Manusia dilahirkan untuk mencapai dan menjalani apa yangseharusnya menjadi tugas dan kewajiban mereka.setelah manusia tersebut dilahirkan mereka harus siap menerima apa yang akan datang kepada mereka, entah itu perlakuan atau diperlakukan baik atau buruk mereka harus siap menerima hal itu. sekarang kembali kepada pribadi tersebut akan tetap atau menunggu semuanya pasti ada jalan.
HIMAWARI ひまわり
IF YOU BELIEVE,YOU CAN FIND THE WAY. KEEP CALM, BE STRONG AND BE YOURSELF..お読みください
Kamis, 07 Mei 2015
Kamis, 13 November 2014
RE: Love and Time
Ada sebuah cerita dari suatu pulau
kecil yang tinggal disana hanyalah benda-benda abstrak,seperti cinta. Kekayaan,
kesedihan, dan kebahagiaandan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan
sangat baik.
Suatu ketika datanglah badai besar yang menghempas pulau
kecil tersebut dan air laut tiba-tiba naik dan dengan siap akan menenggelamnkan
pulau kecil tersebut. Semua penghuni pulau dengan cepat menyelamatkan diri
mereka masing-masing. Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenan dan
tidak mempunyai perahu, ia berdiri ditepi pantai untuk mencari pertoloongan.
Sementara itu air semakin lama semakin tinggi hingga membasahi kaki cinta.
Tak lama kemudian cinta melihat kekayaan sedang mengayuh
perahu.”kekayaan... hei kekayaan.. tolong aku!!!” teriak cinta. “aduh.. maaf
cinta, perahuku telah penuh dengan harta bendaku ini, aku tak bisa membawamu
ikut serta, nanti perauhuku yang kecil ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat
lagi bagimu diperahuku ini!” kata kekayaan dan ia pergi berlalu meninggalkan
cinta.
Cinta sangat bersedih namun dilihatlah kegembiraan
melewatinya dengan perahunya,”kegembiraan... tolong aku!!”teriak cinta. Namun
kegembiraan terlalu senang menemukan sebuha perahu sehingga ia tidak mendengar
teriakkan cinta.
Semakin lama air semakin tinggi hinga membasahi sampai
kepinggang cinta dan cintapun mulai panik. Tak lama kemudian lewatlah
kecantikan dengan perahunya, “kecantikan...bawalah aku ikut serta denganmu”,
teriak cinta namun kecantikan pun menjawab “wah cinta kamu sangat basah dan
kotor, aku takbisa mengajakmuikut serta nanti kmu bisa mengotori perahuku ini,”
sahut kecantikan.
Cinta sangat bersedih mendengarnya, ia mulai mengais
terisak-isak, dan saat itulah lewat kesedihan,”oh kesedihan bawalah aku
bersamamu, “kata cinta.”maaf cinta aku sedang sedih dan aku hanya ingin
sendirian saja....” kata kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. Cinta sudah
mulai putus asa, ia melihat air semakin lama semakin tinggi dan akan segera
menengelamkannya. Pada saat kritis itulah terdengar suara,”Cinta, mari segera
naik ke perahuku,”. Cinta menoleh ke sumber suara tersebut. Cepat-cepat ia naik
keperahu itu tepat sebelum air menenggelamkannya.
Dipulau terdekat orang tua itu menurunkan cinta dan
segera pergi lagi. Pada saat itulah cinta baru sadar bahwa ia sama sekali tidak
mengenal orang tersebut yang telah menyelamatkannya. Cinta seera menanyakan
siapa orang tersebut kepada penduduk sekitar pulau tersebut, “orang tua itu
tadi? Dia adalah Waktu,” kata penduduk pulau tersebut,”tetapi kenapa ia menyelamatkan
kau? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalkupun enggan
menolongku”, tanya cinta heran. “Sebab hanya Waktulah yang tahu berapa penting
dan berharganya sesungguhnya cinta tersebut....
Selasa, 11 November 2014
RE: I Am
Sekarang baru ku mengerti dan kusadari satu hal, aku memiliki hal orang lain belum tentu miliki. Memiliki banyak teman dan sahabat ini membuatku menjadi manusia yang paling beruntung, banyak pertimbangan, hingga seorang laki-laki datang padaku, mendekatiku, di aingin lebih mengenalku dan keluargaku lebih jauh. dia memiliki prinsip yang pasti. berbeda denganku yang dulunya selalu ragu dalam mengambil sebuah keputusan. "apapun yang terjadi aku harus memilikinya" itu adalah keegoisanku yang pertama. itulah aku yang selalu egois.. aku ingin mendapatkan nya dan sekrang akuberhasil mendapatkan hatinya namun disisi lain aku tak bisa memiliki dia seutuhnya. hanya karna adat dan budaya yang berbeda, prinsip kita yang berbeda.
dahulu kukira, ketika aku kehilangan nya dan perasaaannya itu dengan yakin ku berkata pada diriku sendiri "tak tak akan merasa menyesal, ini adalah keputusanku" dan benar saja, aku sangat menyesal telah melepas yang searusnya ku miliki. dan memilih tradisi adat dan budaya yang ku lakukan. bukankah ini tindakan yang bodoh?
itulah yang kusebut dengan KARMAINSTAN.
aku telah banyak melewati hal yang indah. namun cinta yang indah tak akan datang untuk kedua kalinya. jika Tuhan berkendak aku bersamanya, aku akan bersamanya, namun jika Tuhan berkendak lain, aku tak akan bisa bersamanya. hanya hingga ku mati nanti aku tak akan membawa harta, nama adat ataupun sebagaimanya. hingga ku mati nanti aku hanya akan membawa KARMA ku saat ini. KARMAINSTAN adalah hasil perbuatan yang kita lakukan saat ini dan mendapatkan hasilnya dimasa depan dan ia penentu kita terlahir lagi atau tidak. aku sangat memujamu.
diakhir dunia ini, moral dan perdebatanakan akan terus bergejolak. tak bisa dipungkiri lagi sampai saat itu. aku masih tidak bisa menemukan cinta sejatiku.
ingatlah aku sampai saatnya nanti semuanya akan ku kenang. . . aku hanya ingin melihat orang-orang yang kusayangi akan tersenyum ketika ku pergi.
