācidapi
paryatan chaśavişāņamāsādayet
na tu
pratinivişta mūrkhajanacittamārādhayet.
Dengan
usaha keras, seseorang mungkin dapat menemukan minyak di pasir, seseorang yang
dahaga mungkin dapat minum dari fatamorgana, dengan usaha keras seseorang
mungkin dapat menemukan tanduk kelinci, namun sungguh sulit mengubah orang
bodoh yang memiliki kebiasaan buruk menjadi baik.
5. Ucapan Mulia untuk Orang Bodoh
Vyālam
bālamŗnālatantubhirasau roddhum samujjaŗmbhate
chettum
vajramaņinchirīşakusumaprāntena sannahyate
mādhuryam
madhubindunā racayitum kşārāmbudherīhate
netum
vānchati yah khalān pathi satām suktaih sudhāsyandibhih.
Seseorang yang ingin mengubah orang bodoh menjadi baik
dengan ucapan-ucapan mulia, bagaikan berusaha mengikat gajah dengan batang lotus, bagaikan melubangi permata dengan
kelopak bunga, bagaikan menuangkan setetes madu ke dalam air laut agar menjadi
manis. Seseorang yang berusaha mengajarkan kebaikan kepada
orang-orang jahat, ia melakukan pekerjaan yang tidak akan membawa hasil karena
orang jahat tidak mengenal kebaikan dan mereka tidak pernah mendengarkan
nasehat yang bijaksana dari orang-orang baik.
6. Hiasan bagi Orang Bodoh
Svāyattamekāntahitam
vidhātrā, vinirmitam chādanamajňatāyāh
viśeşatah
sarvavidām samāje, vibhūşaņam maunamapan ditānām.
Tuhan
memberikan jalan terbaik bagi orang bodoh untuk menutupi kebodohannya dengan
diam, terutama pada saat ia berada di tengah perkumpulan orang-orang bijaksana.
Bagi orang bodoh, diam merupakan hiasan terbaik. Cara terbaik bagi orang bodoh
untuk menutupi kebodohannya adalah dengan menahan diri dan diam dalam setiap
pertemuan orang-orang bijaksana. Dengan diam ia dapat lebih banyak mendengarkan
pendapat orang-orang bijaksana dan dapat belajar dari mereka. Oleh karena itu
orang yang kurang pandai atau bodoh hendaknya selalu memegang hal ini bila ia
tidak ingin menunjukkan kebodohannya di depan masyarakat.
7.
Hilangnya Keangkuhan
Yadākinci
jjnyoaham dvipa iva madāndhah samabhavam
tadā
sarvajno asmītya bhavadava liptam mama manah
yadā
kincitkincid budhajana sakāsā davagatam
tadā
mūrkhoasmīti jvar iva mado me vyapagatah.
Ketika
menguasai sedikit pengetahuan, aku bagaikan seekor gajah yang mengamuk, penuh
dengan keangkuhan dan merasa paling tahu segalanya, tetapi ketika mulai bergaul
dengan orang-orang bijaksana, maka kesombonganku perlahan-lahan menghilang
bagaikan demam, dan akhirnya menyadari bahwa aku adalah orang bodoh. Pada saat
manusia dalam kesombongan ia menganggap bahwa ia tahu segalanya di dunia ini,
akan tetapi saat ia mulai bergaul dengan orang-orang baik, ia sadar bahwa ia
bukan orang pintar tetapi sangat bodoh.
10. Tidak Ada Obat Bagi Orang Bodoh
Sakyo vāryitum jalena hutabhuk chatreņa
suryātapo
nāgendro
niśitāngkuśena samado danden gogardabau
vyādhirbheşaja
samgrahaiśca vividhairmantraprayogai rvişam
sarvasyauşadhamasti
śāstravihitam mūrkhasya nāstyauşadham.
Api
dapat dipadamkan dengan air, sinar matahari dapat dihalangi dengan payung,
seekor gajah dapat ditaklukkan dengan senjata Angkusa, banteng atau keledai
dapat dijinakkan dengan tongkat, penyakit dapat dicegah dan disembuhkan dengan
obat-obatan, pengaruh racun dapat dihilangkan dengan macam-macam cara.
