Cuaca saat itu benar-benar panas. Meski hari menjelang sore, namun teriknya matahari masih bias kurasa meski aku ada di dalam mall yang ber AC.
“ Intan, ayo beli es krim! “. Rengekku bak baby.
“ Bentar, gue masih mau belanja ni……. “ “ Ayo dong…. panas nih…. “
kataku seraya menarik tangannya ke kedai es krim langgananku.
Sembari menunggu Intan yang sedang memesan es krim, ku dudukkan tubuhku di salah satu bangku kedai.
“ Ih… sore-sore gini kok masih pacaran sih!... anak SMP lagi,! Masih pake’ seragam pula! “
kataku heran melihat sepasang remaja yang masih mengenakan seragam putih biru tengah berpacaran.
“ Woe! Bengong aja, merhatiin apaan sih?... “
kata Intan mengagetkan dengan 2 gelas es krim di tangannya.
“ Ih! Intan apaan sih?... kaget tau!”. “ Makanya, jangan bengong, Rin.... Rin…. “.
Nampaknya Intan mencari tahu apa yang sebenarnya bikin aku bengong.
“ Ow… loe lagi nglatin orang pacaran…., kenapa? Pengen?.. “
kata Intan sembari menaik turunkan alisnya sambil meringis.
“ Ih! Apaan sih loe! Pengen?... ya nggaklah! Kan udah berulang kali gue bilangin gue nggak mau pacaran sebelum lulus SMP, bisa ganggu sekolah kita tau……”. “ Ow… gue pegang lho ya omongan loe….. tapi Rin! Pacaran itu enak lho…. Bener! “
kata Intan terus menggoda.
Akupun hanya diam tak peduli dengan bibir manyun dan mengduk aduk es krim di depanku.
“ Eh Tan! Besok anter gue ke Toko buku dong…. “
“ Toko buku? Kenapa nggak sekarang aja?....”
“ Nggak bias! Gue mesti pulang sekarang!,, loe mau kan ?... “
“ Aduh! Sorry banget!, besok gue ada janji ama cowok gue…. “
“ Apa! Loe udah punya cowok?... berani pacaran loe?....”
“ Udahlah, kan tadi udah gue bilangin pacaran itu enak! Masa” loe gak ngerti?... “ “ ih! Dasar loe Tan! Genit loe, kecil-kecil udah berani pacaran! Kalo gue sih nggak mau! “
“ Ye… kok genit sih…. Anak SMA aja udah banyak yang pacaran, apalagi gue anak SMP! “
“ Gue kan juga anak SMP, tapi nggak minat tuh buat pacaran! “.
“ Itu karena loe masih kaya’ anak kecil! “. “ Enak aja loe!”
“ Loe jangan sok Rin, kepentok cinta baru tau rasa loe! “
akupun hanya manyun di hadapannya.
Keesokan harinyapun, sepulang sekolah aku langsung meluncur ke took buku sendirian. Disana aku menjumpai buku yang sangat menarik, best seller. Tapi buku itu terletak di deretan rak paling atas. Aku pun jinjit-jinjit untuk bias mencapainya.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengambilkan buku itu untukku.
“ Oh my god! Cakep banget…. “ gumamku terpesona menatapnya.
“ Nih bukunya! “ katanya dengan senyum ramah yang manis.
“ Makasih! “ kataku meringis salah tingkah.
Iapun mengulurkan tangannya.
“ Bagus ! “ katanya mengajakku berkenalan. “ Karin! “ balasku sembari menjabat tangannya.
Sore itupun akhirnya aku tidak sendirian, karena ada Bagus yang bersedia menemaniku. Meski awalnya aku merasa kikuk namun lama kelamaan aku bisa berbincang akrab dengannya, bahkan kami saling memberi nomer handphone kami masing-masing. Sebelum kami berpisah, iapun meneraktirku makan es krim terlebih dahulu.
***
Sebulan sudah kami saling mengenal, dan sebulan itupun membuat kami semakin
dekat. Hingga akhirnya dia bilang cinta padaku dan dia ingin aku menjadi pacarnya.
Akupun menerimanya untuk menjadi pacarku, tepatnya pacar dan cinta pertamaku. Namun ada satu masalah yang mengganjal hubungan kami. Prinsip! Ya, prinsipkulah yang mengganjal hubungan kami, prinsip untuk tidak berpacaran sebelum tamat SMP. Dan itupun memaksaku untuk mengajaknya backstreet dari orang orang di sekelilingku. Iapun mau menerimanya, meskipun pada awalnya ia menolak. Keesokan paginya, aku pun sudah siap dengan putih biru ku. Saat itu kuputuskan untuk pergi ke sekolah dengan berjalan kaki namun, di perempatan dekat rumahku kulihat Bagus tengah menungguku,., kuhampiri Bagus . " Bagus ! Kamu ngapain disini? ".
" Aku mau nganter kamu ke sekolah. "
Pagi
itupun aku berangkat sekolah bersama dengannya.
" Hati hati ya beib, belajar yang bener!. " katanya begitu sampai digerbang sekolah.
" Bagus , jangan panggil aku beib d0ng... Geli...! " kataku memanja.
" Dasar kamu anak kecil! " katanya sembari membelai rambutku dan tersenyum manis.
" Hati-hati ya... Bye.." kataku tersenyum manis dengan tangan kanan melambai ke arahnya.
Baguspun berlalu dari hadapanku dan masuk ke kelasnya, kelas VIIIE Tiba tiba Intan datang menghampiriku.