Kamis, 18 September 2014
"YOU CAN SEE A BEAUTIFUL WORLDS..... BUT I CAN'T DO THAT, I CAN'T SEE HOW BEAUTIFUL WORLDS TODAY, AND TOMORROW"
"YOU CAN SEE A BEAUTIFUL WORLDS..... BUT I CAN'T DO THAT, I CAN'T SEE HOW BEAUTIFUL WORLDS TODAY, AND TOMORROW"
Mengenal seseorang yangbelum pernah kau lihat sebelumnya, bertemu dengan seseorang yang belum kau kenal sebelumnya, hingga sampai saat ini aku tak bisa melihat betapa indahnya dunia hari ini, pasti akan menyenangkan jika aku bisa melihat segalanya dengan kedua mata ini. Namuun kali ini Tuhan memberikan ku kesempatan. Hingga saat ini akhirnya aku bisa melihat dunia dengan kedua mataku, merasakan kehangat matahari dan melihat cahayanya dengan kedua mataku ini.
Tuhan selalu memberikan ku kesempatan untuk melakukan segalanya dengan kedua mata ini. tuhan memberikan aku dua mata untuk dapat melihat, sepasang kaki untuk berjalan, sepasang tangan untuk dapat memberi sesama, dan agar dapat memeluk seseorang yang sangat berarti untukku. sepasang telinga untuk mendengar segala keluh kesah dari para sahabat, saudara, keluarga, dan mendengar kepedihan orang sekitarku. yang membutuhkan bantuan dariku. Tuhan selalu memberikan aku tenaga yang lebih kuat dari siapapun, karna tuhan menginganku untuk selalu memberikan hal yang besar untuk mereka, Terimakasih tuhan sampai saat ini aku bisa tetap hidup sehingga aku tetap bisa merasakan seluruh mahlukyang ada didunia ini, dapat memiliki sahabat yang selalu tersenyum untukku. memiliki orang tua yang sangat memperhatikanku, dan hingga akhirnya aku bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua. terimakasih Tuhan.
Mengenal seseorang yangbelum pernah kau lihat sebelumnya, bertemu dengan seseorang yang belum kau kenal sebelumnya, hingga sampai saat ini aku tak bisa melihat betapa indahnya dunia hari ini, pasti akan menyenangkan jika aku bisa melihat segalanya dengan kedua mata ini. Namuun kali ini Tuhan memberikan ku kesempatan. Hingga saat ini akhirnya aku bisa melihat dunia dengan kedua mataku, merasakan kehangat matahari dan melihat cahayanya dengan kedua mataku ini.
Tuhan selalu memberikan ku kesempatan untuk melakukan segalanya dengan kedua mata ini. tuhan memberikan aku dua mata untuk dapat melihat, sepasang kaki untuk berjalan, sepasang tangan untuk dapat memberi sesama, dan agar dapat memeluk seseorang yang sangat berarti untukku. sepasang telinga untuk mendengar segala keluh kesah dari para sahabat, saudara, keluarga, dan mendengar kepedihan orang sekitarku. yang membutuhkan bantuan dariku. Tuhan selalu memberikan aku tenaga yang lebih kuat dari siapapun, karna tuhan menginganku untuk selalu memberikan hal yang besar untuk mereka, Terimakasih tuhan sampai saat ini aku bisa tetap hidup sehingga aku tetap bisa merasakan seluruh mahlukyang ada didunia ini, dapat memiliki sahabat yang selalu tersenyum untukku. memiliki orang tua yang sangat memperhatikanku, dan hingga akhirnya aku bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tua. terimakasih Tuhan.
KAN SHU DE GU SHI (Kisah PEnebang Pohon)
Kan Shu De Gu Shi ^_^
Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, sehingga si calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, dia berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus, “Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu.”
Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. “Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?” pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, “Kapan terakhir kamu mengasah kapak?”
“Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga,” kata si penebang.
“Nah, di sinilah masalahnya.. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apa pun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja! ” perintah sang majikan.
Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Xiu Xi Bu Shi Zou Deng Yu Chang De Lu
Istirahat bukan berarti berhenti.
Er Shi Yao Zou Geng Chang De Lu
Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru
Selasa, 01 Juli 2014
PEMERINTAHAN INDONESIA
MEMAHAMI KONSEP
KEMISKINAN DI INDONESIA
A. Masalah
Kemiskinan
Setiap negara di dunia pasti pernah menghadapi masalah yang pelik yaitu
kemiskinan. Di negara maju dan kaya seperti Amerika Serikat pun masih terdapat
orang yang tergolong miskin. Terjadinya kemiskinan secara umum diakibatkan oleh
tidak meratanya pendapatan nasional riil yang diterima oleh masing-masing
kelompok masyarakat. Kemiskinan yang terjadi banyak ragamnya dan dapat dilihat
dari berbagai dimensi, seperti, tidak imbangnya pemerataan pendapatan antara
negara maju dengan negara dunia ketiga. Negara maju lebih banyak mendapatkan
keuntungan dari hasil pertumbuhan perekonomian dunia. Sedangkan pada negara
dunia ketiga keuntungan yang diperoleh tidak dapat untuk meningkatkan kesejahteraan.