Cara-cara untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit dapat ditemukan dalam buku,
namun tidak ada obat bagi orang-orang bodoh. Dalam sloka ini disebutkan bahwa
segala jenis masalah besar yang ada di dunia ini memiliki jalan keluar atau
dapat diselesaikan, akan tetapi bagi orang yang bodoh tidak ada buku ataupun
ajaran yang dapat membantunya
11. Keagungan Para Sastrawan
Śāstropas kŗta śabda sundar girah sişyapradeyāgamāh
vikhyātāh kavayo vasanti vişaye yasya
prabhornirdhanāh
tajjādyam vasudhādhipasya sudhiyas tvartham
vināpīśvarāh
kutsyāh syuh kuparīkşikāh himaņayo yairarghatah
pātitāh.
Para
sastrawan yang terpelajar mengucapkan kata-kata yang sangat
bermakna, mengajarkan kepada
murid-murid tentang ajaran Weda dan agama. Bilamana di suatu negara mereka
hidup dalam kemiskinan, di sanalah kebodohan seorang pemimpin terlihat.
Sebenarnya tanpa kekayaan pun mereka hidup dalam kebahagiaan. Dengan tidak
mengetahui keagungan mereka, bagaikan merendahkan nilai mutiara-mutiara yang
berharga.
Dalam
sloka ini disebutkan bahwa setiap orang perlu menghormati orang-orang yang
terpelajar, yaitu mereka yang ahli dalam sastra dan agama karena dengan ajaran
yang berharga mereka menghilangkan kebodohan-kebodohan dalam masyarakat.
Bilamana dalam masyarakat mereka hidup dalam kemiskinan, maka di sana terlihat
kebodohan para pemimpin negara tersebut karena pemimpin tersebut tidak
mengetahui begitu berharganya pengetahuan yang dimiliki oleh para cendekiawan
tersebut. Sehingga dikatakan bahwa pemimpin sendiri merendahkan nilai-nilai
para cendekiawan yang berada di negaranya. Intisari sloka adalah hendaknya para
pemimpin negara mencukupi kebutuhan para cendekiawan karena pengetahuan yang
mereka miliki sangat berharga untuk masyarakat maupun untuk pemimpin itu
sendiri.
12.
Pengetahuan adalah Kekayaan Abadi
Harturyāti na gocaram kimapi śam puşnāti
yatsarvadā
hyarthibhyah
prati pādyamānamaniśam prāpnoti vŗddhiparām
kalpānteşvapi
na prayāti nidhanam vidyākhyaman tardhanam
yeşām
tānprati mānamujjhata nŗpāh kastai saha spardhate.
Tidak dapat ditemukan oleh para pencuri, membawa
kedamaian dan kebahagiaan, semakin diberikan kepada murid-murid malah semakin
berkembang, dalam pralaya pun tidak pernah hancur, itulah pengetahuan yang
merupakan kekayaan. Oleh karena itu, “Wahai para penguasa, janganlah
menunjukkan kesombonganmu kepada mereka yang memiliki pengetahuan!” “Siapakah
yang berani bersaing dengan mereka?”
Pengetahuan adalah kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh
siapapun, semakin banyak diberikan akan semakin berkembang, dengan memiliki
pengetahuan akan hadir kedamaian dalam diri manusia. Dalam sloka di atas
penyair mengkritik para penguasa atau pemimpin yang menunjukkan kesombongan
terhadap para ahli dalam sastra, agama, dan sebagainya. Sebenarnya bagi
orang-orang besar, pengetahuan adalah kekayaan dan mereka bukan hanya perlu
dihormati di negaranya sendiri akan tetapi di seluruh dunia.
13.
Kekayaan Tidak Berharga
Adhigata parmārthān paņditānmāvamamasthās
tŗņamiva
laghulakşmīrnaiva tān samruņaddhi
abhinava
madlekhāśyāma gaņdasthalā nām
na
bhavati bisatantur vāra ņam vārņā nām.
Wahai para penguasa, janganlah menghina para
cendekiawan yang telah mencapai kesadaran spiritual yang tinggi. Kekayaan bagi
mereka bagaikan pucuk dahan yang tidak berharga, bagaikan batang lotus yang
tidak dapat mengikat seekor gajah. Para penguasa atau pemimpin
hendaknya jangan menghina para cendekiawan
yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi. Mereka tidak bisa
dibeli dengan kekayaan karena kekayaan bagi mereka bagaikan ranting pohon yang
telah patah dan tidak ada harganya. Bagaikan batang lotus yang tidak bisa
mengikat gajah yang mengamuk demikian pula para cendekiawan tidak bisa diikat
dengan kekayaan.
14. Keahlian Tidak Bisa Diambil
Ambhojinī
vanavihār vilasameva
hamsasya
hanti nitarām kupito vidhātā
na
tvasya dugdhajala bhedavidhau prasiddhām
vai
dagdhyakīrtimapahartumasau samarthah.