" Rin, siapa tu? Pacar loe? " tanya Intan mengagetkanku.
Sontak akupun merasa gugup, aku bingung harus menjawab apa, aku tak mau Intan tau kalau aku telah melanggar prinsipku, lagipula pasti aku akan di tertawakan.
" Nggak, nggak mungkinlah gue punya pacar, gue kan belum... "
" Belum lulus SMP kan ... Ah, basi loe! " katanya melanjutkan kalimatku.
" Terus tadi siapa?" "ow.. Itu tadi, itu tadi temanku dari kelas sebalah"
jawabku gugup. " Loe nggak bohong kan ? " " Ha... nggak, nggak, gue nggak bohong!" "ya, bagus deh.. Gue titip salam ya.." katanya tersenyum. Akupun hanya diam tak mempedulikan kata katanya sambil nyengir.
Keesokan paginya aku kembali berjalan bersama dengan Bagus ke sekolah dan tak ku sangka Intan tengah berdiri di depan gerbang sekolah. Iapun melihat kedatanganku.
" Rin! Sini! " panggil Intan padaku yang masih bergandengan tangan, tersentak ku melepaskan genggamannya dan menghampirinya. " Ada apa Tan?" " Kenalin gue dong.. Sama dia! Ya., " katanya memohon. Seketika hatikupun serasa tersulut api. Tersulut api cemburu.
" Loe kan udah punya pacar! " kataku mencari alasan.
" Nggak! Gue udah putus! Kenalin Rin... Please.. " katanya memelas.
Akhirnya dengan berat hati ku panggil Bagus agar mendekat dengan kami.
" Bagus, kenalin ini temen aku, Intan " " Intan," " Bagus "
Kulihat mereka saling berjabat tangan. Intan pun nampak begitu senang hingga ia tak kunjung melepas tangan Bagus . Aku pun berpura pura batuk. " Ehm! "
seraya Intanpun melepaskan tangannya. Bagus pun hanya tersenyum.
" Udah ah Tan, masuk yuk! " kataku seraya menarik tangannya meninggalkan Bagus berjalan sendirian masuk sekolah. " Sumpah Rin.. Dia cakep banget, kayaknya gue jatuh cinta deh ama dia, aku tak pernah tahu ada cowok sekeren itu di sekolah kita! " katanya sumringah.
" Apa! Jatuh cinta? " kataku kaget bagai di sambar petir.
Intan pun hanya diam dengan senyum khas orang yang lagi kasmaran.
" pokoknya loe mesti bantuin gue ngedapetin Bagus , ya Rin?! " kata Intan menggebu gebu.
Sekuat tenaga aku pun membendung air mataku yang hampir jatuh karene merasa cemburu. Keesokan paginya, Intan pun sudah bersiap menunggu kedatanganku di depan sekolah. Namun saat itu aku tidak barengan dengan Bagus, tentu saja aku datang sendirian .
" Rin, loe nggak sama Bagus ? " tanya Intan menyambutku.
" Nggak, katanya dia brangkat agak siangan jadi kami tidak bersama! "
" Ya udah, kalo gitu gue titip surat ini aja ya buat dia.. " katanya sembari memberikan sepucuk surat dengan amplop warna pink.
" thanks ya.. " katanya dengan senyum.
Akupun cuma bisa nyengir menahan amarah. Aku merasa cemburu. Sebelum ku serahkan surat itu pada Bagus, terlebih dulu ku baca isi surat itu. Ternyata itu adalah surat cinta. Intan mengungkapkan semua perasaannya terhadap Bagus lewat surat itu. Hatiku pun hancur berkeping keping. Air mataku pun tak kuasa lagi ku bendung. Aku merasa hatiku benar benar terluka. Aku pun menelpon Bagus dan mengajaknya bertemu di taman dekat rumahku.
***
" Ada apa Rin? " tanya Bagus yang melihatku tengah menangis.
Seraya ku peluk tubuhnya erat erat. " Ada apa? Kamu ngomong d0ng...! ".
Aku pun melepas pelukannya, ku berikan surat dari Intan pada Bagus . Bagus pun segera membacanya. " bagus , aku mau kita putus! " kataku dengan pipi basah.
" Putus, kenapa? Karena Intan? " Akupun menganggukkan kepalaku.
" Rin! Nggak bisa gitu dong, aku masih sayang kamu! "
" Nggak Gus , kita harus putus, Intan sahabat aku dan aku mau kamu bisa jadian ama dia, aku nggak mau dia sedih dan kecewa, toh emang udah prinsip aku untuk nggak pacaran sebelum lulus SMP! "
" Jadi kamu tega ngorbanin aku, pacar kamu sendiri demi prinsip konyol kamu itu? Okay, fine.. Kita putus, tapi aku nggak akan pernah deketin Intan apalagi pacaran sama dia karena aku masih cinta sama kamu tapi karena udah keputusan kamu buat mertahanin prinsip kamu itu, aku akan menjauh dari kehidupan kamu juga Intan, selamat tinggal! " kata Bagus dengan tegas meski ku lihat ada
linangan air mata yang tertahan di sudut matanya seraya pergi meninggalkan aku sendiri dalam tangis.
Aku sadar ini semua memang salahku. Dan karena prinsip konyolku itu, aku telah membuat tiga hati terluka. Bagus , Intan, dan aku sendiri.
-The End-
-->
Tidak ada komentar:
Posting Komentar