Salah satu penyebab terjadinya kondisi ini adalah besarnya jumlah penduduk
di negara dunia ketiga sehingga hasil dari pertumbuhan ekonomi jika dibagi
secara merata hasilnya sedikit sekali. Hal ini dapat dilihat dari relatif
kecilnya pendapatan per kapita pada negara dunia ketiga jika dibandingkan
dengan negara maju. Dimensi kemiskinan yang lain dapat dilihat dari tidak
imbangnya kekayaan antarwilayah dalam suatu negara. Ada beberapa wilayah yang
memiliki sumber daya sedikit, tetapi penduduknya banyak yang miskin dan
sebaliknya. Seperti kondisi di Indonesia, Provinsi Riau memiliki ladang minyak
dan kondisi kehidupan masyarakatnya relatif lebih makmur dibandingkan dengan
Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tingkat kemiskinan di suatu
negara adalah: (1) tingkat pendapatan nasional rata-rata, dan (2) lebar
sempitnya kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Jadi, walaupun suatu negara
memiliki tingkat pendapatan nasional per kapita yang tinggi, tetapi bila
distribusi pendapatannya tidak merata maka tingkat kemiskinan akan tetap
tinggi. Demikian pula apabila tingkat pemerataan pendapatan nasionalnya tinggi,
tetapi tingkat pendapatan nasionalnya tetap rendah maka tingkat kemiskinan juga
akan tinggi.
Pada dekade 1970-an, para ahli ekonomi pembangunan memberi perhatian pada
masalah kemiskinan. Mereka mencoba mengukur kadar parahnya tingkat kemiskinan
di dalam suatu negara dan kemiskinan relatif antarnegara dengan cara menentukan
suatu batasan yang lazim disebut garis kemiskinan (poverty line).
Setelah mengkaji secara mendalam dan seksama, mereka menemukan konsep
kemiskinan absolut (absolut poverty). Konsep ini berguna dalam
menentukan tingkat pendapatan minimum yang mencukupi kebutuhan-kebutuhan fisik
minimum setiap orang berupa kecukupan makanan, pakaian, serta perumahan yang
dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Mengingat kondisi setiap negara berbeda
maka berbeda pula kebutuhan-kebutuhan psikologis, sosial, dan ekonomi dari
setiap penduduknya sehingga sangat sulit menentukan kebutuhan fisik minimum
yang baku. Untuk mengatasi masalah ini, para ahli ekonomi membuat
perkiraan-perkiraan yang sangat sederhana
tentang kemiskinan, yang didalamnya mencakup kondisi minimal kemiskinan
di dunia. Adapun metodologi yang mendasari perkiraan tersebut dikenal dengan
sebutan garis kemiskinan internasional (internasional poverty line) yang
merupakan batas minimal untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar. Patokannya adalah
dengan melihat kadar daya beli (purchasing power equivalent) atas
sejumlah uang yang diukur berdasarkan satuan nilai mata uang dari suatu negara
berkembang.
B. Pengertian
Kemiskinan
Masalah kemiskinan banyak dikaji oleh para ahli dari berbagai aspek dan
dari berbagai disiplin ilmu dengan menggunakan bermacam-macam ukuran dan konsep.
Para ekonom membahas kemiskinan dengan menggunakan istilah standar hidup,
pendapatan ,dan distribusi pendapatan. Para sosiolog megkajinya dengan
menggunakan istilah kelas, stratifikasi,dan marjinalitas. Sedangkan, para
pemerhati masalah-masalah sosial lebih memperhatikan konsep tingkat hidup yakni
melihat tingkat pendapatan, masalah pendidikan, kesehatan, perumahan, dan
kondisi sosial masyarakat secara umum. Namun, sampai saat ini belum ada
definisi yang baku tentang kemiskinan. Hal ini menunjukkan bahwa masalah
kemiskinan itu sangat kompleks dan pemecahannya tidak mudah.
Menurut para ahli seperti Andre Bayo Ala (1981), kemiskinan sangat
multidimensional, artinya kemiskinan mempunyai banyak aspek sebab kebutuhan
setiap manusia sangat beragam. Kemiskinan ditinjau dari sisi kebijakan umum
terdiri dari dua aspek, yaitu primer dan sekunder. Aspek primer merupakan
miskin akan aset, organisasi sosial politik, serta pengetahuan dan
keterampilan. Aspek sekunder merupakan miskin akan jaringan sosial,
sumber-sumber keuangan, dan informasi. Manifestasi dari dimensi kemiskinan ini
dalam bentuk kekurangan gizi, air bersih, perumahan yang tidak sehat, pelayanan
kesehatan yang kurang memadai dan tingkat pendidikan masyarakat yang masih
rendah. Dimensi-dimensi kemiskinan ini saling berkaitan baik secara langsung
maupun tidak langsung, yang berarti bahwa kemajuan atau kemunduran pada salah
satu aspek akan menyebabkan kemunduran atau kemajuan aspek lainnya. Sebenarnya
inti dari kemiskinan adalah manusianya, baik secara individual maupun secara
kolektif. Seperti istilah kemiskinan pedesaan atau kemiskinan perkotaan yang
miskin bukan daerah perkotaan atau desanya, tetapi yang mengalami kemiskinan
adalah penduduk wilayah tersebut.
Pada negara yang dikategorikan miskin biasanya diikuti pula dengan kondisi
yang terbelakang. Oleh karena itu, kemiskinan dan keterbelakangan dapat
dikatakan merupakan suatu keadaan yang
selalu bersamaan. Kedua hal tersebut sangat melemahkan fisik dan mental manusia
dan berdampak terhadap semua sektor. Oleh sebab itu, pembangunan di negara
berkembang bukan hanya untuk meningkatkan pendapatan nasional saja atau hanya
untuk menambah produksi barang-barang dan jasa, tetapi pembangunan harus bertujuan pula untuk
membangun manusia jasmaniah, rohaniah dan mengubah nasib manusia untuk keluar dari perangkap kemiskinan dan
keterbelakangan.