Bilamana
Dewa Brahma murka, Dia bisa menghancurkan telaga tempat angsa-angsa berenang
yang penuh dengan bunga lotus, akan tetapi Ia tidak bisa mengambil keahlian
angsa yang dapat memisahkan susu dengan air. Apabila Dewa Brahma marah, mungkin
beliau dapat menghancurkan telaga tempat angsa-angsa berenang, akan tetapi Dia
tidak bisa mengambil keahlian angsa memisahkan susu dengan air, maksudnya di
sini adalah apabila Tuhan telah memberikan suatu keahlian kepada seseorang, Dia
tidak dapat menariknya kembali. Contohnya seorang ilmuwan yang memiliki
kemampuan untuk menciptakan bom, Tuhan tidak akan menarik keahlian tersebut,
sampai orang tersebut meninggal dunia.
15.
Ucapan yang Halus dan Baik
Keyurāņi
na bhūşayanti purusam hārāh na candrojj valāh
na
snānam na vilepanam na kusumam nālam krtāh mūrdhajā
vāņyekā
samalańkaroti puruşam yā sanskŗtā dhāryate
kşīyante
khalu bhūşanāni satatam vāg bhūşaņam bhūşaņam.
Bukan
karena kilauan gelang atau kalung permata yang bagai rembulan, bukan karena
mandi, bukan karena bedak cendana, bukan pula karena bunga, melainkan karena
ucapan halus dan baik yang dapat menambah kecantikan seseorang. Semua busana
yang lain akan sirna namun ucapan yang baik dan benar adalah perhiasan
sesungguhnya.
Penyair menjelaskan bahwa ucapan adalah busana
terbaik bagi manusia. Seseorang tidak hanya dinilai dari busana indah atau
mewah yang dipakainya, tetapi juga dari ucapannya. Oleh karena itu hendaknya
manusia berusaha mengontrol setiap ucapannya atau berpikir terlebih dahulu
sebelum berbicara dan perkataan diucapkan dengan halus dan benar.
16.
Pengetahuan Sangat Dihormati
Vidyā nāma narasya rūpamadhikam pracchanna
guptam dhanam
vidyā
bhogakarī yaśah sukhakarī vidyā gurūņām guruh
vidyā
bandhu jano videśa gamane vidyā parā devatā
vidyā
rājasu pūjyate na hi dhanam vidyā vihīnah paśuh.
Pengetahuan
adalah kecantikan manusia yang paling agung dan merupakan harta yang
tersembunyi. Ia adalah sumber dari semua kesenangan, kemasyuran, dan
kebahagiaan. Ia adalah guru dari semua guru dan menjadi sahabat di negeri
asing. Pengetahuan bagaikan dewa yang dapat mengabulkan setiap keinginan.
Pengetahuanlah yang di hormati oleh para raja, bukan kekayaan. Oleh karena itu,
manusia tanpa pengetahuan yang benar bagaikan binatang. Pengetahuan yang benar
dilambangkan sebagai kecantikan, harta yang tersembunyi, sumber kekayaan,
kebahagiaan dan sahabat ketika berada di luar negeri. Seorang raja hanya
dihormati dalam kerajaannya sendiri, akan tetapi orang yang memiliki ilmu
pengetahuan dihormati di mana-mana. Penyair berpendapat bahwa tanpa pengetahuan
manusia tidak ada bedanya dengan binatang.
17. Sifat-Sifat Manusia
Kşāntiścetkavacena
kim kimaribhih krodhoasti ceddehinām
jňātiścedanalen
kim, yadi suhŗddivyāuşadhaih kim phalam
kim
sarpairyadi durjanāh, kimu dhanairvidyā ana vadyā yadi
vrīdā
ceta kimu bhūsaņaih sukavitā yadyasti rājyen kim.
Bilamana
seseorang memiliki sifat penyabar, ia tidak memerlukan senjata. Bilamana
seseorang memiliki sifat pemarah, ia tidak perlu lagi mencari musuh. Bilamana
ada kebanggaan terhadap kasta, tidak
perlu lagi api yang lain, kerena
kebanggaan diri telah cukup membakar hatinya. Jika seseorang memiliki sahabat
yang baik, maka tidak perlu mencari obat-obatan supranatural. Jika seseorang
dikelilingi oleh orang-orang jahat, ia tidak perlu mencari ular yang berbisa.