Kemiskinan secara konseptual dapat dipandang dari berbagai segi. Pertama,
segi subsistem, yaitu penghasilan dan jerih payah seseorang hanya cukup
untuk makan saja, bahkan tidak cukup pula untuk itu. Kedua, segi
ketidakmerataan yang melihat dari posisi relatif dari setiap golongan menurut
penghasilannya terhadap posisi golongan lain. Ketiga, segi eksternal
yang mencerminkan konsekuensi sosial dari kemiskinan terhadap masyarakat di
sekelilingnya, yaitu bahwa kemiskinan yang berlarut-larut mengakibatkan dampak
sosial yang tidak ada habisnya.
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu
umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin
dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada
masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan
kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern.
Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh
negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti
Inggris dan Amerika Serikat. Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung
tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropah.
Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik
yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah, sehingga kemampuan
daya belinya juga rendah. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan
terhadap penyakit sosial lainnya, seperti prostitusi, kriminalitas,
pengangguran.
Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan,
terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an. Pada tahun 1960-an
Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia. Sebagian
besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Bahkan Amerika Serikat telah banyak
memberi bantuan kepada negara-negara lain. Namun, di balik keadaan itu tercatat
sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin.
Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49,5
juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional /
Susenas 1998). Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17,6 juta jiwa di
perkotaan dan 31,9 juta jiwa di perdesaan. Angka tersebut lebih dari dua kali
lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya
mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7,2 juta jiwa di Perkotaan dan 15,3
juta jiwa perdesaan. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin
bertambah.
Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi, yakni kemiskinan
alamiah dan karena buatan. Kemiskinan
alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas, penggunaan
teknologi yang rendah dan bencana alam. Kemiskinan "buatan" terjadi
karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota
masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain
yang tersedia, hingga mereka tetap miskin. Maka itulah sebabnya para pakar
ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada
pertumbuhan ketimbang pemerataan.
Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari
berbagai aspek, sosial, ekonomi, psikologi dan politik. Aspek sosial terutama
akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. Aspek ekonomi
akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi, upah kecil, daya tawar
rendah, tabungan nihil, lemah mengantisipasi peluang. Dari aspek psikologi
terutama akibat rasa rendah diri, fatalisme, malas, dan rasa terisolir.
Sedangkan, dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai
fasilitas dan kesempatan, diskriminatif, posisi lemah dalam proses pengambil keputusan.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut,
kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang termasuk golongan miskin
absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak
cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan, sandang, kesehatan,
papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah
hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat
sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau
sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya
sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya.
Lebih lanjut, garis kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuan
masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. Melalui pendekatan
sosial masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat, tetapi dari indikator
ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan,
yaitu pendekatan produksi, pendapatan, dan pengeluaran. Sementara ini yang
dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiskinan adalah
pendekatan pengeluaran.
Menurut data BPS hasil Susenas pada akhir tahun 1998, garis kemiskinan
penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp. 96.959 per kapita per bulan dan
penduduk miskin perdesaan sebesar Rp. 72.780 per kapita per bulan. Dengan
perhitungan uang tersebut dapat dibelanjakan untuk memenuhi konsumsi setara
dengan 2.100 kalori per kapita per hari, ditambah dengan pemenuhan kebutuhan
pokok minimum lainnya, seperti sandang, kesehatan, pendidikan, transportasi.
Angka garis kemiskinan ini jauh sangat tinggi bila dibanding dengan angka tahun
1996 sebelum krisis ekonomi yang hanya sekitar Rp. 38.246 per kapita per bulan
untuk penduduk perkotaan dan Rp. 27.413 bagi penduduk perdesaan.
Banyak pendapat di kalangan pakar ekonomi mengenai definisi dan klasifikasi
kemiskinan ini. Dalam bukunya The
Affluent Society, John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika
Serikat terdiri dari tiga macam, yakni kemiskinan umum, kemiskinan kepulauan,
dan kemiskinan kasus. Pakar ekonomi lainnya melihat secara global, yakni
kemiskinan massal/kolektif, kemiskinan musiman (cyclical), dan kemiskinan
individu.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.
Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. Misalnya sebagaimana, sekarang terjadi di Indonesia. Sedangkan, kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang, terutama kaum cacat fisik atau mental, anak-anak yatim, kelompok lanjut usia.
C. Aspek-Aspek
Kemiskinan
Masalah kemiskinan meliputi tiga aspek, yaitu penyebab pokok kemiskinan,
ukuran kemiskinan, dan indikator kemiskinan yang akan dibahas berikut ini.
1. Penyebab Pokok Kemiskinan
Sebenarnya para pembuat kebijakan pembangunan di negara sedang berkembang
mengharapkan bahwa sumber daya yang ada di negara tersebut dapat dinikmati oleh
seluruh lapisan masyarakat. Namun, karena tingkat pertumbuhan ekonomi yang
rendah, ditambah lagi dengan ciri dan kondisi masyarakat yang sangat beragam
maka kebijaksanaan nasional umumnya diarahkan untuk memecahkan permasalahan
jangka pendek dan masih kurang dapat mengatasi permasalahan kelompok ekonomi
tingkat bawah (Mukhopadhay, 1985). Selain itu kebijakan pembangunan di negara
sedang berkembang secara tidak langsung sangat bergantung pada kondisi luar
negeri, sebab modal pembangunan masih berasal dari negara lain
(Frederick,1985). Sebenarnya, masyarakat menjadi miskin karena tidak dapat ikut
serta dalam proses perubahan, sebab tidak mempunyai kemampuan untuk memiliki
faktor produksi atau faktor produksi yang dimiliki kurang memadai untuk
dimanfaatkan dalam proses pembangunan sehingga mereka tidak mendapatkan manfaat
hasil pembangunan tersebut. Penyebab faktor produksi yang dimiliki masyarakat
tidak dapat dimanfaatkan adalah karena kebijakan pembangunan yang dirancang
pemerintah tidak sesuai dengan kemampuan dan kondisi masyarakat tersebut
sehingga mereka tidak dapat berpartisipasi secara penuh. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa munculnya masalah kemiskinan dalam masyarakat disebabkan oleh
kurangnya kepemilikan faktor produksi, produktivitas yang rendah, tingkat
perkembangan yang rendah, dan kebijakan pembangunan nasional yang tidak sesuai.
Menyimak kondisi ini dapat dikatakan bahwa masalah kemiskinan disebabkan oleh
masalah struktural sehingga banyak para pakar menggunakan istilah kemiskinan
struktural yaitu kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena
struktur sosial masyarakat tersebut tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber
pendapatan yang sebenarnya tersedia (Sumarjan, 1980)
2. Ukuran Kemiskinan
Dimensi kemiskinan sangat luas sehingga sangat sulit untuk mengukurnya.
Namun pada umumnya para pakar menggunakan ukuran kemiskinan absolut dan
kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut adalah konsep yang dikaitkan dengan
kebutuhan pokok atau kebutuhan dasar minimum yang memungkinkan orang dapat
hidup layak. Atau dapat dikatakan bahwa tingkat hidup seseorang tidak
memungkinkan untuk bisa memenuhi keperluan-keperluannya yang mendasar sehingga
kesehatannya baik fisik maupun mental terganggu. Dari semua kebutuhan dasar
yang meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan, yang paling
pokok untuk dipenuhi adalah pangan. Jika tingkat kecukupan pangan ditinjau dari
segi penyediaan kalori per kapita per hari sangat rendah, maka akibatnya
tingkat harapan hidup menjadi rendah, tingkat upah dan produktiviyas kerja juga
rendah dan sebagainya. Kemiskinan ini dapat terjadi di semua negara dan tidak
ada hubungannya dengan pendapatan per kapita suatu negara. Negara yang
mempunyai pendapatan per kapita yang tinggi masih memungkinkan terdapat kemiskinan absolut yang parah. Hal ini karena
masih terjadi ketimpangan distribusi pendapatan. Jumlah total atau persentase
kadar kemiskinan ini terhadap jumlah penduduk berbeda-beda di tiap negara. Bank
Dunia pernah mencoba memperkirakan besarnya kemiskinan di negara dunia ketiga
dengan menggunakan kriteria garis kemiskinan global untuk tahun 1985 yaitu
dengan menghitung pendapatan per tahun berdasarkan daya beli setiap rumah
tangga tahun 1985. Kriterianya adalah jika pendapatan per tahunnya kurang dari
$ 275 dikategorikan sangat miskin (extremely poor) dan yang pendapatan
per tahunnya di bawah $ 370 digolongkan miskin (poor). Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa pada tahun itu 30,5% dari total penduduk dunia
ketiga hidup di bawah garis kemiskinan dan dapat dikatakan sebagai miskin
secara absolut. Penelitian tahun 1992. menghasilkan gambaran bahwa 30,8%
penduduk dunia ketiga mengalami kemiskinan absolut. Proporsi kemiskinan ini
lebih tinggi lagi terjadi di negara yang berpenduduk padat dan berpenghasilan
rendah seperti Bangladesh (86%), India (48%) dan Indonesia (39%) (Human
Development Report, 1992).
Beberapa ekonom mencoba menganalisis kondisi masyarakat di negara dunia
ketiga yang masih berada di bawah garis kemiskinan seperti terlihat pada
Gambar1

Gambar 1.
Pengukuran Jurang Kemiskinan
Negara X dan Y sama-sama
memiliki 50% penduduk di bawah garis kemiskinan. Namun, melihat bentuk
kurvanya, negara X mempunyai jumlah penduduk miskin lebih banyak dibandingkan
negara Y sehingga negara tersebut harus berusaha keras mengentaskan kemiskinan
penduduknya. Mengingat kemiskinan absolut dapat terjadi di negara dengan
pendapatan perkapita tinggi maka sangat mungkin kasus negara X terjadi di
negara dengan pendapatan per kapita tinggi. Terjadinya kondisi ini mungkin
dapat disebabkan oleh faktor-faktor: 1) jenis pertumbuhan ekonomi yang
dilaksanakan negara tersebut dan, 2) adanya aturan politik dan kelembagaan yang
menentukan pola distribusi pendapatan nasional. Sedangkan, konsep kemiskinan
relatif mengukur orang yang sudah dapat memenuhi kebutuhan minimumnya namun
tapi masih lebih rendah dibandingkan kondisi masyarakat sekitarnya.
3. Indikator Kemiskinan
Ada bermacam-macam indikator kemiskinan yang digunakan di Indonesia seperti
konsumsi beras per kapita per tahun, tingkat pendapatan, tingkat kecukupan
gizi, kebutuhan fisik minimum, dan tingkat kesejahteraan.
a. Tingkat Konsumsi Beras
Sayogyo (1977) menggunakan
indikator ini dengan melihat tingkat konsumsi beras per kapita per tahun.
Secara lebih rinci Sayogyo membagi indikator kemiskinan tersebut menjadi tiga
kelompok .
Tabel
Indikator Kemiskinan Sayogyo
|
No.
|
Kategori
|
Konsumsi Beras (kg)
|
|
|
Pedesaan
|
Perkotaan
|
||
|
1.
2.