Jika ada pengetahuan yang baik dan benar, apa gunanya kekayaan lain? Jika seseorang
memiliki rasa malu, mengapa ia harus mencari hiasan lain? Jika seseorang adalah
penyair yang baik, ia tidak perlu mengharapkan sebuah kerajaan.
Dalam
sloka ini dijelaskan bahwa seseorang yang memiliki kesabaran tidak perlu
memiliki senjata, karena dengan kesabarannya ia dapat memenangkan hati orang
lain. Orang yang mempunyai sifat pemarah tidak perlu mencari musuh karena
dengan kemarahannya ia akan mendapatkan musuh setiap hari. Seseorang yang
bangga terhadap kasta atau kelahiran tidak perlu membakar dengan api karena
kesombongannya dapat membakar apapun yang di dekatnya dan seseorang yang
mempunyai sahabat yang baik tidak perlu mencari obat-obatan untuk diri sendiri,
karena sahabat tersebut akan memberikan nasehat terbaik yang mampu
menyelamatkannya dari kesulitan. Jika seseorang dikelilingi oleh orang-orang
jahat, ia akan selalu mendapat masalah. Seseorang yang memiliki pengetahuan
yang benar dan selalu berbuat baik, ia tidak akan mengagung-agungkan kekayaan.
Rasa malu merupakan hiasan yang terbaik di dunia ini, dan penyair tidak
memerlukan kerajaan karena tanpa itu pun ia bisa terkenal dengan
karya-karyanya.
18. Sifat-sifat Dasar Orang Baik
Dākşiņyam
svajane dayā parijane śāthyam sadā durjane
prītih
sādhujane nayo nŗpajane vidvajjaneşvarjavam
sauryam
śatrujane kşamā gurujane nārījaneadhŗştatā
ye
caivam puruşāh kalāsu kuśalāsteş veve loka sthitih.
Memperlakukan
keluarga dengan baik, mengasihi orang lain, bersikap tegas terhadap penjahat,
menghormati orang baik, bersikap bijaksana dengan para pemimpin, bersikap jujur
dengan para bijaksana, berani menghadapi musuh, pemaaf terhadap para guru,
menghormati wanita, atas dasar sifat-sifat itulah kehidupan berjalan.
Dunia ini eksis karena sebagian besar manusia
memiliki sifat-sifat yang baik, yaitu saling menghormati dan menyayangi sesama makhluk hidup. Kejahatan tidak bisa
bertahan lama atau ditutupi untuk selamanya karena suatu saat pasti akan
terbongkar atau hancur. Kita harus memegang teguh kejujuran, kebijaksanaan,
kasih sayang, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap tegas
kepada orang jahat di sini maksudnya adalah mampu berlaku adil dan bijaksana
dalam memberantas kejahatan dan ketidak adilan atau kesewenang-wenangan dalam
masyarakat. Ditekankan pula bahwa kita hendaknya menghormati wanita karena ia
adalah guru pertama bagi manusia, sedangkan pemaaf kepada guru di sini artinya
adalah tidak menyimpan rasa dendam meskipun kadang-kadang kita dimarahi oleh
guru, karena kemarahan seorang guru bertujuan untuk memperbaiki perilaku kita
yang keliru.
19.
Memilih Pergaulan
Jādyam
dhiyo harati sincati vāci satyam
mānonnatim
diśati pāpamapākaroti
cetah
prasādayati dikşu tanoti kīrtim
satsangatih
kathaya kinna karoti pumsām.
Bergaul
dengan orang-orang bijaksana menghancurkan kebodohan, mempermanis ucapan,
mengajarkan kehormatan, menjauhkan dari perbuatan dosa, membahagiakan pikiran,
menyebarkan kemasyuran dan nama baik. “Sebutkanlah apa yang tidak menolong
jika bergaul dengan orang-orang bijak?”
Pergaulan sangat mempengaruhi kehidupan manusia, oleh karena itu setiap manusia
harus berhati-hati dalam memilih pergaulan. Dalam sloka di atas dijelaskan
bahwa pergaulan dengan orang baik dapat menghancurkan kebodohan karena berteman
dengan orang baik membawa manusia pada lingkungan yang baik pula. Dalam lingkungan
yang baik tersebut manusia dapat belajar tentang kehormatan yang akan
menjauhkannya dari perbuatan dosa, memberikan kebahagiaan bagi pikiran,
berteman dengan orang baik, dan membuat
namanya ikut termasyur. Oleh karena itu, manusia hendaknya memilih pergaulan
yang baik sehingga mempengaruhi
kehidupannya menjadi baik pula.