3.
|
Melarat
Sangat miskin
Miskin
|
180 kg
240 kg
320 kg
|
270 kg
360 kg
480 kg
|
Secara umum Profesor Sayogyo
mengatakan bahwa penduduk pedesaan digolongkan miskin jika mengkonsumsi beras
kurang dari 240 kg per kapita per tahun, sedangkan, untuk daerah perkotaan
adalah 360 kg per kapita per tahun. Patokan ini sebenarnya menggambarkan garis
yang “sangat miskin” karena hanya didasarkan atas jumlah pangan minimal yang
diperlukan untuk sekedar menyambung hidup. Namun, sejak tahun 1979 garis
melarat dihilangkan dan kemudian ditambah dengan garis Nyaris Miskin, yaitu
untuk daerah pedesaan setara dengan 480 kg per kapita per tahun dan untuk
daerah perkotaan setara dengan 720 kg per kapita per tahun. Dengan ukuran ini,
perlu diketahui bahwa di Pulau Jawa tahun 1976 keadaannya cukup merisaukan.
Dengan ekivalen 320 kg beras per kapita per tahun tingkatan miskin menunjukkan
persentase 56%. Hal ini dapat dijadikan cermin agar kondisi yang demikian tidak
pernah terjadi lagi.
b. Tingkat Pendapatan
Indikator ini digunakan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS), yang melihat besarnya rupiah yang dibelanjakan per
kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimumnya.
c. Tingkat Kesejahteraan
Menurut publikasi United
Nation (1961) indikator kesejahteraan ini dilihat dari 9 komponen, yaitu kesehatan, konsumsi
makanan dan gizi, pendidikan, kesempatan kerja, perumahan, jaminan sosial,
sandang, rekreasi, dan kebebasan. Namun, yang sering digunakan hanya empat
komponen, yaitu kesehatan, konsumsi gizi, perumahan dan pendidikan, sedangkan
indikator yang lainnya sulit diukur dan sulit dibandingkan antardaerah atau
antarwaktu.
Konsumsi Kalori dan Protein
Konsumsi kalori dan protein merupakan komponen utama gizi dan dapat
menggambarkan taraf hidup penduduk. Tercukupinya konsumsi protein dan kalori
merupakan tujuan penting dalam upaya peningkatan mutu hidup penduduk suatu
negara. Besarnya jumlah penduduk yang mengkonsumsi makanan di bawah tingkat
kecukupan yang dianjurkan merupakan masalah serius yang dihadapai negara-negara
berkembang, seperti Indonesia.
Menurut Idrus Jus'at dan Deswani Idrus (1984) tingkat kecukupan kalori dan
protein rata-rata per orang per hari untuk Indonesia sebesar 2100 kalori dan 55
gram protein. Masalah gizi utama yang dihadapi penduduk Indonesia, yaitu kurang
kalori protein (KKP), anemia zat besi, kekurangan vitamin A, dan gondok
endemik. Masalah kekurangan gizi ini terutama mengancam kelompok penduduk
tertentu seperti anak di bawah lima tahun (Balita), serta ibu hamil dan
menyusui. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melakukan program Usaha
Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang ditujukan bagi masyarakat yang berpenghasilan
menengah ke bawah.
Ketidakcukupan konsumsi kalori dan protein akan mempengaruhi tingkat
harapan hidup (life expectancy rate), mempertinggi tingkat kematian
bayi, dan mengurangi ketahanan tubuh terhadap penyakit. Untuk menanggulangi
masalah ini sejak Pelita II pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan
peningkatan usaha diversifikasi bahan pangan. Arah perencanaan produksi dan
pengadaan pangan adalah untuk meningkatkan taraf kecukupan gizi, yaitu untuk
mencapai pemenuhan kalori dan protein serta untuk menangani masalah-masalah
gizi yang ada.
Keadaan Kesehatan
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kesehatan, sebab jika manusia itu
sehat kehidupannya akan lebih baik dan
lebih produktif sehingga dapat berusaha dan bekerja dengan baik yang akhirnya
dapat meningkatkan kesejahteraannya. Faktor yang mempengaruhi tingkat kesehatan
masyarakat, antara lain konsumsi makanan yang bergizi, sarana kesehatan, serta
kondisi sanitasi dan lingkungan yang ada. Rendahnya konsumsi makanan yang
bergizi akan menyebabkan rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Kurangnya penyediaan sarana kesehatan menyebabkan
rendahnya kesehatan masyarakat secara umum. Kondisi sanitasi dan lingkungan
yang kurang memadai menyebabkan berjangktnya penyakit menular sehingga kualitas
hidup manusia menjadi rendah.
Indikator yang digunakan untuk menggambarkan kesehatan masyarakat adalah
indikator output, seperti persentase penduduk yang sakit selama seminggu yang
lalu, persentase penduduk yang sakit menurut tempat pengobatan, angka kematian
bayi, dan angka harapan hidup. Sedangkan indikator input, seperti banyaknya
dokter per juta penduduk dan banyaknya rumah sakit yang melayani.
Keadaan Perumahan
Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari kondisi dan fasilitas
perumahannya. Indikator yang digunakan untuk menggambarkannya yakni dilihat
dari kondisi atap rumah, jenis dinding, luas lantai serta jenis lantai.
Rendahnya kualitas tempat tinggal, seperti penerangan bukan listrik, tidak
adanya jamban dan kamar mandi, menggunakan air hujan dan air sungai untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya, akan berdampak pada tingkat kesehatan. Rendahnya
tingkat kesehatan akan menyebabkan mudah berjangkitnya penyakit endemik,
seperti muntaber, malaria, demam berdarah dan sebagainya sehingga menurunkan
produktivitas kerja dan mengakibatkan rendahnya tingkat kesejahteraan.
Keadaan Pendidikan
Pendidikan sangat penting dalam proses pembangunan, oleh sebab itu, tingkat
pendidikan penduduk sering dijadikan indikator kemajuan suatu bangsa. Negara
berkembang pada umumnya mempunyai penduduk dengan rata-rata tingkat pendidikan
yang rendah.
Bagi Indonesia, menilik kondisi yang demikian serta sesuai dengan pasal 31,
UUD 45, sejak Pelita I pemerintah telah menetapkan berbagai kebijakan dalam
rangka memajukan pendidikan. Upaya yang dilakukan adalah peningkatan sarana dan
prasarana pendidikan sehingga dapat memperluas jangkauan pelayanan dan
kesempatan memperoleh pendidikan, seperti kebijakan wajib belajar 9 tahun yaitu
adanya kewajiban untuk bersekolah minimal sampai lulus SMP. Dalam kehidupan
masyarakat pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan pokok yang tidak dapat
ditunda pemenuhannya.
D. Indikator Kesejahteraan Masyarakat
Pendapatan per kapita sering kali digunakan pula
sebagai indikator pembangunan selain untuk membedakan pendapatan antara
negara-negara maju dan negara sedang berkembang (NSB) atau negara dunia ketiga.
Pendapatan per kapita memberikan gambaran tentang laju pertumbuhan
kesejahteraan masyarakat di berbagai negara dan menggambarkan pula corak perbedaan
tingkat kesejahteraan masyarakat yang sudah terjadi di antara berbagai negara.
Namun, kita harus hati-hati dalam menggunakan pendapatan per kapita sebagai
suatu indikator pembangunan. Sebab ada pendapat yang mengatakan pembangunan
bukan hanya sekedar meningkatkan pendapatan riil saja, tetapi kenaikan tersebut
harus berkesinambungan dan mantap serta harus disertai pula dengan
perubahan-perubahan sikap dan kebiasaan-kebiasaan sosial yang sebelumnya
menghambat kemajuan-kemajuan ekonomi.
Walaupun demikian, pendapatan per kapita sebagai indikator pembangunan,
masih sangat cocok untuk digunakan serta mudah untuk dipahami, dan mungkin
pendapatan per kapita merupakan satu-satunya indikator pembangunan
terbaik yang ada saat ini. Kelebihan indikator ini adalah memfokuskan pada raison
d'etre dari pembangunan, yaitu untuk kenaikan tingkat hidup dan
menghilangkan kemiskinan. Dengan kata lain, pendapatan per kapita bukanlah
suatu proxy yang buruk dari struktur sosial dan ekonomi masyarakat.
Kelemahan pendapatan per kapita sebagai indikator kesejahteraan bersumber
pada anggapan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh besarnya
pendapatan per kapita masyarakat tersebut. Sebenarnya, sudah lama orang
meragukan kebenaran anggapan bahwa tingkat pendapatan per kapita masyarakat
merupakan pencerminan tingkat kesejahteraan yang dinikmati oleh suatu
masyarakat. Namun, walaupun pendapat ini dikatakan tidak benar, akan tetapi
tingkat pendapatan masyarakat masih merupakan salah satu faktor penting untuk
menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Ada
beberapa faktor lain yang sering kali merupakan faktor yang cukup penting juga
dalam menentukan tingkat kesejahteraan mereka, seperti faktor-faktor
non-ekonomi yaitu: adat-istiadat, keadaan iklim dan alam sekitar, serta ada/tidaknya
kebebasan mengeluarkan pendapat dan bertindak.
Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kesejahteraan masyarakat merupakan
suatu hal yang bersifat subjektif. Artinya, tiap orang mempunyai pandangan
hidup, tujuan hidup, dan cara-cara hidup yang berbeda. Oleh karena itu, kita
harus memberikan nilai-nilai yang berbeda pula terhadap faktor-faktor yang
menentukan tingkat kesejahteraan mereka. Seperti ada sekelompok orang yang
menekankan kepada penumpukan kekayaan dan memperoleh pendapatan yang tinggi sebagai
unsur penting untuk mencapai kepuasan hidup yang lebih tinggi. Ada pula
sekelompok orang yang lebih suka untuk memperoleh waktu senggang (leissure
time) yang lebih banyak dan enggan bekerja lebih keras untuk memperoleh
pendapatan yang lebih tinggi.
Pada umumnya bertambah tingginya tingkat kesejahteraan masyarakat biasanya
diikuti pula oleh pengorbanan moral dan usaha yang lebih banyak. Di satu pihak
pembangunan ekonomi akan mempertinggi kesejahteraan masyarakat, tetapi di lain
pihak tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi ini harus dicapai dengan beberapa
pengorbanan dalam perilaku hidup masyarakat. Hal tersebut sesuai dengan
pendapat Arthur Lewis: "...... like
every thing else, economic growth has its costs", yang berarti bahwa
pembangunan ekonomi di samping memberi manfaat kepada masyarakat, juga
membutuhkan pengorbanan-pengorbanan.
Nilai pendapatan per kapita sebagai indeks untuk menunjukkan perbandingan
tingkat kesejahteraan dan jurang (gap) tingkat kesejahteraan
antarmasyarakat mempunyai kelemahan. Kelemahannya, yaitu mengabaikan adanya
perbedaan-perbedaan antara berbagai negara seperti, struktur umur penduduk,
distribusi pendapatan masyarakat nasional, metode perhitungan pendapatan, dan
perbedaan nilai mata uang (kurs) dengan misalnya mata uang dolar Amerika
Serikat.
Di negara sedang berkembang (NSB), biasanya proporsi penduduk di bawah umur
dan orang usia muda lebih tinggi daripada di negara-negara maju. Dengan
demikian, perbandingan pendapatan setiap keluarga di kedua kelompok negara itu
tidaklah seburuk seperti yang digambarkan oleh pendapatan per kapita mereka.
Jika suatu keluarga terdiri dari 5 orang berpendapatan Rp1 juta dan keluarga
lain terdiri dari 3 anggota keluarga dengan pendapatan yang sama maka ada
kemungkinan keluarga yang terdiri dari 5 orang tersebut mempunyai tingkat
kesejahteraan yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan selain tingkat pendapatan
itu sendiri, distribusi pendapatan merupakan faktor penting lainnya yang
menentukan kesejahteraan masyarakat. Faktor ini sering tidak diperhatikan dalam
membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan perubahannya dari waktu ke
waktu jika indeks yang digunakan adalah tingkat pendapatan per kapita.
Berdasarkan pengalaman sejarah negara-negara maju, pada tingkat awal
pembangunan ekonomi distribusi pendapatan ini akan buruk, tetapi pada akhirnya
distribusi pendapatan itu menjadi semakin baik. Namun, pengalaman sejarah
negara-negara maju tersebut tidaklah dialami oleh NSB. Perkembangan di banyak
NSB menunjukkan bahwa dalam proses pembangunan tersebut justru distribusi
pendapatannya menjadi lebih tidak merata.
Keadaan ini menimbulkan ketidakpuasan terhadap usaha-usaha pembangunan di
beberapa NSB, karena usaha-usaha pembangunan tersebut dianggap hanya
menguntungkan sebagian kecil anggota masyarakat.
Beckerman dalam penelitiannya, membedakan cara-cara untuk membandingkan
tingkat kesejahteraan ke dalam 3 kelompok:
1. Kelompok
pertama merupakan usaha
untuk membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat di dua atau beberapa
negara dengan memperbaiki cara-cara yang dilaksanakan dalam perhitungan
pendapatan nasional biasa. Usaha ini dipelopori oleh Colin Clark dan
selanjutnya disempurnakan oleh Gilbert dan Kravis.
2. Kelompok
kedua adalah usaha untuk
membuat penyesuaian dalam pendapatan masyarakat yang dibandingkan dengan
mempertimbangkan perbedaan tingkat harga di setiap negara.
3. Kelompok
ketiga adalah usaha untuk
membuat perbandingan tingkat kesejahteraan dari setiap negara berdasarkan pada
data yang tidak bersifat moneter (non-monetary indicators), seperti
jumlah kendaraan bermotor, konsumsi minyak, jumlah penduduk yang bersekolah,
dan sebagainya. Usaha ini dipelopori oleh Bennet.
Menurut Beckerman, dari berbagai cara di atas, cara yang dilakukan oleh
Gilbert dan Kravis adalah cara yang paling sempurna. Cara ini merupakan usaha
untuk membandingkan tingkat kesejahteraan dan pembangunan di beberapa negara
dengan memperbaiki metode pembandingan dengan menggunakan data pendapatan
nasional dari masing-masing negara. Namun, cara ini memerlukan data yang sangat
lengkap untuk penghitungan kembali pendapatan nasional yang dinilai berdasarkan
tingkat harga di negara lain.
Untuk itu Beckerman mengemukakan cara lain dalam membandingkan tingkat
kese-jahteraan masyarakat di berbagai negara, yaitu dengan menggunakan data
yang bukan bersifat moneter untuk menentukan indeks kesejahteraan masyarakat di
tiap-tiap negara. Cara ini dinamakan "Indikator Bukan Moneter yang Disederhanakan" (Modified non-monetary
indicators).
Dengan cara tersebut, indeks tingkat kesejahteraan dari setiap negara
ditentukan berdasarkan tingkat konsumsi atau jumlah persediaan beberapa jenis
barang tetlentu yang datanya dapat dengan mudah diperoleh di NSB. Data tersebut
adalah:
1. Jumlah konsumsi baja dalam satu
tahun (kg).
2. Jumlah konsumsi semen dalam satu
tahun dikalikan 10 (ton).
3. Jumlah surat dalam negeri dalam
satu tahun.
4. Jumlah persediaan pesawat radio
dikalikan 10.
5. Jumlah persediaan telepon
dikalikan 10.
6. Jumlah persediaan berbagai jenis
kendaraan.
7. Jumlah konsumsi daging dalam satu
tahun (kg).
Usaha lain dalam menentukan dan membandingkan tingkat kesejahteraan
antar-negara telah dilakukan pula oleh United Nations Research Institute for
Social Development (UNRISD), yang berpusat di Jenewa, pada tahun 1970.
Dalam penelitian tersebut yang dilakukan adalah menciptakan indeks taraf
pembangunan dari negara-negara maju dan NSB berdasarkan kepada sifat dari 18
jenis data berikut di tiap-tiap negara, seperti:
1. Tingkat harapan hidup (life expectancy).
2. Konsumsi protein hewani per kapita.
3. Persentase anak-anak yang belajar di
sekolah dasar dan menengah.
4. Persentase anak-anak yang belajar di
sekolah kejuruan.
5. Jumlah surat kabar.
6. Jumlah telepon.
7. Jumlah radio.
8. Jumlah penduduk di kota-kota yang
mempunyai 20.000 penduduk atau lebih.
9. Persentase laki-laki dewasa di
sektor pertanian.
10. Persentase tenaga kerja (dari keseluruhan tenaga kerja yang mempunyai
pekerjaan) yang bekerja di sektor listrik, gas, air, kesehatan, pengangkutan,
pergudangan, dan komunikasi.
11. Persentase tenaga kerja (dari
keseluruhan tenaga kerja yang mempunyai pekerjaan) yang memperoleh gaji.
12. Persentase Produk Domestik Bruto
(PDB) yang berasal dari industri-industri pengolahan (manufacturing).
13. Konsumsi energi per kapita.
14. Konsumsi listrik per kapita.
15. Konsumsi baja per kapita.
16. Nilai per kapita perdagangan luar negeri.
17. Produk pertanian rata-rata dari pekerja laki-laki di sektor pertanian.
18. Pendapatan per kapita Produk Nasional Bruto (PNB).
Jika indeks pembangunan yang diusulkan UNRISD tersebut digunakan sebagai
indikator kesejahteraan atau pembangunan maka perbedaan tingkat pembangunan
antara negara-negara maju dan NSB tidaklah terlampau besar seperti yang
digambarkan oleh tingkat pendapatan per kapita mereka masing-masing.
Langganan:
Postingan (Atom)
-->